Oleh : Mumtazah

Pihak berwenang Bangladesh mulai memindahkan ribuan pengungsi Rohingya ke pulau terpencil meskipun ada kekhawatiran tentang keamanan mereka.aSekitar 1.600 pengungsi dipindahkan ke Pulau Bhasan Char, sebuah pulau yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal, pada Jumat (04/12), menurut laporan kantor berita Reuters.

Pengungsi Rohingya di Bangladesh mengatakan kepada BBC pada Oktober bahwa mereka tidak ingin dipindahkan ke pulau itu.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan telah diberikan “informasi terbatas” tentang relokasi dan tidak terlibat dengan relokasi itu. (www.viva.co.id, 06/12/2020)

Yang lebih menyayat hati adalah sikap para pemimpin negeri muslim. Bukannya memberikan perlindungan dan memenuhi kebutuhan asasinya, layaknya saudara. Justru yang terjadi sebaliknya, para pengungsi itu dianggap sebagai beban negara yang harus dibuang. Termasuk apa yang dilakukan pemerintah Bangladesh yang seolah membuang ribuan kaum Rohingya ke sebuah pulau yang tak layak huni.

Di negara mereka sendiri yaitu Myanmar, warga Rohingya dianggap sebagai imigran ilegal dari anak benua India. Mereka mengurung warga Rohingya di puluhan ribu kamp konsentrasi yang tersebar di negara bagian Rakhine untuk memisahkan warga minoritas muslim ini dari populasi Buddha di sana (republika.co.id, 13/06/2019).

Penindasan yang dialami oleh Etnis Rohingya terjadi dalam rentang waktu yang sangat lama. Mereka sering disebut sebagai “etnis paling teraniaya di dunia”. Rohingya diduga berada di Rakhine sejak zaman pendudukan Inggris, namun ada juga yang menyebut mereka sebagai suku asli Rakhine.
Sekitar 800 ribu hingga 1,1 juta etnis Rohingya tinggal di Rakhine, 500 ribu di Bangladesh. Pada insiden tahun 1982, Rohingya tidak termasuk dalam 135 etnis yang diakui di Myanmar.

Berpuluh-puluh tahun teriakan “SOS” (Save Our Souls) dari warga muslim Rohingya telah nyata-nyata terdengar ke seluruh dunia, sampai-sampai mereka harus menjadi “manusia perahu”, tak tahu harus mencari pertolongan kepada siapa lagi.
Konsep “nation state” (negara bangsa) semakin mempersulit negara-negara lain untuk menolong warga muslim Rohingya, padahal kondisi mereka saat ini sudah sangat memprihatinkan.

Masalah Rohingya tidak bisa diselesaikan hanya dengan upaya repatriasi dari ASEAN. Ataupun dengan konvensi yang dihasilkan oleh PBB. Sudah saatnya seruan “Khilafah untuk Rohingya!” kita gaungkan ke seluruh penjuru dunia karena hanya Khilafah yang akan bisa menolong warga muslim Rohingya dari ketertindasan selama ini.

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari-Muslim).

Dengan demikian Khilafah akan melindungi darah seluruh kaum muslimin, melindungi mereka dari segala bentuk penindasan terutama dari kaum kafir.