Oleh: Sunaini, S.Pd (Aktivis Muslimah Kota Batam)

Berbicara mengenai data, data merupakan sumber informasi atau pernyataan yang diterima secara apa adanya. Data juga dijadikan sebagai pengetahuan bagi yang mendengar maupun yang membacanya.

Menurut bahasa, data merupakan bentuk jamak dari kata datum (bahasa latin) yang berarti sesuatu yang diberikan. Menurut istilah, pengertian data adalah kumpulan informasi atau keterangan-keterangan yang diperoleh dari pengamatan, informasi itu bisa berupa angka, lambang atau sifat. 

Masih membahas data tentang corona, dikutip dari media Liputan 6, bahwa Presiden Jokowi terlihat begitu kecewa dan kesal, beliau mengatakan, “Ini semuanya memburuk semuanya!”  (30/11/20). Presiden Jokowi juga menyampaikan data Covid-19 yang naik dan memburuk. Dia menyinggung persentase rata-rata kasus aktif yang meningkat menjadi 13,41 persen. Minggu yang lalu masih 12,78 persen.

Senada dengan hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah (Jateng) Yulianto Prabowo mengatakan data ganda menjadi penyebab jumlah kasus positif Covid 19, di Jateng meningkat drastis. Berdasarkan data Satgas Covid-19, Jateng menjadi penyumbang kasus positif terbanyak dengan 2.036 orang pada Minggu 29 November (CNN.com. 10/12/20)

Dari beberapa sumber yang disebutkan di atas jelaslah bahwa adanya kekeliruan dalam penyajian data. Seharusnya sebelum data itu disajikan atau disebarluaskan hendaknya diperiksa dan diteliti terlebih dahulu. Apalagi data yang berkaitan dengan nyawa manusia, bukanlah hal yang seharusnya dimanipulasi sesuka hati dan tidak teliti.
Sebagai penyaji data yang sudah ditunjuk menyangkut informasi yang dibutuhkan masyarakat seharusnya amanah. Dalam Islam amanah dan sikap terbuka serta jujur sangat dibutuhkan apalagi menyangkut urusan banyak orang. Maka dari itu kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi. Apalagi hal ini berkaitan dengan nyawa manusia.

Kecerobohan dalam menginput data membuat pandangan masyarakat (umat) menjadi memudar kepada pemerintah. Begitulah kondisi negeri demokrasi saat ini. Mulai dari dana bantuan corona yang semerawut hingga data yang tidak akurat. Sistem demokrasi membuktikan bahwa ia telah gagal mengurusi urusan umat. Sangat berbeda dengan islam.

Islam sangat mengedepankan amanah dalam segala aktivitas apalagi yang berkaitan dengan politik atau banyak orang. Karena semua perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban di yaumil hisab nanti. Jelas, ketika ada orang yang tidak jujur dan amanah maka ia juga termasuk ke dalam golongan orang munafik.

Sebagaimana dalam sebuah hadist, Abu Hurairah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَثَ كَذِبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”(Muttafaq Alaihi).

Maka dari permasalahan ini, seharusnya kita menjadikan islam sebagai solusi dari segala permasalahan yang terjadi, karena dalam islam sikap amanah dan jujur sangat tinggi nilainya.

Kita berharap adanya solusi tuntas dari pemerintah untuk menyelesaikan pandemi ini secara cepat. Sudah saatnya negeri demokrasi ini berganti dengan sistem Islam yang mampu menyelesaikan urusan umat sampai ke akar-akarnya dalam semua aspek kehidupan.

Wallaahu’alam bisshowab.