Oleh : Hervilorra Eldira


VIVA – Seorang perempuan yang diduga stres karena faktor ekonomi tega membunuh ketiga anak kandungnya. Perempuan 30 tahun itu melakukan aksi pembunuhan tersebut di rumahnya di Desa Banua Sibohou, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Ketiga korban masing-masing berinisial YL (5), SL (4), dan DL (2). Peristiwa terjadi pada Rabu kemarin, 9 Desember 2020. Di Kabupaten Nias Utara diketahui tengah melaksanakan pemilihan bupati dan wakil bupati. “Kejadian itu, terjadi saat ayah korban sedang menggunakan hak pilihnya ke TPS kemarin,” kata Paur Humas Polres Nias, Aiptu Yadsen Hulu kepada wartawan, Kamis, 10 Desember 2020.

Menyusul beberapa hari kemudian, pelaku tewas di RSUD Gunungsitoli, Sumatera Utara pada Minggu pagi 13 Desember 2020, sekitar Pukul 06.10 WIB setelah beberapa kali mencoba bunuh diri namun berhasil digagalkan. Memang sangat tragis, disaat suami pelaku memberikan hak suaranya dalam momentum pilkada berharap nasib mereka berubah setelah pemimpin harapan mereka menang, namun justru bencana yang tak terbayang yang diterima.

Kejadian pembunuhan dengan pelaku orang terdekat sendiri mengalami kenaikan di masa pandemi saat ini. Faktor ekonomi menjadi faktor terbesar. PR tentang pemerataan kesejahteraan memang sulit diselesaikan. Apalagi dalam sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini. Seperti yang pernah dikatakan oleh Anthony Giddens “demokrasi justru tidak berjalan dengan baik karena institusi demokrasi seperti partai politik atau penguasa nyatanya tidak peduli dengan demokrasi itu sendiri karena yang paling penting bagi penguasa adalah tercapainya tujuan kekuasaan. Tiga kondisi itu secara tidak langsung menyebabkan empat krisis, yaitu krisis ekologis, krisis kemiskinan dengan skala yang terus semakin membesar, krisis kekerasan yang semakin meluas, dan krisis karena meluasnya tekanan terhadap hak demokrasi yang mengakibatkan adanya ketidakmampuan untuk mengembangkan potensi manusia.”

Demokrasi merupakan sistem yang tidak sempurna dan memiliki sejumlah kecacatan. Cacat tersebut terdapat di hampir seluruh aspek dari demokrasi itu sendiri. Hal ini karena tidak lain demokrasi lahir dari asas sekularisme yang memisahkan peran agama dalam kehidupan. Demokrasi memberikan hak membuat hukum pada manusia yang secara alamiah bersifat terbatas. Maka hukum dan segala mekanisme yang mengikuti demokrasi akan berujung pada kecacatan sistemik. Begitu pula kesejahteraan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi ilusi di negeri ini yang mengabdikan dirinya pada sistem tersebut.

Islam adalah sistem yang berasal dari Sang Maha Adil. Karenanya hanya Dia yang boleh membuat hukum, Allah SWT. Islam memandang bahwa kekuasaan itu adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah SWT. Maka siapa saja yang diberikan kekuasaan untuk mengurus rakyat maka dia harus mengurus dengan hukum yang telah ditetapkanNya, bukan yang lain. Inilah yang membuat keadilan itu merata dan terjaga. Termasuk keadilan dalam hal pengeloaan ekonomi. Telah lengkap dan paripurna Sistem Islam beserta institusinya yaitu Khilafah Islamiyah. Sejarah Islam dan Khilafahnya yang ditulis dengan tinta emas, bahkan telah diakui oleh kaum orientalis barat skalipun. Jika kita mau untuk menegakkannya, maka kesejahteraan rakyat bukan lagi menjadi ilusi lagi.

Wallahu a’lam.