Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

Peran dan posisi Ulama sangat penting sebagai pengawal dan pengoreksi penguasa dengan tujuan tak lain dan tak bukan hanyalah agar penguasa dan kekuasaannya hanyalah agar penguasa dan kekuasaannya berjalan sesuai syariah Islam.

Jika kita mau belajar dari sejarah dan masa lalu, tentang sabda Rasulullah Saw yang artinya, “Sungguh para ulama itu adalah pewaris para nabi” HR Abu Dawud dan At Tirmidzi. Dengan begitu maka orang-orang yang beriman dan menguasai hukum syariah akan senantiasa Istiqomah dan konsisten terhadap kebenaran.

Satu hal yang penting saat ini adalah peran ulama terhadap penguasa. Tentunya seorang ulama tidak akan tinggal diam terhadap kedzaliman dan ketidakadilan yang terjadi di negeri kita tercinta ini. Apalagi mendukung terjadinya ketidakadilan dan kedzaliman, ini adalah hal yang dianggap hina dan rendah di mata agama Islam.

.Allah SWT berfirman yang artinya, “Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang berbuat kedzaliman yang dapat mengakibatkan kalian disentuh api neraka” TQS Hud 113. Nah atas dasar inilah seorang ulama wajib mengawal kekuasaan. Oleh karena itu, maka peran ulama sebagai pewaris para nabi yang senantiasa akan memastikan penguasa menjalankan kewajiban sesuai dengan syariah Islam.

Dengan demikian, maka jika ada penguasa yang melakukan penyimpangan bahkan kedzaliman, ulama harus berada di garda paling depan untuk meluruskan penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa. Oleh sebab itu, maka ulama tidak boleh lemah, harus tetap melakukan koreksi terhadap penguasa sehingga penguasa kembali menjalankan syariah Islam.

Ciri-ciri yang harus dimiliki seorang ulama di hadapan penguasa. Pertama, ulama memberi loyalitasnya hanya untuk Islam. Ulama harus bersikap kukuh terhadap kebenaran dan tidak boleh lemah terhadap kedzaliman penguasa, walau nyawa mereka sebagai taruhannya.

Ke dua, ulama harus mengawal kekuasaan Bahar tetap berjalan di atas syariah Islam. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan oleh ulama terhadap penguasa. Misalnya, perilaku penguasa, kebijakan penguasa, dan orang-orang yang berada di sekitar penguasa. Ke tiga, ulama harus menjadi garda terdepan dalam mengoreksi penguasa dzalim. Maka dari itu, ulama telah melakukan pencegahan sumber kerusakan.

Dengan demikian hendaknya seorang ulama harus memiliki sikap terhadap penguasa antara lain, pertama ulama haram hukumnyya menjadi ulama su’ yaitu ulama yang menafsirkan hukum syariah sesuai keinginan manusia (baik penguasa, sesama ulama, pejabat dan lain-lain).

Ke dua, seorang ulama dilarang menjadi alat penguasa untuk memecahbelah umat. Ke tiga, ulama tidak boleh menggunakan agama untuk kepentingan dunia sebab cinta dunia itu merupakan akar dari segala keburukan.

Hal semacam ini tidak akan tercapai yaitu penguasa yang senantiasa menjalankan kekuasaannya sesuai syariah Islam dan ulama yang menjadi pengawal serta pengorekai penguasa jika sistem yang diterapkan bukan sistem Islam.

Dengan kata lain, semua ini akan tercapai jika sistem Islam diterapkan di sebuah negara. Sehingga Islam dapat diterapkan dalam segala aspek kehidupan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran. Semoga para ulama di negeri kita tercinta ini, menjalankan peran yang sesungguhnya. Aamiin