Oleh: Armina Ahza ( Aktivis Dakwah)

Sejak tahun 1970-an Muslim Rohingya telah mengalami kedzoliman hingga saat ini. Berawal dari berdirinya negara Burma yang kemudian menuai upaya pengusiran etnis Hindu Terhadap kaum Muslim Rohingya dari pemerintah Myanmar.

Tahun 2017 adalah kedzoliman terbesar, PBB menggambarkan bahwa Rohingya merupakan kelompok yang paling teraniaya di dunia.

Sebagaimana yang diberitakan di situs Repubilka.co.id, menurut Amnesty International pada tahun 2012 lebih dari 769.000 pengungsi melarikan diri dari Myanmar dan menyebrang ke Bangladesh hingga jumlah pengungsi melebihi 1,2 juta. Hampir 24 ribu Muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan Myanmar

Menurut laporan Ontario International Development Agency (OIDA)
Di Indonesia sendiripun, TNI akui minta kapal pengungsi Rohingya untuk tidak mendarat di Indoensia sebagaimana yang diberitakan bbcnews pada tahun 2015. Setelah mendapatkan angin segar atas pertolongan negeri-negeri kaum muslim menerima pengungsi dari Rohingya, kini Muslim Rohingya mengalami kedzoliman lagi, salah satunya di Bangladesh. (viva.com, 6/12/2020)

Muslim Rohingya akan diungsikan di pulau terpencil yang tak layak huni dan mudah terkena banjir yaitu pulau Bahsan Char Bahkan menurut Human Right Watch, Amnesty International dan Fourtify Right sangat menentang relokasi para pengungsi Rohingya ke pulau itu (okezone.com, 5/12/2020)

Ikatan Nasionalisme melemahkan Persatuan Ukhuwah

Dari fakta diatas menunjukkan bahwa atas nama Nasionalisme membuat negeri-negeri muslim menganggap Pegungsi Muslim Rohingya adalah beban bagi Negara.
Selain harus menyediakan tempat untuk para pengungsi juga harus mengurusi keberadaan mereka di tempat yang ia tinggali.

Anggapan hal ini bisa menambah anggaran pengeluaran negara atau mempersempit gerak negara, maka Muslim rohingya harus merasakan tidak diterima dengan baik atas nama nasionalisme.
Hanya karena mereka bukan warga negara Bangladesh, Indonesia, Malaysia dan berbagai negeri-negeri muslim lainnya.

Hal ini menunjukkan Nasionalisma tengah menjerat dan memeksa Bangladesh dan negeri-negeri kaum muslim mendzolimi Muslim Rohingya, meski Muslim Rohingya tengah membutuhkan uluran tangan.

Nasionalisme menghalangi negeri-negeri muslim untuk menolong pengungsi Rohingya, saudara seiman dan seakidah.
Saat ini Muslim Rohingya tidak hanya butuh pertolongan dalam jeratan Nasionalisme, yang akan mempertimbangkan pertolongan dengan kemanfaatan negara

Jika negara merasa tidak mampu atau merasa dirugikan maka pemimpin di negeri yang terjerat ikatan nasionalisme akan mudah melepaskan pertolongannya atas muslim Rohingya.

Nasionalisme hanya ada dalam konsep persatuan antar negrara hari ini dengan sistem kapitalis global. Membagi negara menjadi skat-skat terpisahkan atas nama kemerdekaan dan kemajuan bangsanya.

Selama persatuan dengan asas kapitalis (untung-rugi) berlaku didunia maka persatuan tidak tercapai utuh, karna pertimbangan kemanfaatan atau untung ruginya.

Sistem Berideologi Islam Menyatukan Umat Dengan Khilafah

Oleh karena itu Muslim Rohingya membutuhkan pertolongan yang tidak mempertimbangkan kemanfaatan. Pertolongan yang benar-benar hadir karena ingin mengurusi Muslim Rohingya, bukan atas dasar nasionalisme.

Sudah sangat jelas dibahas dalam buku Nizham Islam karya Syekh Taqiyuddin bab Kepemeimpinan Berfikir, bahwa manusia akan selalu terikat sehingga ikatan yang mampu menyatukan adalah ikatan yang sesuai fitrah. Maka ikatan islam yaitu dengan aqidahnya yang mampu menyatukan.

Ikatan kesukuan, ikatan kemaslahatan, ikatan kerohanian, ikatan kekeluargaan bahkan nasionalisme, seluruh ikatab tersebut tidak layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya, karna bersifat sementara dan ketika ikatan tersebut berlaku pada masalah yang dihadapi. Ikatan yang mampu mengikat sejatinya harus berdasarkan aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan atasnya untuk kehidupan , inilah yang disebut dengan ikatan ideologis (ada ide dasar dan tata cara menerapkan)

Islam sebagai penyempurna yang diturunkan beserta aturan, layak dijadikan sebagai ideologi, peraturan yang lahir lahir dari aqidah untuk memecahkan problematika kehidupan. Semua peraturan itu tertuang dalam syariat dengan rujukan pemberlakuan dalilnya.

Kaum muslim sejatinya tidak bisa lepas dan tidak melepaskan aqidah atau ikatan ideologi islam dalam kehidupannya, untuk mencapai persatuan umat satu kesatuan, khairu ummah. Aturan itu harus diterapkan untuk menyelesaikan persoalan dan membawa pada keberkahan, dalam institusi negara yang berbasis islam yaitu pemerintahan islam (Khilafah)

Bahkan Allah sudah janjikan akan kemenangan kepemimpinan islam untuk seluruh dunia, maka disamping berjuang hari ini kita perlu memohoon ampunan dan pertolongan Allah Ta’ala, pemilik bumi dan seisinya.

Dan untuk itu, pertolongan hanya akan didapat oleh Muslim Rohingya hari ini melalui sistem islam yaitu Khilafah, satu kepemimpinan atas kaum muslim diseluruh dunia.

Khilafah akan dipimpin oleh pemimpin adil yang disebut dengan Khalifah, Khalifahlah yang akan bersedia mengulurkan bantuan terhadap muslim Rohingya tanpa mempertimbangkan nasionalisme. Tanpa melihat apakah yang meminta pertolongan rakyat negerinya atau bukan.

Bagi Khalifah jika ada kedzoliman maka wajib dihancurkan dan diganti dengan Keadilan. Maka berjuang mempercepat tegaknya janji Allah adalah usaha utama kaum muslim dalam kesatuan atasnya.

Wallahu’alam***