Oleh: Dian Puspita Sari
Aktivis Muslimah, Ibu Rumah Tangga

Tiada hari tanpa kasus kriminal, yang memenuhi berita-berita di media cetak dan elektronik, baik koran, televisi, radio maupun media-media online.
Tiada hari tanpa keluh kesah anak negeri.
Tiada hari tanpa rintihan anak negeri.
Itulah yang mengisi hari-hari di negeri kita.

Seperti itulah yang menimpa sebuah keluarga di Sumatera Utara. Diduga stres karena himpitan ekonomi, seorang ibu berinisial MT gelap mata sehingga tega membunuh ketiga anak kandungnya. MT sendiri akhirnya meninggal dunia setelah gagal bunuh diri beberapa kali usai membunuh ketiga anaknya dan enggan makan sejak saat itu.

Pembunuhan anak kandung ini terjadi pada hari Rabu, 9 Desember 2020, di rumahnya, di Dusun II Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara. Ketiga korban masing-masing berinisial YL (5 tahun), SL (4 tahun), dan DL (2 tahun). Saat peristiwa berlangsung, Ayah para korban sekaligus suami pelaku, Nofedi Lahagu alias Ama Fina, pergi ke TPS II Desa Banua Sibohou Rabu pagi sekitar Pukul 09.00 WIB. Dia ikut memilih Bupati dan Wakil Bupati Nias Utara.
(viva.co.id, 13/12/2020)

Sungguh ironis. Di saat sang suami ikut menyoblos dengan harapan mendapat pemimpin baru, istri dan anak-anaknya justru kehilangan harapan untuk hidup. Kisah pilu keluarga di Sumatera Utara ini hanya satu dari sekian banyak kisah serupa yang tampak di permukaan. Himpitan ekonomi kapitalis sekuler yang kian sulit membuat banyak warga kehilangan harapan untuk hidup, sehingga mereka gelap mata dan tega berbuat biadab pada orang-orang tercintanya.

Inilah buah yang dihasilkan pohon bernama Demokrasi yang kapitalis, liberal dan sekuler. Masih banyak buah lainnya yang terus dihasilkannya seburuk kisah pilu keluarga MT di atas. Na’udzubillah min dzaalika. Akankah kita terus bergantung harapan padanya dan membiarkannya terus memproduksi rintihan anak negeri tiada henti?

Stop bergantung harapan padanya. Bergantunglah hanya kepada aturan hidup yang sudah dijamin Allah sempurna. Yaitu kembali kepada syari’at Islam secara kafah.

Allah Swt. berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 208)

Ada banyak keteladanan yang bisa diambil dari kepemimpinan yang adil dalam Islam. Satu contohnya adalah keadilan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Umar mewarisi sifat zuhud kakek buyutnya, Khalifah Umar bin Khaththab. Hingga mereka layak dijuluki dua Umar.

Setelah dibaiat kaum muslimin sebagai Khalifah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berdiri di atas mimbar di hari Jumat. Dia menangis. Di sekelilingnya terdapat para pemimpin, menteri, ulama, penyair dan panglima pasukan. Umar berkata, ”Cabutlah pembaiatan kalian!” Mereka menjawab, ”Kami tidak menginginkan selain anda!” Umar kemudian memangku jabatan khalifah, sedang ia sendiri membencinya. Ia mewarisi sifat zuhud kakek buyutnya, Khalifah Umar bin Khaththab.

Jauh sebelum menjadi Khalifah, Umar kecil hingga masa mudanya sempat menikmati fasilitas mewah sebagai anak pejabat. Umar bisa berganti pakaian lebih dari satu kali. Ia juga memiliki emas dan perak, pembantu dan istana, makanan dan minuman serta segalanya. Akan tetapi, ketika ia memangku jabatan khalifah, semua kemewahan itu ditinggalkannya. Tidak sampai satu minggu ia menjabat sebagai Khalifah, kondisi tubuh Umar melemah dan raut wajahnya berubah.

Sehari-harinya ia tidak mempunyai baju kecuali satu. Jika satu-satunya pakaiannya dicuci, maka tak ada pakaian lagi yang bisa dikenakannya. Orang-orang bertanya kepada istrinya tentang perubahan yang terjadi pada diri khalifah. Istrinya menjawab, ”Demi Allah, ia tidak tidur semalaman. Demi Allah, ia beranjak ke tempat tidurnya, membolak-balik tubuhnya seolah tidur di atas bara api, Ia mengatakan, ”Ah, ah, aku memangku urusan umat Muhammad saw., sedang pada hari kiamat aku akan dimintai tanggung jawab oleh fakir dan miskin, anak-anak dan para janda.”

Khalifah Umar tidak melihat peluang untuk memperkaya diri atau memanfaatkan jabatannya itu, melainkan beban berat yang dipikulnya di hari kiamat kelak. Oleh karena itu, sejarah mencatat, selama kepemimpinan nya, sang khalifah selalu meneladankan hidup sederhana dan mendahulukan kepentingan umat. Hal tersebut ditanamkannya kepada semua anggota keluarganya.

Suatu waktu, usai shalat isya, Umar bin Abdul Aziz biasa masuk menemui putri-putrinya dan mengucapkan salam kepada mereka. Suatu malam, begitu merasakan kedatangan ayahnya, mereka spontan meletakkan tangan mereka pada mulut mereka dan langsung meninggalkan pintu. Umar bertanya pada pembantu wanitanya, ”Ada apa dengan mereka?”
Pembantu wanitanya menjawab, ”Tidak ada yang bisa mereka santap buat makan malam kecuali adas dan bawang. Mereka tidak mau, baunya itu tercium dari mulut mereka.” Umar lantas berkata kepada mereka, ”Hai putri-putriku, apa manfaatnya bagi kalian makan makanan yang enak dan bermacam-macam jika hal itu menyeret ayahmu ke neraka.” Putri-putri Umar itu lalu menangis hingga terdengar keras suaranya, lalu Umar bergegas pergi.

Di lain kesempatan, Yahya bin Said berkata, ”Umar bin Abdul Aziz mengutusku menarik zakat di Afrika maka aku jalankan. Aku mencari-cari sekiranya ada kaum fakir yang dapat kami beri bagian zakat itu, ternyata tidak kami temui orang fakir sama sekali dan tidak aku temui orang yang mau mengambil zakat dariku. Umar bin Abdul Aziz telah membuat rakyatnya kaya dan makmur. Akhirnya, uang zakat itu aku belikan budak dan budak itu aku merdekakan, dan mereka setia pada kaum Muslimin.”

Begitu memegang khilafah, Umar bin Abdul Aziz segera mengembalikan barang-barang yang diambil dengan zalim dan jatah-jatah tanah rakyat yang dikapling-kapling sewenang-wenang atas nama negara. Khalifah sebelumnya, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik, pernah membuat surat perintah untuk memberikan harta kepada Anbasah bin Said bin Ash sebanyak 20 ribu dinar. Anbasah adalah sahabat Umar bin Abdul Aziz. Suatu pagi, Anbasah ingin membicarakan perihal perkara jatah yang diberikan Sulaiman untuknya itu pada Umar bin Abdul Aziz.

Anbasah masuk menemui Umar dan berkata, ”Hai Amirul Mukminin, sesungguhnya Khalifah Sulaiman telah memerintahkan untuk memberi 20 ribu dinar untukku. Aku telah mengurusnya hingga sampai kantor pengesahan dan tinggal menerima uang itu saja, namun beliau lebih dulu wafat. Engkau wahai Amirul Mukminin, lebih utama untuk menyempurnakan pemberian itu padaku. Hubunganku denganmu lebih kuat dan baik daripada hubunganku dengan Sulaiman.”
Umar bertanya, ”Berapa itu?” Anbasah menjawab, ”Dua puluh ribu Dinar.”
Umar berkata, ”Dua puluh ribu dinar yang bisa mencukupi empat ribu rumah kaum Muslimin itu aku berikan pada seorang saja? Maaf, aku tak bisa melakukan itu.”

Selama melaksanakan tugasnya sebagai khalifah, waktunya begitu singkat. Umar bin Abdul Aziz hanya memerintah sekitar dua tahun lima bulan. Dia wafat pada Rajab tahun 101 H/719 M ketika berusia 39 tahun.

Kendati singkat, selama pemerintahannya, umat Islam merasakan ketenangan dan kedamaian. Sebab, sang khalifah telah memberi contoh dan teladan yang luar biasa bagi umat. Setelah wafatnya, kekhalifahan digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik.

Muhammad bin Ali bin al-Husin berkata tentang beliau, “Kamu telah mengetahui bahwa setiap kaum mempunyai seorang tokoh yang menonjol. Dan, tokoh yang menonjol dari kalangan Bani Umayyah ialah Umar bin Abdul Aziz. Beliau akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak seolah-olah beliau satu umat yang berasingan.”

Sejatinya, sifat zuhud, gaya hidup sederhana dan kepekaan tinggi inilah yang harus dimiliki oleh pemimpin dalam mengurusi semua kebutuhan hidup rakyatnya. Pemimpin rela untuk hidup menderita demi kemakmuran rakyatnya. Ia takkan rela membiarkan satu pun rakyatnya menahan lapar, apalagi terhimpit kondisi ekonomi yang sulit dan bikin mereka putus asa. Yang bisa berujung dengan perbuatan kalap pada orang-orang tersayangnya. Pemimpin benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untuk Allah dan kepentingan umat. Pemimpin amanah, jujur dan adil model dua Umar (Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz) hanya ditemukan dalam naungan khilafah. Bukan demokrasi sekuler yang terbukti memupuskan harapan hidup banyak rakyat.

Wallahu a’lam bishawwab.