Oleh : Sunarti

Buku How To Destroy America in Three Easy Steps, karangan Ben Shapiro, salah satu di dalamnya membahas tentang kultur di Amerika. Meskipun buku ini berjudul tiga langkah mudah dalam menghancurkan Amerika, akan tetapi di dalamnya penuh dengan ulasan yang justru bisa menguatkan posisi Amerika sebagai negara adidaya. Dari judul buku, memang telah menarik perhatian, tak ayal jika buku ini bisa menjadi best seller.

Ben Shapiro mengawalinya dengan sebuah pertanyaan :
“Mengapa butuh kultur dari hak-hak jika institusi pemerintah sudah memberi jaminan hak-hak kita, kenapa kita musti punya kultur yang benar?

Jawaban sederhananya: kultur lebih penting daripada perlindungan legal atas kultur tersebut terhadap hak-hak kita. Jika kultur sudah kuat kuranglah penting dari perlindungan legal atas kultur tersebut.

Apa yang disebut kultur Amerika adalah budaya dari hak-hak yang lebih luas dan lebih dalam dari undang-undang/regulasi yang mengatur hak-hak alami manusia tersebut.

Ben Shapiro menyebut Unionist (paham konservatif) bagi para penguat/penjaga berada di empat karakteristik :

  1. Toleransi terhadap hak-hak orang lain, sekalipun tidak suka orang lain menjalankan hak-hak mereka.
  2. Institusi sosial yang kuat dan tahan lama. Ada dua hal yang mampu menanamkan berbagai nilai yang sangat kuat di masyarakat, yakni gereja dan keluarga.
  3. Sikap keras kepala untuk membela diri sendiri dan melawan tirani.
  4. Petualangan, dari pengambilan risiko ekonomi, kesediaan untuk menghargai kebebasan atas keamanan.

Lantas bagaimana di Amerika banyak rakyat sipil yang memiliki senjata? Bahkan saat terjadi demonstrasi, banyak dari para peserta yang membawa senjata. Dan kondisi itu dibiarkan. Ternyata dalam hal kepemilikan senjata, Amerika membolehkan kepemilikan senjata dan dijamin oleh undang-undang.

Dan menurut Ben Shapiro, hal-hal yang mengancam Amerika adalah adanya regulasi freedom of (hate) speech. Berikutnya ide Marxisme yang melarang agama, adanya institusi keluarga dan pelarangan kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender. Kemudian yang terakhir adalah anti kapitalisme dan free market movement.

Pelajaran yang bisa diambil bagi kita sebagai muslim adalah:

  1. Kultur bisa dipahami sebagai persepsi, tolak ukur/standard dan keyakinan yang mengakar kuat di masyarakat.
  2. Menurut Ben Shapiro; sebuah negara akan kuat jika memiliki filosofi (pandangan hidup) serta kultur (aturan kehidupan) yang kuat.
  3. Sebaliknya sebuah negara bisa hancur dan berganti jadi negara baru; jika filosofi dan kultur sebuah masyarakat under attack, lalu menyerah secara mutlak dan berubah.
  4. Ketika Khilafah Utsmani runtuh; filosofinya diserang (under attack) oleh gagasan sekularisme dan nasionalisme, dan akhirnya menyerah mutlak.
  5. Kultur Khilafah Utsmani juga under attack dalam pakaian yang mengikuti Barat, penghapusan bahasa Arab menjadi bahasa Turki, bahkan adzan pun menggunakan juga bahasa Turki.
  6. Jika ada penguasa yang Islamophobia, lah, jangan-jangan tanda-tanda kultur mau kalah dan berubah?

Pesan moral:

Seorang Ben Shapiro saja telah mengungkap betapa keroposnya AS, tentu saja itu adalah peluang sebagai seorang muslim untuk mengungkapnya di tengah-tengah umat.

Dan buku-buku semacam ini, tentunya sangat penting untuk dipelajari. Namun, sebelum melahapnya, haruslah memiliki kepemimpinan berpikir yang kuat (Qiyadah Fikriyah). Agar tak salah langkah dan justru terseret pemikiran mereka.

Justru kelemahan-kelemahan dari peradaban di luar Islam yang diungkap dalam buku How To Destroy America in Three Easy Steps ini, bisa dijadikan senjata menguliti kecacatan peradaban di luar Islam yang itu adalah aturan buatan manusia.

Niatkan membaca dan menulis sebagai wasilah menuntut ilmu. Sebagai seorang muslim, menuntut ilmu adalah wajib. Dan tsaqafah Barat bukanlah panutan. Tetap disandarkan kembali kepada hukum syara’ yang bersumber dari Allah SWT.

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Ngawi, 24 Oktober 2020