Oleh: Maman El Hakiem

Terlalu lelah, jika terus memata-matai hati. Dalam mutiara Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menukil ucapan Al Khalil bin Ahmad, “Ada manusia yang tahu, tapi tidak tahu dirinya tahu, itulah orang tertidur, maka segera bangunkanlah!”.

Penjaga hati adalah akal, maka semakin akal tercerahkan akan semakin menenteramkan hati. Orang yang tahu akan kemampuannya untuk mengubah pola pikir seseorang, namun tidak membuka matanya untuk segera membangun kesadaran umum di tengah masyarakat. Adalah seorang alim yang tertidur. Sungguh orang demikian disindir oleh baginda Rasulullah Saw. “ Manusia yang paling keras siksanya di hari kiamat, adalah seorang alim yang Allah SWT tidak memberi manfaat pada ilmunya.”

Hakikat penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan adalah obyek pemikiran yang dapat membentuk asas berpikir yang benar. Ketika semua obyek tersebut dapat diamati secara inderawi dan dikaitkan dengan ilmu yang dituntun petunjuk hidayah dari Allah SWT. Akan melahirkan hati yang bercahaya (nurani), bukan hati yang gelap dan sesat (dzulmani). Dari hati yang bercahaya itulah terpancar amal kebaikan.

Jika hatimu baik, maka akan baik pula amal yang dilakukannya. Hati tersebut adalah akal yang tercerahkan dengan ilmu agama. Saat hati lelah, ia akan segera ingat Allah SWT. Maka, tamasya hati saat dilanda galau dan kejenuhan, tidak lain dengan cara dzikrullah.

Dzikirnya mereka yang berilmu bukan hanya sekedar ucapan, melainkan dengan tulisan. Tradisi para orang alim, mengikat makna dengan tulisan dan mewariskannya pada umat. Itulah kekayaan kaum Muslim yang dimusnahkan oleh peradaban sekularisme, khasanah yang dibuang ke lautan lepas, sehingga tintanya ulama menjadikan lautan hitam. Seperti kelamnya peradaban sekarang karena kehilangan jejak sejarah peradaban Islam.

Realita kehidupan yang terasa gerah karena penguasa pongah, kekuasaan yang jauh dari agama. Jika tahu kita tahu, maka jadilah seorang alim yang akan memberi tahu pada umat, betapa rusaknya sistem kehidupan sekarang, dan menyampaikan realita ideal saat sistem aturan kehidupan diatur oleh sistem Islam.

Setitik cahaya yang ditorehkan tintanya ulama yang terjaga dari bujukan dunia, akan menjadi titik terang kembalinya peradaban mulia di bawah naungan Islam. Menulis di saat resah, adalah tamasya hati yang menyenangkan, dan itu menjadi warisan berharga saat zaman berubah, atau setidaknya menjadi jejak perjalanan hidup seseorang sebelum dipanggil pulang oleh Allah SWT.
Wallahu’alam bish Shawwab.

*tulisan ini untuk mengenang rekan-rekan pengemban dakwah yang telah lebih dulu pulang.