Oleh Halida
(Praktisi Pendidikan)

Masyarakat Indonesia masih terluka dengan insiden tewasnya 6 warga sipil dari ormas FPI. Luka itu makin menganga manakala bekas luka di sekujur tubuh keenam jenazah mengisyaratkan kezaliman aparat keamanan negeri yang masih belum  memberi kebenaran informasi atas kejadian tersebut.  Opini adanya perbuatan sewenang senang di luar batas hukum dan kemanusiaan  makin menguat di kalangan masyarakat.

Bersamaan dengan kejadian itu, peristiwa miris lainnya kembali membuat umat mengelus dada. Di Bangladesh ada pemindahan pengungsi Rohingya oleh pemerintahnya. BBC News melansir, berdasarkan laporan kantor berita Reuters, sekitar 1.600 pengungsi dipindahkan ke Pulau Bhasan Char, sebuah pulau yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal, pada Jumat (04/12). Hal tersebut tak lepas dari kritikan berbagai lembaga kemanusiaan. Kelompok-kelompok HAM telah lama berpendapat bahwa pulau itu, yang terbentuk secara alami oleh lumpur Himalaya di Teluk Benggala, sekitar 60 kilometer dari daratan, rentan terhadap bencana alam dan tidak cocok untuk permukiman manusia. Human Rights Watch, Amnesty International dan Fortify Rights sangat menentang relokasi para pengungsi ke pulau itu (VOA Indonesia, 4 Desember 2020).

Kedua kejadian di atas merupakan sedikit dari potret hitam kapitalisme sekular. Fakta yang menunjukkan betapa humanisme dan nilai-nilainya telah terkoyak begitu rupa hingga merendahkan martabat sebagai manusia dalam sistem kapitalisme sekular ini. Beginikah wajah sejati kapitalisme sekular yang merajai tata dunia saat ini ? Benarkah sistem kapitalisme sekular meniscayakan pupusnya nilai kemanusiaan ?

Humanisme yang Terpasung

Dunia global saat ini berkiblat ke barat. Setelah Perang Dunia II, AS menjadi negara adidaya satu-satunya yang menguasai dunia. Bukan tidak pernah ada upaya negara kapitalis lain yang berusaha menggeser kedudukannya tetapi posisi AS belum tergantikan. Karena itu, melalui AS, ideologi kapitalisme sekular menyebar ke seluruh negeri muslim dalam berbagai wujud. Baik dalam bentuk kerjasama politik ataupun “premanisme politik”. Tampak sekali hal ini tidak memberikan angin segar dan kenyamanan hidup yang hakiki bagi umat manusia.

Dalam buku Peraturan Hidup dalam Islam, Al-‘alamah Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan bahwa kapitalisme merupakan ideologi individualis sehingga memandang masyarakat adalah kumpulan individu. Karenanya, ideologi ini tidak memproritaskan pandangannya pada masyarakat secara utuh melainkan hanya kepada individu. Kebebasan individu diagungkan begitu rupa hingga negara pun menjadi sarana pemenuhan kebebasan individu. Kalau pun harus membatasi, negara membatasinya dengan kekuatan militer dan UU. Dengan demikian, kedaulatan ada di tangan individu bukan negara.

Dengan konsep dasar kapitalisme sebagaimana diulas di atas, tak heran jika bermunculan negara yang otoriter. Hal itu karena negara tersebut menggunakan sistem kapitalisme sebagai dasar berpikir dan kepemimpinan berpikirnya. Keserakahan seorang individu pun muncul manakala telah memiliki kekuasaan. Seolah negara yang dipimpinnya adalah warisan nenek moyang yang harus dikuasai sendiri. Karena itu, dia akan cenderung memaksakan berbagai kehendak dan keinginannya untuk memuaskan syahwat kekuasaannya. Sebagai pemimpin negara, dia akan mampu memaksakan berbagai UU untuk ditaati warganya. Berbagai kekuatan militer pun bisa digunakan untuk memuluskan keinginannya. Tanpa memperhitungkan rakyatnya jadi korban dengan penderitaan berkepanjangan ataukah sekedar mencicipi kesejahteraan hidup sebagai efek kebijakannya. Sungguh ironis!

Kapitalisme sekular yang begitu memuja kekebasan individu secara otomatis memutilasi kehidupan dunia dari akhirat. Mengapa demikian? Karena kapitalisme memandang Tuhannya hanya pencipta yang tak mampu (baca : tak boleh) mengatur hidup manusia. Hidup di dunia haruslah manusia sendiri yang tentukan aturannya, suka-suka manusia. Walhasil, pemerolehan materilah yang menjadi standar kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan. Tak peduli apakah kesenangan, kepuasan, kebahagian, yang diraihnya mencederai bahkan menyakiti manusia yang lain itu tidak menjadi pertimbangan.

Sayangnya, standar materi ini tak hanya dipuja oleh manusia di jajaran penguasa tapi juga masyarakat di segala lini. Walhasil, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang didamba pun jadinya jauh panggang dari api. Tak mungkin terealisasi. Di sinilah hilangnya humanisme menjadi sebuah keniscayaan. Apa yang terjadi pada laskar FPI maupun pengungsi Rohingya merupakan kejadian yang mungkin terulang dan terulang. Selama masyarakat mengadopsi pemikiran kapitali sekular kejadian-kejadian di luar batas humanisme sangat sulit dihindari.

Menjaga Keabadian Humanisme

Manusia adalah makhluk penuh rasa. Sebaga hamba, tentu hidup tak bisa dijalani semau-maunya. Semuanya harus disandarkan pada kehendak Sang Pemilik Semesta.
Bersumber wahyu, segala laku dan tutur diatur demi kemaslahatan manusia. Ya….syariat Islam yang dibawa dengan penuh cinta, kasih, perjuangan, dan pengorbanan secara all out oleh Baginda Nabi saw bersama sahabatnya tercinta untuk rahmat seluruh alam. Syariat yang patut menjadi rujukan satu-satunya oleh satiap insan yang bernama manusia. Tak peduli apakah dia rakyat jelata ataukah pengusaha bahkan penguasa tingkat dunia. Semuanya sama dalam pandangan Syariat. Bahwa merekalah hamba yang telah menyatakan keimanan kepada Sang Khaliq yang wajib mereka taati tanpa syarat dan ketentuan. Hukum-hukum syari’at yang mampu menjadi solusi di setiap aspek kehidupan. Yang mampu diterapkan oleh hamba apapun posisinya, apapun profesinya.

Inilah hakikat menghamba kepada Rabb-nya di dunia, sekalipun dia penguasa. Menjadikan aturannya bukan sekadar “ujaran sakral yang diagungkan” tapi “kalimat suci” yang harus diwujudkan atas dasar keimanan dan ketundukan. Dari sinilah rezim sok kuasa mampu dihapuskan menjelma menjadi rezim yang penuh cinta, lemah lembut, dan perisai bagi warganya. Rezim inilah yang lahir dari rahim sistem Islam yang berwujud the Chaliphate.

Chaliphate akan memastikan humanisme terjaga pada semua lapisan masyarakat. Nyawa warganegara tak akan mudah lenyap tanpa alasan. Karena syariat sudah menetapkan bahwa pembunuhan terhadap satu nyawa tak berdosa sama halnya menghilangkan nyawa seluruh umat manusia:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي اْلأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.“(TQS al-Maidah [5]: 32)

Edukasi dan UU yang bersumber pada Quran maupun Sunnah (Hadits Nabi) akan diterapkan demi terjaganya nyawa manusia. Tak kan dibiarkan nyawa melayang begitu saja demi kekuasaan, demi harta, demi wanita, ataupun demi yang lainnya.

Akan halnya masyarakat yang mendapatkan kezaliman oleh bangsa ataupun negara lain secara kejam, Chaliphate akan menghadapinya dengan kekuatan negara. Karena, kerhormatan sebuah bangsa yang beriman kepada Allah tentu itu menjadi kehormatan seluruh warga, bahkan kehormatan negara. Negara wajib untuk menjaganya dengan segenap kekuatannya, bukan sekedar menampung dengan pemeliharaan sekenanya.

Inilah pemeliharaan humanisne di kalangan masyarakat beriman kepada Allah. Sangat berbeda, wujud masyarakat yang beriman dengan yang tanpa iman.

Wallahu a’lam..