Oleh : Anis Khurasatunnisa’ S.Pd

Pemerintah Bangladesh telah memastikan untuk memindahkan 100 000 pengungsi Rohingya dari Ukhiya di Cox’s Bazar ke pulau terpencil Bhashan Char, mulai 4 Desember 2020.

Ini adalah kloter pertama yg terdiri dari 1500 pengungsi. Mereka akan di pindahkan dengan angkutan kapal laut. Menurut pejabat angkatan laut mengatakan tujuh puluh kapal laut akan di kerahkan untuk mengangkut Muslim Rohingya dan dua kapal untuk mengangkut logistik.

Sejak kampanye pembersihan etnis oleh militer Myanmar pada 2012 hidup mereka terombang ambing mencari suaka politik di berbagai negara sekitar, termasuk Bangladesh. Selama ini mereka di tampung di cam pengungsian Ukhiya di Cox’s Bazar.

Karena Cam penuh sesak dan rawan konflik, untuk meredakan ketegangan pemerintah Bangladesh memindahkan mereka di Bhashan Char.
Tak ada pilihan bagi muslim Rahingya kecuali mengikuti pemerintah Bangladesh meskipun ada kekhawatiran keamanan dan kekayaan hidup di tempat baru mereka.

Pulau yang Tak Layak Huni

Bhasan Char, sebuah pulau yang muncul di permukaan laut kurang lebih 20 tahun lalu, terletak di Teluk Benggala 37 mil dari daratan. Pulau yang terbentuk dari endapan lumpur (sendimen) Himalaya yang bawa sungai ke laut.

Akses menuju Bahasan Char ditempuh menggunakan perahu dalam waktu berjam-jam. Karena tanah bentukan dari sendimen terhitung masih relatif baru dan kemungkinan masih menjadi tanah yang bergerak, beresiko rawan banjir berbulan-bulan setiap tahunya. Dan posisi ditengah laut rawan juga dengan badai.

Dilihat dari kontruksi tanah yg masih baru, tanah ini masih relatif labil tentu sebenarnya pulau ini jauh dari kata payak huni.

Pengiat HAM internasional; PBB, Human Rights Watch, Amnesty International, dan Fortify Rights sebenarnya telah mendesak pihak Bangladesh untuk menghentikan pengiriman pengungsi Rohingya di Bhasan Char, sampai ada kajian yang komprehensif atas kelayakan huni pulau tersebut.

Tetapi pihak Bangladesh mengklaim Bhasan Char telah dilengkapi dengan fasilitas modern, hunian yang layak, tersedianya air bersih, listrik dan kesehatan. Sehingga menjadi hunian yg cukup layak bagi muslim Rahingya.

Batas Teritorial Sekat Ukhuwah Islamiah

Jika dikatakan sesama muslim ibarat satu tubuh, saat bagian yg satu sakit dan bagian yang lain mampu merasakan. Maka rasa itu telah hilang saat ini, ada saraf yang rusak, Ukhuwah tak bisa terjalin dan merasakan sakitnya bagian lainya karena umat Islam telah terpecah belah dalam batas teritorial.

Hanya sebagian kecil umat Islam yang mampu merasakan penderitaan atas saudaranya, itupun mereka takkan mampu berbuat banyak. Karena persoalan ini takkan bisa diselesaikan oleh rakyat biasa

Perlu institusi antar negara yang bisa menyelesaikan masalah muslim Rahingya. Tapi jika para penguasa negeri-negeri muslim diam seribu bahasa, nasib muslim Rahingya selamanya akan menjadi pesakitan, tanpa perlindungan, tanpa ada pilihan atas kelayakan hidup bahkan tanpa kejelasan kewarganegaraan.

Islam Kaffah wujudkan Ukhuwah

Persaudaraan kaum Ansor dan Muhajirin adalah contoh terbaik bagi umat Islam. Kaum Ansor mau berbagi tempat tinggal, kebun bahkan pekerjaan dengan kaum Muhajirin.

Kaum Muhajirin yang telah meninggalkan tanah kelahirannya demi menjalankan perintah Rasulullah dan menyelamatkan keyakinannya atas agama Islam, dengan meninggalkan seluruh harta bendanya di Kota Makah.

Bagi kaum Ansor mereka adalah saudara, ikatan Aqidah telah memunculkan rasa cinta dan kasih pada kaum Muhajirin. Mereka bangga, rela berbagi tempat tinggal, tanah, kebun bahkan pekerjaan, tak satupun dari kaum Anshar yang menggeluluh, bahkan mereka bangga dan gembira menyambut kehadiran kaum Muhajirin.

Sungguh kepemimpinan Rasulullah di Madinah Al-Munawarah, telah mampu menyatukan mereka lahir maupun batin. Mampu hidup bersama dalam ketenangan dalam sistem Islam yang menerapkan Syariah Islam secara kaffah.

Bagaima dengan muslim Rahingya, adakah yang menyambut bangga kehadiran mereka?. Muslim Rohingya terusir dari negerinya karena Aqidah Islam. Adakah yang dengan ikhlas rela berbagi dan memberikan perlindungan secara maksimal dan layak?

Tentu semua sudah tau jawabannya, para pemimpin negeri-negeri Muslim diam seribu bahasa, mereka lupa sabda Rasulullah: ” Barangsiapa yang melapangkan kesusahan dunia seorang Mukmin, maka Allah akan melapangkan baginya dari satu kesusahan di hari kiamat”

Tak satupun yang melakukan pembelaan atas saudaranya muslimin Rahingya. Sekat nasionalisme telah menutup mata mereka untuk mampu melihat derita Muslim Rohingya. Batas teritorial menjadi tabir untuk mampu merasakan derita mereka yang terlunta-lunta tanpa jelas kapan derita mereka di akhiri.

Sungguh mereka rindu, pemimpin seperti Rasulullah, yang mampu menyatukan fisik dan batin sesama muslim. sungguh mereka rindu pemimpin yang mau melindungi mereka, mau memberikan tempat yang layak untuk melanjutkan kehidupan mereka, memeluk agama Islam dengan tenang tanpa ketakutan, penganiayaan dan pengusiran.