Oleh: Yuyun Rumiwati

Di penghujung 2020, negeri kita masih berduka. Berbagai kejadian yang tak terasa membuat pipi terbanjiri air mata.

Betapa tidak mengharukan, di saat Pandemi belum ada jalan terang usai. Korupsi dana bansos oleh Mensos sudah melukai jutaan warga. Ditambah lagi dengan terbunuhnya 6 saudara muslim kita di 50km Cikampek. Bertambah teritis lagi, tidak berselang lama, ditahannya Habib Rizieq Sihab.

Dari serangka ujian kelam umat Islam ini. Lebih miris lagi ketika masih ditemukan warga yang tanpa peduli mencemooh korban. Padahal mereka satu saudara seiman. Satu tubuh. Ada apa dengan negeri ini?

Jangan tanya keadilan. Sudah menganga luka warga. Hukum serasa hanya milik penguasa dan kroninya. Betapa tidak, dengan kasus serupa tentang kerumunan. Di satu pihak dikenakan hukuman karena kerumunan. Namun bagi yang dekat dengan penguasa kerumunan dibiarkan begitu sj. Contoh saja kita ambil acara maulid pertamburan. Dan kerumunan beberapa Kampanyekan pilkada tanpa taat protokol pun dibiarkan.

Kedzaliman dipertontonkan di atas luka rakyat yang menganga. Kesombongan kian terlihat oleh para penguasa.

Belum lagi kondisi ekonomi rakyat serasa tiada terurus. Angka hutang yang merangkak fantastis. Untuk siapa hutang ini? Sedang rakyat bawah kian hari menuju pada kegerahan. Bahkan, kasus terbunuhnya 3 anak di tangan ibunya sendiri seharusnya membuat tertampar ya para petinggi negeri. Namun, apa tetap saja mereka tak peduli.

Wajar jika mosi tidak percaya muncul dimana- dimana. Diantaranya Komunitas Masyarakat Sipil (KMS) pun menuntut adanya perubahan atas segala masalah negeri ini.

Saatnya Islam Sebagai Pilihan

Di tengah ketidakpastian hukum, matinya keadilan dan ketimpangan dimana-mana. Maka,pilihan yang tepat bagi negeri ini adalah kembali pada aturan ilahi. Hal ini wajar mengingat mayoritas rakyat negeri ini pun muslim.

Betapa, pemberlakuan sistem kapitalis. Telah membuat negeri Jamrud khatulistiwa ini tak mampu berdikari. Bahkan, terhadap kepongahan gerakan Papua Merdeka, negeri ini serasa sunyi dari keberanian untuk melakukan tindakan tegas.

Saatnya negeri ini bangkit berwibawa di atas kekuatannya sendiri. Tentu yang dibutuhkan adalah kesolidan di antara para tokoh negeri negeri untuk berani mengambil sikap membawa perubahan hakiki dalam hukum ilahi.

Jika jajaran tokoh ini solid dengan satu tujuan lurus demi perbaikan negeri. InsyAllah masyarakat bawah akan tulus memberi dukungan. Terlebih mereka cukup lama hidup dalam harapan dan janji kosong politis demokrasi.

Semoga akhir 2020, menjadi tonggak penyadaran umat untuk bersatu memilih pada jalan perubahan ala nabi. Sehingga 2021 fajar kemenangan umat terbebas dari belenggu sistem Kapitalisme demokrasi akan nyata terjadi. Aamiin. Allahu a’lam bi shawab.