Oleh : Ismawati

Sebagai seorang wanita, mendamba hadirnya sang buah hati adalah salah satu harapan terbesar. Mengingat, darinya kita bisa belajar menjadi seorang ibu yang senantiasa mendidik dan merawat buah hati kita. Anak adalah amanah besar dari Allah swt yang harus kita jaga. Bayangkan betapa besarnya kasih sayang ibu kepada anaknya. Tak ayal kebutuhan dirinya menjadi nomor sekian demi anaknya. Ya, kasih sayang ibu sepanjang masa.

Meski demikian, potret memilukan dialami seorang ibu hari ini. Berbagai permasalahan hidup kian menyelimuti ibu dan keluarga. Kesehatan mental menjadi hal yang harus menjadi perhatian utama. Karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup terlebih di tengah pandemi, membuat mental kaum ibu mulai terusik. Tak ayal, banyak kaum ibu yang merasa stress dan mengalami gangguan kesehatan mental hingga bertindak mengancam nyawa.

Sebagaimana yang terjadi pada ibu berinisial MT asal Dusun II Desa Banua Sibohu, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara yang dengan tega membunuh ketiga anak kandungnya sendiri. Kejadian ini terjadi pada hari Rabu 9 Desember 2020. Tepat di hari pemilihan kepala daerah (pilkada) untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati Nias Utara. Ketiga korban masing-masing berinsial YL (5 tahun), SL (4 tahun), dan DL (2 tahun). Ironisnya saat kejadian sang ayah sedang menggunakan hak pilihnya, (vivanews.com 13/12).

Kejadian ini diketahui motifnya karena faktor himpitan ekonomi. Sungguh membayangkan hal ini dapat mengiris hati. Apa salah mereka yang masih balita, mereka belum bisa merasakan kesulitan hidup. Namun, karena kecemasan seorang ibu akan biaya hidup yang mahal menjadi alasan ia membunuh anak-anaknya. Cemas karena himpitan ekonomi melanda, sementara ada anak-anak yang butuh makan, butuh kebahagiaan. Disisi lain, orang tua tak mampu memenuhinya.

Ironi negeri demokrasi, Indonesia yang katanya kaya akan Sumber Daya Alam tak mampu mencukupi kebutuhan rakyatnya. Susahnya mencari kerja, rendahnya tingkat pendidikan memicu munculnya krisis ekonomi keluarga. Krisis inilah yang selalu menjadi alasan seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya. Dalam pemilihan pemimpin baru, masyarakat kian berharap akan terwujudnya kesejahteraan baru. Sayangnya, dalam sistem kapitalis sekuler kesejahteraan hidup seperti jauh panggang dari api. Masyarakat kian terlunta-lunta memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Sistem yang salah akan senantiasa menghasilkan kerusakan. Didalam sistem kapitalis negara tidak betul-betul menjamin kesejahteraan rakyatnya, termasuk pemenuhan kebutuhan pokok. Bansos di masa pandemi pun tak dirasakan seluruh warga negara.

Berbeda dengan sistem pemerintahan islam. Di dalam negara Khilafah, pemenuhan kebutuhan pokok individu adalah jaminan negara. Dengan menerapkan konsep syariah, negara akan mampu mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan seluruh rakyatnya. Jaminan kebutuhan pokok ini untuk seluruh rakyat negara khilafah, baik muslim maupun non muslim wajib terpenuhnya sandang, papan dan pangan. Sebagaimana sabda Nabi Saw: “Imam (Khalifah) laksana penggembala, hanya dialah yang bertanggungjawab atas urusan rakyatnya” (HR. al-Bukhari).

Atas dasar inilah, pemimpin wajib menjamin kebutuhan rakyat. Negara juga wajib memberi jaminan dengan terbukanya lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk para kepala keluarga. Sehingga mereka akan mendapatkan penghasilan agar dapat menafkahi keluarga. Kemudian untuk jaminan kebutuhan dasar secara umum, di dalam negara Khilafah wajib terpenuhinya layanan penddikan, bahkan kesehatan gratis yang berkualitas. Sehingga para keluarga tak perlu cemas akan masa depan anak karena fasilitas seperti ini akan dipenuhi oleh negara.

Darimana dananya? Yaitu dari kas Baitul Mal yang sumber pemasukannya dari kekayaan milik umum yang dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat. Selain itu, penting juga tercipta lingkungan yang Islami. Mempertebal keimanan agar senantiasa terjaga dari hal-hal yang menimbulkan kemaksiatan. Dengan demikian, sistem yang rusak hendaklah diganti dengan sistem baru yang dapat membentuk masyarakat Islami dan menerapkan hukum Allah untuk mengatur kehidupan rakyat. Wallahu a’lam bishwoab.