Oleh Ummu Afra

Nguing… nguing…
nguing… Suara sirene ambulans yang lewat di depan rumah saya meraung-raung mengingatkan akan tragedi Mina saat saya pergi haji tahun 2015 yang lalu. Ya… sudah lima tahun lalu tapi rasanya seperti baru saja terjadi.

Hari masih pagi. Sekitar pukul 9, saya dan rombongan tiba di hotel setelah melempar jumrah di hari Tasyrik pertama. Kami langsung sarapan dan istirahat. Tiba-tiba, suara sirene dari ambulans terdengar meraung-raung tiada henti.

Awalnya kami tidak tahu apa yang terjadi. Hingga ada telepon dari adik di tanah air menanyakan keadaan saya. Katanya, ada berita terjadi insiden di sekitar tempat melempar jumrah. Teman-teman lain juga mendapat telepon serupa dari keluarga. Setelah mendapat telepon tersebut, baru saya dan teman-teman mencari berita tentang hal tersebut.

Ternyata benar. terjadi insiden di rute 204 yang menuju ke pelemparan jumrah. Korban mencapai empat ratusan orang. Dan kami seharusnya melewati rute tersebut. Seketika, ingatan saya melayang pada kejadian beberapa waktu lalu.

Setelah bermalam di Muzdalifah, kami satu rombongan berjumlah empat puluh orang bergegas menuju ke Mina sebelum waktu subuh dalam kondisi berwudhu. Sampai di perbatasan Mina, kami menunggu waktu subuh dengan duduk di pinggir jalan dan banyak jamaah lain yang melakukan demikian. Begitu terdengar azan subuh, kami melakukan shalat subuh berjamaah, lalu berjalan lagi menuju Mina untuk melempar jumrah.

Untuk menuju Jamarat (tempat melempar jumrah) ternyata dibuat beberapa rute untuk mengurangi kepadatan manusia. Pun sudah diatur sesuai dengan negara asal.

Saat kami sampai di persimpangan rute-rute tersebut, kami mencari rute 204 yang seharusnya kami lalui sesuai dengan aturan. Tapi pemandu jalan mengarahkan kami ke rute lain dengan alasan rute tersebut sudah padat. Waktu itu kami sempat tidak rela dengan keputusan tersebut karena rute yang harus kami lalui lebih panjang. Setelah adanya insiden tersebut, kami bersyukur tidak melewati rute tersebut sehingga kami bisa selamat.

Suara sirene ambulans tidak henti-hentinya menjerit. Mereka harus mengangkut ratusan mayat. Kebetulan kamar saya menghadap ke jalan raya sehingga suara sirene jelas terdengar. Dan hotel kami terletak tidak jauh dari Jamarat, kurang lebih 20 menit berjalan kaki. Dari kamar, saya bisa melihat bangunan Jamarat yang megah bertingkat tiga.

Tidak begitu jelas apa yang sebenarnya terjadi. Ada beberapa versi. Ada yang menyebut insiden tersebut terjadi karena ada rombongan kerajaan Saudi yang lewat sehingga jamaah harus disetop untuk memberi jalan mereka. Karena saat itu sedang ramai-ramainya jamaah berjalan menuju Jamarat dari Muzdalifah. Penghentian tersebut membuat jamaah chaos sehingga terjadilah insiden tersebut.

Versi lain menyebut, ada serombongan jamaah Iran yang terkenal agresif menyerobot jalan sehingga terjadi chaos dan menyebabkan insiden tersebut. Ada lagi versi di mana jamaah yang mau ke Jamarat bertemu dengan jamaah yang selesai dari Jamarat, sehingga terjadi chaos. Yah kita tidak tahu pasti mana yang benar. Yang jelas, telah jatuh ratusan korban jiwa akibat insiden tersebut. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Memang semua yang terjadi atas kehendak Allah. Tapi saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi saat itu. Jamaah saling dorong, injak. Teriakan takut, kesakitan. Yaa Allah, semoga mereka semua husnul khotimah.

Saya kira tragedi tersebut tidak akan terjadi kalau tidak ada sesuatu yang menjadi pemicu. Selama perjalanan menuju jamarat, saya lihat ribuan jamaah berjalan santai sambil berzikir, saling melempar senyum, saling tolong.

Saat yang depan berhenti, yang di belakangnya juga berhenti. Jadi tidak ada yang mau duluan sehingga harus dorong-dorongan dan sikut kanan kiri. Yah seperti saat tawaf mengitari Ka’bah. Semua jamaah merasa sabagai saudara seiman yang sama-sama tengah menunaikan perintah Allah.

Nah, jika pemicu karena adanya pengistimewaan kepada keluarga kerajaan Saudi, ini benar-benar suatu kezaliman. Inilah yang terjadi jika tidak diterapkan aturan Islam secara menyeluruh. Dalam Islam, pemimpin negara harusnya melayani rakyat, bukan malah diistimewakan.

Tentu sangat disayangkan, insiden yang mengorbankan ratusan nyawa kaum muslimin tersebut. Padahal dalam Islam nyawa seorang muslim sangat dijaga. Sebagaimana firman Allah Swt,

“Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisasnya (balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qisas)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 45)

Demikianlah, jika aturan Islam ditinggalkan maka yang terjadi adalah kekacauan dan penghargaan yang rendah terhadap harga diri dan jiwa manusia. Sementara aturan Islam adalah untuk memuliakan manusia dan menjadikan kehidupannya tenang bahagia. Setiap jiwa dan nyawa manusia sangat berharga.

Semoga aturan Islam bisa diterapkan secara kafah dibawah naungan khilafah. Di mana nyawa manusia sangat dihargai dan dijaga sehingga insiden seperti Tragedi Mina 2015 tidak terjadi lagi.