Oleh : Indri NR

Seorang ibu tega menganiaya anak perempuannya hingga tewas, gara-gara si anak tak mengerti saat belajar melalui daring. Polres Lebak, Banten, mengungkap motif pembunuhan anak perempuan berusia 8 tahun oleh orang tua kandungnya, warga Jakarta Pusat. Kasat Reskrim Polres Lebak, AKP David Adhi Kusuma mengatakan, ibu korban melakukan penganiayaan karena putrinya sulit memahami pelajaran, saat belajar daring.  

Pelaku IS, yang juga ibu korban, mengaku menganiaya korban pada 26 Agustus lalu, hingga tewas.Untuk meninggalkan jejak, IS mengajak suminya LH,  untuk membawa jenazah korban ke Cijaku, Lebak, dengan menggunakan sepeda motor. LH menambahkan, sempat membuat laporan kehilangan anak untuk mengelabui polisi. (www.kompas.tv, 15/09/2020)

Tidak hanya itu, pembunuhan anak oleh ibu kandungnya juga terjadi di Nias Utara. Diduga stres karena kondisi ekonomi, MT gelap mata sehingga tegah membunuh ketiga anak kandungnya. Pembunuhan terjadi di rumahnya di Dusun II Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara. Ketiga korban masing-masing berinisial YL (5 tahun), SL (4 tahun), dan DL (2 tahun). Peristiwa terjadi pada Rabu 9 Desember 2020.

“Terjadi saat ayah para korban sedang menggunakan hak pilihnya ke TPS [Rabu] kemarin,” ungkap Paur Humas Polres Nias, Aiptu Yadsen Hulu, kepada wartawan, Kamis siang 10 Desember 2020. (www.viva.co.id, 13/12/2020)

Ibu Sadis Korban Sistem

Ibu di era saat ini banyak yang telah kehilangan naluri kasih sayangnya. Penghilangan nyawa kepada buah hati dengan berbagai motif membuat ibu berada dalam dua posisi sekaligus yaitu sebagai pelaku dan korban sistem. Sebagai pelaku dengan posisi Ibu adalah pihak yang melakukan eksekusi pembunuhan. Sedangankan sebagai korban dengan kita merujuk motif pembunuhan.

Motif pertama yaitu Ibu stress dengan pembelajaran daring yang saat ini dilakukan. Sistem daring tidak memungkiri menjadi beban tersendiri bagi orang tua terutama ibu yang mendapingi anak belajar. Ketidakmampuan negara menanggung beban ekonomi tiap keluarga ketika harus lockdown menyebabkan sebagian besar orang tua tetap bekerja mencari nafkah. Kondisi ini amat tidak mendukung proses belajar di rumah. Walhasil, anak-anak tidak tertangani secara baik. Akhirnya ibu akan stress dan mudah terbawa emosi dan melakukan tindakan sadis pada anaknya.

Di sisi lain, kemiskinan dan pola kehidupan kapitalistik pun telah membentuk orang tua yang hanya mampu mencari uang. Mereka gagap ketika harus menghadapi anak, menemani belajar, bahkan mendidiknya. Ibu telah kehilangan fungsi sebagai madrasah bagi anak-anak.

Motif kedua yaitu ekonomi. Ibu sebagai pengatur keuangan rumah tangga memang lebih rentan terhadap stress jika terjadi masalah ekonomi. Kondisi ini yang akhirnya membuat ibu mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan persoalannya, yaitu dengan membunuh anak-anaknya. Sungguh ironis, pembunuhan terjadi saat suami pelaku memberikan hak pilihnya di TPS untuk memilih pemimpin baru, namun tragisnya istri dan anaknya justru kehilangan harapan hidup. Maka sudah jelas sistem demokrasi dengan mekanisme pemilunya tidak bisa menjadi tumpuan harapan rakyat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Sistem saat ini sudah memproduksi banyak kerusakan, bidang pendidikan sudah memakan korban, bidang ekonomi sudah tidak terhitung lagi korban yang berjatuhan. Sudah saatnya kita beralih kepada sistem yang dapat menjamin kebutuhan dasar dan kebutuhan pendidikan. Sistem alternatif yang menjadi pilihan pengganti adalah sistem Islam dalam bingkai Khilafah.

Kebijakan Khilafah dalam hal pembelajaran daring dan penjaminan kebutuhan ekonomi warganya dapat dijabarkan dengan langkah berikut :

Pertama, negara Khilafah berasaskan akidah dan syariah Islam. Berdasarkan asas ini, Negara menegaskan tujuan pendidikan baku yang harus diemban seluruh pemangku pendidikan baik negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga oleh orang tua siswa. Tujuan pendidikan yang dibangun dengan akidah Islam akan dapat menghindarkan siswa dan orang tua dari stress. Dengan asas akidah dan syariah Islam negara bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan tiap individu warga sebagai tanggung jawab kepada Allah SWT.

Kedua, negara Khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisir. Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi.

Padahal, pembelajaran jarak jauh telah cukup jamak digunakan di berbagai belahan dunia. Hanya saja, kapitalisme telah membelenggu banyak kalangan dari mengenal dan menggunkan teknologi ini. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu. Dengan penguasaan teknologi yang mumpuni maka biaya untuk pembelajaran daring bukan lagi menjadi masalah besar bagi orang tua.

Ketiga, belajar di rumah dalam Khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat pandemi. Orang tua tak perlu bekerja di luar. Mereka bisa optimal membantu proses belajar di rumah dengan sebaik-baiknya.

Kebutuhan pokok akan dijamin oleh negara individu per individu, sehingga dipastikan tidak ada rakyat yang menderita kelaparan akibat kemiskinan yang akan mendorongnya untuk melakukan tindakan kriminal. Stabilisasi ekonomi akan dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Pengelolaan sumber daya alam akan berorientasi pada kepentingan rakyat sebagai manifestasi kepemilikan umum dalam Islam. Sehinga dalam khilafah resource yang ada akan dikelola dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat, berbeda dengan demokrasi yang hanya dikekola dan dinikmati hasilnya oleh segelintir pemilik modal. Allahu’alam bi showab.