Oleh: Maman El Hakiem

Persoalan wabah yang hampir setahun ini, telah membuat rakyat acuh atas persoalan kesehatannya. Protokol kesehatan sebagai pencegahan dini penularan covid-19 telah banyak diabaikan. Kerumunan massa yang tidak ditindak secara adil oleh penguasa, telah membuat kekecewaan rakyat. Seakan aturan protokol kesehatan itu hanya berlaku bagi mereka yang berseberangan secara politis. Hukum karantina kesehatan mencoba dipaksakan bagi mereka yang kritis terhadap kekuasaan, tidak berlaku bagi kepentingan kapitalisme.

Adanya banyak kasus pelanggaran protokol kesehatan saat Pilkada serentak, bahkan ditemukan ribuan petugas yang reaktif covid-19 tidak serta merta membatalkan pesta demokrasi tersebut. Sebaliknya, mereka yang berkerumun sekedar menyambut kedatangan seorang ulama yang telah lama diasingkan, malah dijadikan delik kriminalisasi bagi pengemban dakwah. Inilah catatan pilu di ujung tahun ini saat darah pengawal ulama menjadi korban kekuasaan, bahkan seorang ulama dipaksa mengenakan baju tahanan, bukti hukum tidak lagi menganut praduga tak bersalah.

Data korban wabah yang terus menanjak sudah tidak dipedulikan lagi. Negara yang seharusnya memiliki fungsi sebagai riayah syu’uni ummah (mengurusi urusan umat), telah beralih menjadi mengurusi kepentingan pemilik modal yang selama pandemi ini mengalami kebangkrutan. Keluarnya berbagai UU yang cenderung memihak pada penyelamatan usaha ekonomi mereka, telah banyak membuat rakyat merana dan sakit hati. Terlebih setelah ditemukan kasus korupsi menyangkut dana bantuan sosial, padahal bansos telah menjadi tumpuan jutaan rakyat saat kehilangan mata pencaharian akibat banyaknya pemutusan hubungan kerja.

Negara juga kehilangan fungsinya dalam mengadopsi hukum perihal kemaslahatan rakyat (tabbani masholih al ummah), ketidakpekaan penguasa dalam mengantisipasi lonjakan pasien terbukti dengan minimnya sarana fasilitas kesehatan yang memadai. Di daerah ditemukan banyak fasilitas kesehatan yang tidak mampu lagi menampung pasien. Alih-alih memberikan harapan sembuh, sekarang cenderung banyak pasien yang pesimis setelah masuk rumah sakit. Jika hal ini berlarut-larut diduga kuat akan menimbulkan keresahan sosial yang ujung-ujungnya frustasi masyarakat dalam menjaga kesabarannya di tengah wabah.

Negara yang harusnya memberikan pelayanan umum secara simpel, cepat dan profesional rupanya dalam sistem kapitalisme tidak berlaku. Yang terjadi justru sebaliknya, pelayanan terhadap rakyat cenderung berbelit-belit, mahal dan kurang profesional. Kenyataan ini harusnya menjadi catatan khusus bahwa sistem kapitalisme yang memang didesain untuk melayani orang-orang berduit, terbukti gagal dalam pengurusan umat ini. Hanya dalam sistem Islam, penguasanya jika melakukan kedzaliman akan teringat sabda Rasulullah Saw:
“Aku sungguh tidak berharap bertemu menghadap kepada Allah azza wa Jalla, dimana ada orang yang menuntutku karena kedzaliman yang telah aku lakukan kepadanya, baik berkaitan dengan masalah darah maupun harta. “ (HR Ahmad dan Anas).
Wallahu’alam bish Shawwab.