Oleh : Muflihah Ummu Ibrahim

Kisah Luqmanul Hakim dalam Al Qur’an adalah kisah yang menjadi inspirasi para ayah. Peran ayah dalam mendidik anak disaat ayah dan anak lebih sedikit berdialog karena berbagai hal, dan cenderung berdialog kepada sang ibu.Itu terjadi karena ayah sibuk bekerja.
Firman Allah dalam Al-qur’an surat Lukman ayat 12:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa Lukman bukanlah seorang Nabi. Dan hikmah yang diberikan oleh Allah swt berupa pemahaman ,kecerdasan dan ucapan yang jujur. Maka Lukman bersyukur kepada Allah swt dan ia diberikan hikmah atas rasa syukurnya. Sebab manfaatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena dengan bersyukur nikmat itu akan bertambah.
Imam Syafi’i dan para sahabat berkata : “Kewajiban atas ibu dalam mendidik anaknya jika tidak ada ayah”
Jadi sebenarnya peran ayah dalam keluarga itu sangatlah penting. Di dalam Al-qur’an Allah telah memberikan contoh. Bisa kita lihat kisah kisah Lukman,Nabi ayyub dan Nabi Ibrahim.
Allah menyebutkan dalam Al -qur’an kewajiban seorang ayah dalam mendidik anaknya sebanyak 14 kali, dan untuk ibu hanya 2 kali. Berarti sebenernya tugas ayah sebagai qowwam itu lebih dominan dalam mendidik anaknya.

Keluarga yang senantiasa merasakan kebahagiaan adalah keluarga yang dilandasi rasa syukur. Badai apapun yang menerpa kita saat rasa syukur itu bersemi dalam diri kita dan keluarga kita maka tidak akan jadi masalah. Begitupun dalam mendidik anak,rasa syukur menjadi modal utama.

Konsep syukur itu ada 3 yaitu
1. Syukur hati
Hati merasakan betapa pentingnya nikmat dari Allah dan menyadari bahwa tidak ada yang mampu memberi nikmat kecuali Allah.

2. Syukur Lisan
Pengakuan secara lisan setelah diyakini dalam hati dan menyibukkan lisan untuk memuji sang pemberi nikmat.

3. Syukur badan.
Menundukkan anggota badan untuk taat kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala. Maksudnya adalah menjaga segala amal perbuatan dari perkara yang dilarang oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala dan menjaga makanan dari yang haram.

Semoga kita bisa meneladani kisah Lukman dan senantiasa menjadi hamba yang selalu bersyukur atas setiap keadaan.

Allahu a’lam bish showab.