Oleh: Kamila Amiluddin

“Jika kamu mendidik satu laki-laki, kamu mendidik satu orang. Namun jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi” (Muhammad Hatta). Kalimat ini menegaskan peran strategis perempuan/Ibu yang melahirkan generasi unggul, berakal kuat, mantap iman takwanya dalam menghadapi zaman.

Namun faktanya, peran ini banyak terabaikan. Seperti yang terjadi di Sumatera Utara di mana seorang ibu membunuh ketiga anak balitanya. Dan tiga hari kemudian, ia menyusul ketiga buah hatinya meninggal di RSUD Gunungsitoli akibat tidak makan (VIVA.co.id, 13/12/20).

Ada lagi kasus seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang dianiaya oleh ibunya hingga tewas hanya karena anak tak memahami pembelajaran daring (KOMPAS TV, 15/09/20).

Kasus seperti ini sangat banyak terjadi di sekitar kita. Apakah penyebab meningkatnya penganiayaan dan pembunuhan terhadap anak-anak? Siapakah yang bertanggungjawab atas permasalahan ini?

Sistem Sekularisme liberal: Muara Kerusakan

Berbagai permasalahan keluarga yang kita lihat saat ini, tak sekadar permasalahan individual. Melainkan karena pemberlakuan sistem yang salah. Seorang ayah yang berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggungjawab menafkahi keluarga, menganggur akibat hilangnya lapangan pekerjaan. Tersebab lapangan pekerjaan diberikan kepada pihak asing. Di saat seorang suami mencoblos dengan harapan mendapatkan pemimpin baru yang amanah, memberikan solusi atas permasalahan hidup, justru sebaliknya istri dan anak kehilangan harapan untuk hidup.

Hal ini terjadi akibat gagalnya negara menjalankan fungsinya memenuhi kebutuhan rakyat. Terlihat jelas kesenjangan antara si kaya dan si miskin di mana negara berpihak kepada pemilik modal ketimbang mengutamakan hak hidup masyarakatnya.

Yang berkuasa bebas mengeluarkan uang dengan sekehendaknya demi kepentingan pribadi tanpa memikirkan si miskin bisa bertahan dalam cengkeraman pandemi. Orang tua mati-matian berikhtiar mencari recehan demi membeli kuota internet agar anak tetap bisa belajar dan mendapatkan ilmu walau harus berurai keringat.

Lantas, apakah melalui sistem demokrasi, rakyat akan mendapatkan pemimpin yang mampu menjamin kebutuhan hidup? Rakyat sudah lelah dengan pemimpin yang hanya mampu berucap tanpa mampu membuktikan ucapannya.

Islam, Solusi Hakiki

Permasalahan yang muncul akibat sistem rusak, maka pemecahan masalah tidak akan selesai jika hanya dilemparkan kepada yang berwenang. Solusi terbaik hanya ada satu, yaitu merubah kerusakan dari akarnya dengan syariat Islam.

Dalam kehidupan rumah tangga, Islam memberikan arahan bagaimana memilih calon pasangan hidup yang sesuai bagi seorang muslim baik laki-laki dan perempuan. Laki-laki muslim, mampu menjadi qowwam (pemimpin) dalam rumah tangga, mampu bekerja keras mencari rizki halal bagi keluarga.

Pun bagi seorang laki-laki. Bagaimana memilih istri dan juga calon ibu yang baik bagi anaknya, yang utama adalah ilmu agama. Ilmu agama harus diutamakan karena seorang ibu adalah madrasatul ula yaitu sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Sehingga penting sebelum menikah, suami istri harus memiliki ilmu berumah tangga agar tidak terjadi percekcokan yang mempertajam masalah. Dalam urusan pendidikan tidak seluruhnya diberikan kepada istri karena Umar Bin Khattab mengatakan anak memilki tiga hak dari ayahnya. Pertama, memilih calon ibu yang baik bagi anaknya. Kedua, hendaklah ia memberikan nama yang baik. Ketiga, hendaklah ia mengajarinya menghafal Al-Qur’an.

Namun yang terpenting di sini adalah peran negara. Tidak akan seimbang jika solusi hanya dari individu dan keluarga. Pada masa kejayaan Islam, jika ada rakyat yang kelaparan maka pemerintah Islam memberikan fasilitas lengkap di masjid-masjid. Dari menyediakan makanan hingga tempat penginapan.

Saat hukum Islam diterapkan, tidak ada rakyat merasa kekurangan atau menjadi gembel karena telah terjamin kehidupannya oleh Islam. Dalam urusan pendidikan, juga diberikan berbagai fasilitas serta sarana prasarana untuk memenuhi kebutuhan belajar sehingga anak-anak fokus menuntut ilmu.

Sosok pemimpin dalam Islam bisa kita lihat melalui kepemimpinan Rasulullah Saw, Umar Bin Khattab, Abu Bakar As Shiddiq. Kita ambil contoh ketika Khalifah Umar melihat rakyatnya tengah kelaparan, ia merasa berdosa dan sedih atas apa yang di alami rakyatnya dan segera mengambil sejumlah makanan untuk diberikan kepada rakyatnya.

Semoga umat kian tersadarkan bahwa kita harus kembali kepada solusi hakiki yaitu sistem Islam kafah. Dengannya, kebutuhan dasar rakyat akan terpenuhi.