Oleh: Tinah Sholihah
Manajer Rumah Tangga

Berita menggegerkan sekaligus juga mengenaskan kembali terjadi di negeri ini. Seorang Ibu berinisial MT ( 30), warga Dusun 2, Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, tega membunuh 3 anak kandungnya. Semua terjadi hanya karena motif ekonomi.

Menurut suami tersangka, Nofedi, saat kejadian Ia dan ketiga anggota keluarga yang lain sedang pergi ke TPS untuk mencoblos di Pilkada Sumut.

Masih menurut Nofedi, keluarganya memang mengaku kesulitan ekonomi. Sebagai petani karet ia hanya bisa menghasilkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah dalam waktu satu minggu. Akibatnya mereka kadang hanya bisa makan satu kali dalam tiga hari.

Inilah gambaran bobroknya negara yang menerapkan sistem Demokrasi Kapitalis. Terbukti negara telah gagal mengurusi rakyatnya.

Seorang Ibu rumah tangga harus ikut menanggung beban nafkah keluarga. Akibat dari suami yang tak mampu memenuhi kebutuhan anak dan istri. Ketiadaan lapangan kerja bagi laki- laki mengakibatkan kewajiban seorang suami tak tertunaikan dengan baik.

Ironis memang, disisi lain pemerintah mengklaim telah menggelontorkan Dana Bantuan Sosial ( Bansos). Ada bermacam – macam Dana Bantuan yang bersumber dari dana APBN, APBD 1 atau APBD 2. Dengan bantuan ini diharapkan bisa membantu mereka, terutama yang berdampak pandemi Covid-19.

Namun sayang seribu sayang, banyak pihak yang berpendapat bahwa bansos yang telah diberikan pemerintah, banyak salah sasaran dan tumpang tindih dalam pelaksanaannya di lapangan.

Hal ini diakui oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Menurutnya, banyaknya bansos, dianggap sebagai kebijakan yang saling tumpang-tindih. Selain pemerintah pusat, bansos juga banyak dialokasikan dari anggaran pemerintah daerah. Ini memungkinkan terjadinya tumpang tindih data penerima bantuan. Kompas.com.

Akibatnya banyak rakyat miskin yang malah tidak menerima bantuan. Sedang mereka yang berkecukupan secara finansial menerima bantuan. Juga adanya peluang untuk dikorupsi oleh mereka yang berkepentingan

Berbeda dengan Islam, Islam telah mengatur bagaimana negara mengurusi rakyatnya. Begitu juga masalah ekonomi. Negara wajib menjamin kebutuhan dasar warganya terutama papan dan pangan.

Negara wajib menyediakan lapangan kerja terutama bagi laki-laki yang notabene sebagai kepala keluarga agar mampu mencukupi kebutuhan semua anggota keluarganya.

Apabila seorang suami tidak mampu memberi nafkah kepada keluarganya karena satu hal, sakit misalnya, maka kerabat dari pihaknya yang akan menanggung nafkah bagi anak dan istrinya. Apabila kerabatnya juga tidak mampu maka urusan nafkah menjadi urusan masyarakat sekitar. Dan apabila masyarakat tidak mampu juga, maka akan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat lewat dana yang didapat dari Baitul mal.

Jadi seorang ibu tidak akan terbebani dengan tanggung jawab nafkah keluarga. Seorang ibu hanya akan fokus kepada tanggung jawabnya, menjalankan fungsinya sebagai pengasuh, penjaga, dan pendidik anak-anaknya. Sehingga kasus atau kejadian ibu yang tega membunuh anaknya sendiri tidak akan pernah terjadi.

Wallahu a’lam bishshawwab …