Oleh : Habsah


Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan Akhyar Nasution diwakili Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak & Pemberdayaan Masyarakat (P3APM) Kota Medan Khairunnisa bersama Pelaksana tugas (Plt) Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Medan Nurul Khairani Akhyar menghadiri Peringatan Hari Ibu Tingkat Kota Medan ke-92 tahun 2020 di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan Jalan Jenderal Sudirman No.35, Kelurahan Jati Kecamatan Medan Maimun, Senin (14/12).
Dalam sambutannya, Kadis P3APM Kota Medan mengatakan di Negara Indonesia, setiap tanggal 22 Desember senantiasa diperingati sebagai Hari Ibu.

Begitu besarnya arti seorang ibu sehingga dibuat khusus satu hari yang didedikasikan untuk menghormati sosok seorang ibu. Betapa mulianya seorang ibu sampai islam mengatakan bahwasannya surga berada di bawah telapak kakinya. Bukan hanya islam Negara di berbagai belahan duniapun mengatakan bahwa ibu sangat istimewa sampai ada hari peringatannya, seperti di Indonesia yang di peringati setiap tanggal 22 Desember. Namun di balik itu semua sudahkah kaum ibu bahagia di atas fitrahnya?
Faktanya hari Ibu konon tak benar-benar memuliakan peran ibu. Undang-udang dalam demokrasi senantiasa kontrapoduktif. Di satu sisi menginginkan peran pengasuhan dalam Undang-undang perlidungan anak dan perempuan, namun disisi lain negara berharap ekonomi ditopang kaum ibu dalam undang-udang pemberdayaan perempuan. Ini salah satu bukti rusaknya sistem kapitalisme-demokrasi, mengaku mampu mensejahterakan namun gelagapan dalam solusi. Ibu tidak butuh di hari rayakan, ibu butuh dikembalikan perannya sesuai fitrah. Di sistem kapitalis para ibu diseret agar berlomba-lomba meninggalkan rumahnya demi menopang kebutuhan keluarganya. Hal tersebut membuat fitrah para ibu tercabut tanpa sisa.


Hari ini kita saksikan bahwa para ibu terkungkung oleh sistem kapitalisme, padahal Allah menciptakan wanita sesuai fitrahnya yakni sebagai seorang ibu, dan ibu diberikan amanah untuk mengatur rumah tangganya dan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tapi karena ekonomi yang semakin hari semakin terhimpit menajdikan para ibu terpaksa atau dipaksa untuk berada di dunia kerja. Wajar, sebab kapitalisme telah secara sistemik memiskinkan keluarga.
Akhirnya peran ibu sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya tidak terjalankan dengan sempurna. Dan mereka lebih menitipkan anak-anaknya pada gurunya. Inilah yang menyebabkan kedekatan psikologis dengan anak menjadi kering, anakpun yang seharusnya curhat dengan ibunya malah beralih kepada yag lain. Dan inilah yang akan memunculkan generasi bermasalah akibat kurang asuh dan asih. Pergaulan bebas, narkoba, tawuran, merupakan dampak dari terciptanya jurang pemisah antara ibu dan anak. Selain itu dapat menyebabkan lemahnya pendidikan agama dan ketiadaan penjagaan dari masyarakat dan negara.


Hanya dalam sistem Islam yang mampu membebaskan kaum ibu dari keterpurukan. Bekerja bagi seorang wanita dalam pandangan Islam adalah mubah, sementara dalam sistem kapitalisme seolah menjadi kewajiban. Islam menjamin kesejahteraan kaum wanita dan dalam Islam kaum ibu begitu dimuliakan dan ditempatkan sesuai kodratnya.
Islam menjamin agar kaum ibu benar-benar dapat menjalankan tugas utama dirumahnya, sebagai wujud ketaatan kepada Rabbnya. Bukan hanya itu Islam juga memerintahkan kaum ibu untuk menimba sebanyak-banyaknya tsaqofah Islam sebagai bekal dalam mendidik anak-anaknya serta bekal menjalani hidup yang Allah ridhoi.
Kaum ibu juga didorong untuk berkiprah dalam penyebaran dakwah Islam sebagaimana halnya laki-laki. Karena dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itu, aktivitas dakwah dalam rangka menegakkan institusi politik Islam merupakan upaya untuk membebaskan kaum ibu dari kapitalisme.


Dalam Islam, hari ibu tidak pernah ada karena tidak dibutuhkan. Sebab kemuliaan seorang ibu tidak terletak pada pengumuman setahun sekali namun sudah menyatu di dalam ajaran Islam. Kemuliaan perempuan dalam sistem demokrasi hanyalah kesemuan yang dipaksakan namun dalam Islam perempuan diposisikan sebagai mahkota di atas kepala bukan tulang punggung keluarga.