Oleh: Choirin Ummu Mush’ab

Menjadi ibu dari 3 krucil yang sedang tumbuh dan berkembang bukan hal yang mudah. Jam kerja 24 jam sepekan full. Tak ada hari libur ataupun mendapatkan gaji bulanan.

Bisa me time untuk baca buku, nulis, atau yang lainnya nunggu anak tidur. Itupun harus siap meninggalkan me time jika panggilan dari buah hati untuk mengisap ASI hadir. Atau, mengurangi jam tidur yang cukup terkuras jika ingin me time tampak sempurna.

Itu baru seuprit kisahku saat mereka hadir ke dunia. Padahal, untuk mendapatkan ketiganya, ribuan tetes darah dan air mata telah tertumpah. Hingga, ketika saat ini mengingatnya hanya bisa mengucap syukur atas kemudahan yang Allah berikan.

Lalu, bagaimana dengan para ibu lainnya? Kisah mereka tentu jauh lebih dari kisahku. Mereka jauh lebih luar biasa perjuangan dan pengorbanannya demi buah hati tercinta. Bahkan, seandainya ada yang siap mengganti dengan rupiah niscaya para ibu ini enggan menerimanya.

Sayang seribu sayang, di alam kapitalis yang semua dinilai dengan materi ini, ibu harus kembali menelan pil pahit. Jasanya yang tak terhingga, hanya dihargai 1 hari saja dengan sebutan hari ibu. Tanggal 22 Desember tepatnya.

Jika menengok sejarah hari ibu ditetapkan berdasarkan terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia yang pertama di Jogjakarta. Kongres ini bertepatan tanggal 22-25 Desember 1928. Satu dari beberapa hasil kongres itu yakni terbentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Lalu pada 1938, Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Sebenarnya melihat begitu besar jasa, perjuangan, serta pengorbanan para ibu ini tak layak jika ia hanya mendapatkan penghargaan sehari. Karena, sejatinya Islam memandang hari ibu adalah tiap hari. Dimana ibu dimuliakan dan dijadikan teladan oleh putra-putrinya.

“Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab: ‘Ibumu’. ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi’, ‘Ayahmu’.”
Hadits ini menunjukkan betapa mulia dan berharganya seorang ibu. Jasanya tak pernah lekang oleh waktu, tak pernah habis di telan zaman, dan takkan mungkin terbalas apapun.

Selain hanya mendapatkan porsi hari ibu hanya sehari, sistem kapitalis sekuler saat ini membuat para ibu tak mampu maksimal dalam menjalankan kewajibannya sebagai ibu serta pendidik generasi. Para ibu saat ini dipaksa untuk mendulang rupiah dengan dalih menyelamatkan ekonomi. Para ibu pun dipaksa meninggalkan fitrah penciptaannya sebagai orang yang paling menyayangi anak-anaknya untuk mengejar karir semata. Bahkan, para ibu dipaksa mengikhlaskan anaknya berkubang dalam jurang kemaksiatan. Sungguh, amat miris.

Padahal, Islam memuliakan posisi para ibu hingga mengkiaskan surga di bawah telapak kakinya. Hanya ibu yang salihah yang menjadi jalan surga bagi buah hatinya. Ia mampu memberikan pendidikan aqidah dan syariat Allah agar anak tidak tersesat ke jalan maksiat. Para ibu inilah yang hanya ingin anaknya taat dan tak suka bermaksiat. Hingga, kelak ketika hari perhitungan tiba dan Allah menetapkan tempat di akhirat, ibu dan anak ini bisa bergandengan ke Surga. Sungguh, inilah nikmat yang tiada tara. Tak inginkah kita mendapatkannya?