Oleh: khusniahummi

Akhir-akhir ini masyarakat sering disuguhi dengan berita memilukan yang ada di teras berita baik media cetak maupun media elektronik. Kisah bertema keluarga yang mengharukan hati manusia manapun. Walaupun negeri ini memasuki era teknologi dan tahap menuju negara maju toh ternyata masih ada orang yang tidak memiliki rumah ditengah iklan megah Meikarta. Masih banyak orang yang tidak bisa makan ditengah adegan mukbang vloger food. Masih banyak ibu rumah tangga yang bingung membagi antara uang jajan anak dengan uang belanja makan malam keluarga disamping banyak youtuber memamerkan jumlah saldo di ATM.

Namun sayangnya kisah sedih tersebut tidak segera berlalu walaupun cerita sudah berganti dengan kisah pilu wabah dari Cina yang tiba-tiba datang menguji. Cobaan dan ujian yang datang bertubi-tubi menjadikan psikologis mereka mulai tergoyah. Maka tak hayal kita akan menemui seorang ibu membunuh anaknya karena kelaparan tidak bisa makan dan pembelajaran jarak jauh. Seorang bapak tega membunuh anak dan isterinya karena takut hidup menyengsarakan keluarganya. Lalu siapa yang bisa bertahan dengan ujian yang bertubi-tubi seperti ini?

Tentu tidak akan ada manusia yang mampu bertahan ditengah kondisi seperti itu selain manusia yang bersabar, tawakal dan penuh keikhlasan. Namun masalahnya tidak semua orang sesakti itu walaupun ia seorang muslim sekalipun. Lalu siapa yang mampu mengangkat semua kepiluan yang dialami oelh masyarakat kini?

Satu-satunya yang bisa mengangkat penderitaan rakyat hanyalah negara dengan keberadaannya sebagai pemelihara dan pengurus rakyat dibawah tanggung jawabnya. Cerita orang tua yang membunuh keluarganya tidak akan terjadi jika negara memerankan posisinya sebagaimana mestinya. Seorang isteri dan anak tidak akan pernah menjadi korban dan terluka baik secara fisik maupun psikologisnya.

Namun faktanya negara selalu saja disibukkan dengan pembangunan infrastruktur dan perdebatan di gedung kenegaraan yang tidak tahu sampai kapan selesainya. Hampir tidak pernah pemimpin negara melihat betapa nestapa yang dialami oleh sebuah keluarga beratap kolong jembatan ibu kota. Mereka para pemimpin tidak pernah menanyakan bagaimana kondisi fisik maupun kesehatan mental yang dialami masyarakat dengan kondisi yang bahkan untuk dimakanpun tidak ada. Justeru mereka sendiri sibuk untuk mengumpulkan pundi-pundi yang dikumpulkan dengan cara memalak rakyat atas nama pajak. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Lantas kepada siapa rakyat harus berharap jika negara sudah berkhianat?

Masihkah kita teringat dengan kisah seorang janda beranak dua yang hidup pada masa kholifah Umar bin Khottob? Mungkin nasibnya hampir sama dengan keadaaan keluarga yang banyak kita jumpai sekarang. Saat itu sang Amirul Mukminn sedang melakukan patroli dengan salah satu ajudannya. Ketika hujan deras mereka terpaksa berteduh disalah satu rumah berisikan seorang janda dan kedua anaknya yang masih kecil menangis kelaparan. Sesaat setelah hujan reda malam itu juga Amirul Mukminin kembali menuju gudangnya dan memanggul sendiri gandum untuk diberikan kepada keluarga tadi.

Gambaran loyalitas pemimpin kepada rakyatnya tidak akan pernah kita dapati selain dalam sistem islam. Maka dengan sistem tersebut perlindungan fisik maupun psikis akan terealisasi. Maka sudah selayaknya kita mengabaikan sistem yang mengabaikan kesejahteraan dan menyengsarakan rakyatnya. Wallahu’alam bisshowwab.