Oleh: Lutfia Annisa (aktivis dakwah dan mahasiswi)

Keadaan yang sedang tidak terkendali di Indonesia bukan hanya dirasakan saat ini saja. Ternyata masalah yang sama juga dirasakan oleh beberapa negara Barat yang menerapkan sistem demokrasi, seperti Jerman, Italia, Spanyol dan masih banyak lagi. Kerusakan diberbagai lini sudah tidak bisa ditutupi bahkan dirasakan oleh semua rakyat. Sikap apatis merupakan produk dari sistem ini sehingga masing-masing individu berlomba untuk mempertahankan kehidupan pribadi tanpa memikirkan kemaslahatan orang lain.

Secara lebih mendasar, fakta riil dalam kehidupan adanya kekacauan yang tak kunjung reda adalah persoalan keadilan di ranah hukum Indonesia. Hukum yang dibuat langsung oleh manusia sesuai hawa nafsunya tentu tidak akan menghasilkan keadilan. Demokrasi menyerahkan secara keseluruhan hukum ada ditangan manusia (rakyat). Suara mayoritas dianggap menjadi titik terang adanya kebenaran. Semakin hari rakyat makin dijelaskan dalam melihat ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Misalkan kasus yang sedang diselidiki adalah penangkapan Habib Rizieq Shihab (HRS) dituding memicu adanya kerumunan di tengah adanya PSBB akibat pandemi. Sebelum adanya kerumunan yang dipicu kedatangan HRS pada 10 Desember lalu banyak berlangsung kerumunan akibat kegiatan-kegiatan lainnya tetapi tidak dipermasalahkan hingga ke jalur hukum. Kejadian sambung ayam di Busungbiu (BaliPost 5/12) hanya berakhir penggerebekan. Selain itu, proses pilkada juga memicu adanya kerumunan tidak santer diberitakan di media sosial. Baru-baru saja terjadi 3 hari yang lalu pesta seks di tengah pandemi dilakukan di sebuah rumah di seberang RS perawatan pasien corona (DetikHealth 16/12/2020) hanya berujung penggerebekan. Laporan Detik.news (17/12) menyatakan bahwa adanya kasus HRS ditangkap membuat beberapa aktivis dan politikus seperti Amien Rais bersedia menjadi jaminan penangguhan penahanan HRS karena dianggap bukan menjadi hal yang harus dibesar-besarkan. Kondisi masyarakat yang tidak kondusif karena kasus ketidakadilan ini membuat para politikus melayangkan surat penangguhan tersebut.

Sistem ini tidak layak untuk diterapkan di negeri-negeri muslim karena pilar Demokrasi bertentangan dengan Islam, bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat. Kemudian pilar selanjutnya bahwa segala kekuasaan milik rakyat. Di dalam Islam, rakyat memiliki kekuasaan untuk memilih pemimpin tapi kedaulatan tetap di tangan Pencipta yaitu Allah swt. Islam memilih pemimpin untuk menerapkan aturan-aturan yang Allah swt berikan melalui Al-Quran dan As-Sunnah. Pada QS. Al-Maidah: 48-49 menjelaskan bahwa kita diperintahkan memutuskan dan dan berhukum sesuai dengan yang telah Allah swt turunkan. Jadi, hukum yang dibuat dalam menjalankan kehidupan bukan hukum yang dibuat oleh manusia. Melainkan hukum dari Sang Maha Adil Allah swt. Penerapan hukum selain datangnya dari Allah swt maka termasuk dalam orang-orang yang zdalim (QS. Al-Maidah:45) dan fasik (QS. Al-Maidah:47). Jelas, keadilan yang dihasilkan sistem Demokrasi berbeda dengan Sistem Islam. Pembuatan hukum yang dibuat berdasar kepentingan dan hawa nafsu tidak akan mendapatkan keadilan. Maka, pilar-pilar penerapan sistem Demokrasi sangat bertentangan dengan Islam. Kedaulatan tetap ada pada Allah swt meskipun rakyat memiliki kuasa untuk memilih pemimpin dalam menerapkan hukum-hukum Allah swt. Adanya pemilihan berdasarkan baiat dari rakyat menghasilkan pemimpin yang mengabdi kepada rakyat bukan hanya sebatas bekerja dan di gaji oleh rakyat. Pemimpin adalah pelindung dan pelayan rakyat yang mewakili rakyat dalam penerapan hukum Islam.

Salah satu contoh keadilan sistem Islam adalah tertulis kisah Umar bin Khatab dalam buku Manyusuri Jejak Manusia Pilihan. Jabalah sedang melakukan thawaf dengan pengikutnya dan tidak sengaja jubah panjangnya terinjak oleh orang Arab (baduwi) kemudian spontan Jabalah memukul pria malang tersebut. Kemudia hingga berita itu terdengar sampai ke Umar bin Khatab, kemudian keduanya dipanggil dan orang Arab tadi disuruhnya untuk menempeleng balik Jabalah bin Aiham, sebagaimana tadi Jabalah memukulnya. Umar bin Khatab dikenal dengan pemimpin dengan julukan Al-Faruq yaitu pemisah yang baik dan bathil. Dari salah satu kisah tadi tampak bahwa keimanan kepada Allah swt dan penerapan sistem Islam akan mampu menghasilkan karakter pemimpin yang adil.