Oleh: Risma Aprilia (Aktivis Muslimah Majalengka)

Perempuan merupakan sosok sentral dalam kehidupan. Perannya yang begitu penting sebagai pencetak generasi masa depan. Sikap lemah lembutnya melahirkan manusia-manusia yang memiliki rasa empati tinggi.

Namun banyak yang memandang sebelah mata terhadap sosok yang perannya tak bisa tergantikan ini. Terlebih dalam sistem demokrasi kapitalis, perempuan hanya dijadikan sebagai objek penghasil pundi-pundi rupiah. Banyak penderitaan yang di alami kaum wanita dalam sistem yang saat ini diterapkan. Mereka mengalami pelecehan seksual, KDRT, human trafficking, sebagai tulang punggung keluarga dan yang semisalnya.

Seperti yang diungkapkan Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun mencontohkan, di beberapa negara bayi perempuan yang baru lahir tidak bisa langsung mendapatkan sertifikat atau akte kelahiran. Di sisi lain, tidak semua negara memprioritaskan anak perempuan untuk mendapatkan imunisasi.

Untuk tingkat keluarga, hal serupa juga terjadi. Misalnya, ketika sebuah keluarga mengalami keterbatasan ekonomi yang akan didahulukan untuk mendapatkan akses pendidikan, yakni bersekolah, adalah anak laki-laki.

Dia pun mengatakan berdasarkan hasil studi Bank Dunia, ada lebih dari 150 negara memiliki aturan yang justru membuat hidup perempuan menjadi lebih susah. (money.kompas.com, 20/2/2020)

Demokrasi kapitalis membuat solusi untuk permasalahan tersebut. Yakni kesetaraan gender yang di gaung-gaungkan mereka, agar terciptanya keadilan bagi kaum perempuan. Dimana perempuan diberi kebebasan untuk melakukan apapun yang diinginkan, bahkan apapun yang dilakukan laki-laki perempuan harus melakukannya, sehingga timbullah kesetaraan diantaranya. Padahal itu sesuatu yang keliru. Karena laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang berbeda, sehingga jika dipaksakan akan berbahaya.

Berbeda halnya dengan Islam dalam memperlakukan perempuan. Dimana perempuan ditempatkan sesuai dengan fitrahnya. Yakni sebagai ibu pencetak dan pendidik generasi, yang kelak akan menghasilkan para bibit-bibit unggul dalam bidangnya. Namun tetap menjadi generasi yang berada dalam rel ketakwaan.

Negara juga membuat seperangkat aturan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, terkait bagaimana cara perempuan berpakaian, bersosialisasi, serta kewajiban-kewajiban lainnya agar terhindar dari fitnah, senantiasa terjaga izzah dan iffahnya.

Islam pun memandang perempuan sebagai sosok yang mulia. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakan aku harus berbakti pertama kali?’. Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu’. Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’, Nabi SAW menjawab ‘Ibumu’.

Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’, beliau menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘ Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab ‘Kemudian ayahmu”.

Dalam peperangan Islam melarang keras untuk tidak melukai perempuan, anak-anak, orang tua yang sudah renta, larangan merusak pohon-pohon dan sarana umum lainnya. Perihal mencari nafkahpun Islam tidak membebankan pada perempuan, namun laki-lakilah sebagai kepala keluarga yang diberikan tanggung jawab, dengan negara sebagai pemberi fasilitas lapangan kerja untuk laki-laki.

Wallahu’alam bish-shawab.