Oleh: Maman El Hakiem

Hari menjelang sore. Langit mendung, sepertinya hujan segera turun. Sementara jualanku masih banyak, baru laku beberapa porsi. Menjadi pedagang es cendol keliling, apalagi di musim hujan harus banyak bersabar, terlebih setelah dzuhur hujan turun tiba-tiba.

Seperti hari itu, sejenak kurebahkan tubuhku di emper masjid, setiap menjelang waktu Ashar mampir di Masjid Al Kautsar, sekalian ikut shalat berjamaah, biasanya jamaahnya cukup banyak yang melirik es cendol untuk membelinya.

“Rezeki itu tidak akan lari kemana, dikejarpun malah semakin menjauh jika belum rezekinya.” Teringat nasihat ajengan saat taklim di masjid tersebut. “Istriku tentu berharap dapat rezeki berlebih, teringat besok jadwal pembayaran sewa kontrakan.” Aku berpikir keras agar hari ini jualanku bisa habis.

“Mang, es cendolnya dua porsi ya!” Seseorang membuyarkan lamunanku. Rupanya dua orang muda-mudi sengaja memesan es cendol.
“Oh siap mas…dengan istrinya ya?” Jawabku, sembari bergegas melayaninya.

“Ah mang, masih muda begini belum nikah kok…masih pacaran.” Jawabnya tanpa malu-malu, sosok wanita yang bersamanya pun seperti mengiyakan.

“Wah…mas cepat halalkan dia, nanti tergoda rayuan setan loh?” Aku memberanikan menasihatinya. “Kenapa gak segera menikah saja?” Aku bertanya lagi.
“Perjalanan masih panjang mang….nanti lah kalau sudah mapan.” Jawabnya enteng. Padahal, usiaku masih belum tua amat, usia 25 tahun dipanggil mang karena jualan keliling hehe.

Begitulah pergaulanan remaja di tengah sistem sekularisme, banyak perkara yang halal seolah berat untuk didapat. Karena asumsi yang haram saja susah apalagi yang halal. Mendapatkan jodoh jika tidak lewat pacaran, katanya ketinggalan jaman dan mereka merasa dibatasi pilihannya.

Setelah melayani banyak pembeli sore itu, benar saja hujan turun. Aku segera bergegas pulang ke rumah, mengingat es cendol tinggal sedikit lagi. Pikirku, sisanya bisa dibagikan ke tetangga, karena ada sebagian dari rezeki kita yang menjadi hak mereka.

Dorongan es cendol “Barokah” nama yang diberikan istriku di rumah, katanya sebagai doa agar rezeki yang diberikan suaminya, halal dan berkah.

“Alhamdulillah sudah pulang Mas, air teh hangatnya sudah siap di meja, biar es cendol sisanya saya bantu mengemasnya dulu.” Kata istri yang selalu menyambutku dengan senyumnya.

Aisyah, nama istriku memang sangat murah senyum. Pertama bertemu dia dan berjodoh saat aku diamanahi mengajar tahsin di mushola ayahnya. Tidak panjang cerita, ayahnya langsung menjodohkan kami, sekalipun tahu aku belum punya penghasilan. “Menikahlah biar kaya!” Nasihat beliau. (Bersambung).