Oleh : Maitsa Nabilah Atsani

Ku rebahkan tubuhku di atas kasur
Menatap dinding dinding langit kamar
Dan terbayang,
sosok wanita yang mulai renta
Wanita yang pertama kali memelukku di tangis bahagia nya
Wanita yang telah memberikan seluruh kasih sayangnya
Bahkan pada saat aku belum pernah ia lihat wujudnya

Ya, ia adalah ibuku
Yang terbangun tengah malam dengan isakkan tangis di sujudnya,
Tergelar rapi sajadah indah yang tertetesi buliran bening hangat dari matanya
Merasakan dinginnya angin malam yang merada di tubuhnya
Hanya untuk berdoa demi masa depanku, seorang anak yang telah berkali kali menyakitinya

Ia adalah ibuku
Yang dalam senyumnya ia tutupi berjuta juta keluhnya
Derita siang malam yang tak pernah ia katakan
Tak sedikit pun membuat ia berhenti untuk bisa membuat harapan baru bagiku
Ia hapus keringatnya, hingga ia bisa patahkan kakinya, bahkan nyawanya bukan apa apa jika harus ia tukar untuk kebahagiaanku

Ibuku memang tidak mengharapkan gulungan uang kertas yang ku dapatkan di kesuksesanku nanti
Juga tidak mengharapkan tumpukan emas yang ku dapatkan di kesuksesanku nanti
Tapi hanya sekedar kebahagian dan RidhoNya yang ia sangat inginkan ku dapati di kesuksesanku nanti

Bu,
Jika tangismu adalah air
Maka aku siap menjadi matahari yang akan menyurutkannya
Jika luka mu adalah darah
Maka aku siap menjadi lintah yang akan menghapus darahnya

Mungkin aku memang lemah dalam berjuang, tapi doa ibuku sangatlah hebat untuk mendorongku terus berjuang sampai detik ini

Lagi lagi mengapa baru aku sadari,
Pantaskah aku mendapatkan surgamu ibu?