Oleh: Maman El Hakiem

“Sabar sebentar, karena dunia berputar.” Kalimat indah yang sengaja ditempel di dinding rumah.
Hujan masih menyisakan gerimisnya. Rumah kontrakan yang kami diami sangat sederhana, sebagian atapnya ada yang bocor. Hampir tiga tahun bertahan, penghasilan dari jualan es cendol belum cukup untuk bisa memiliki rumah sendiri. Meskipun, Aisyah turut membantu penghasilan dari keterampilannya membuat aksesoris berbahan kain perca di rumah.

Sebenarnya banyak yang ingin memberikan pinjaman, bahkan fihak KPR membujuk kami untuk segera daftar kepemilikan rumah. Berbagai tipe rumah dan kemudahannya diberikan, tetapi tetap saja selagi masih ada unsur riba kami menolaknya. Aisyah selalu bilang, “lebih baik tetap menjadi “kontraktor” daripada punya rumah sendiri tapi diperangi Allah karena dosa ribanya.”

Malam itu sepulang shalat Isya dari masjid, kelihatan Aisyah menghitung-hitung uang hasil dari jualan es cendol tadi siang. “Alhamdulillah…Mas, rezeki kita cukup untuk bayar kontrakan rumah besok pagi, tadi siang sewaktu mas jualan, Bu Broto pemilik kontrakan menagih, katanya uangnya sangat dibutuhkan, ada keluarganya yang sakit.” Ucap Aisyah dengan wajah cerah.

“Ya..Aisyah, rezeki telah diatur Allah SWT…maafkan Mas ya! Sampai usia pernikahan tiga tahun ini, kita masih saja tinggal di kontrakan. “ Jawabku. “Gak usah mengeluh gitu toh…Selama ini, apa aku selalu menuntut? Yang penting kita sama-sama menjalani kehidupan ini dengan sabar.” Sungguh ucapan seorang istri yang selalu menyejukan.

Bukan hanya masih tinggal di kontrakan, kami berdua belum dikaruniai amanah seorang anak pun. Sehingga rumah rasanya terasa sunyi tanpa kehadiran anak. Bagi setiap pasangan suami istri, kehadiran seorang anak adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Beberapa kali kami periksa kesehatan refroduksi ke dokter spesial kandungan, sebenarnya tidak ada masalah.

Lagi-lagi Aisyah yang selalu menghibur dirinya dengan sering menyampaikan pesan Allah SWT, tentang bagaimana amanah anak itu bisa menjadi ujian bagi orang yang belum sanggup memikulnya. “Belum punya anak, bukan berarti kita berburuk sangka kepada Allah, sekalipun kita tidak merasa ada masalah. Justru masalah terbesar dalam hidup, jika hilangnya keimanan terhadap qada dari-Nya.” Kata itu diucapkan Aisyah k saat mengetahui hasil test pack-nya selalu negatif.

“Aisyah apa kabarnya malam ini?’ Aku menyapanya dengan isyarat yang difahami manakala hari beranjak malam, terlebih sehabis hujan.
“Hmm….kayaknya meskipun habis hujan, di langit bulan baru datang deh, sabar ya!” Jawabnya dengan senyum lesung pipinya. “ Ah…Aisyah bisa saja.” Jawabku sedikit cemberut. Tetapi, itulah kebahagiaan kecil yang selalu diiringi canda sehingga apapun tetap disyukuri. (Bersambung).