Oleh: Maman El Hakiem

Aisyah istriku, memang bukan Aisyah binti Abu Bakar. Tetapi, ia ingin mencontoh seperti istri Rasulullah Saw tersebut. Nama adalah doa terbaik yang diberikan orang tua kepada anaknya. Abah Hasan, ayahnya Aisyah pernah menitip pesan agar aku bisa menjaga amanahnya.

Sejak menikah mencoba untuk tidak tinggal bersama mertua, karena itu mengontrak rumah adalah pilihan agar bisa belajar hidup mandiri. Bagi Aisyah yang anak semata wayang, memang pilihan berat karena tentu tidak bisa intens merawat kedua orang tuanya. Tinggal bersama suami, bentuk ketaatan pada suami yang bernilai pahala di hadapan Allah SWT.

Mertua adalah orangtua kedua setelah menikah, karenanya aku yang akan menjaganya.Setiap akhir pekan kami mengunjunginya, ada saja cerita Abah Hasan yang bisa diambil hikmahnya. Tentang masa kecil puterinya, tentang mushola yang sekarang menjadi milik warga karena sudah di wakafkan, hingga petuah-petuah keagamaan dalam mengarungi hidup berumah tangga.
“Nak, bagaimana apakah Aisyah tidak membuatmu kecewa?” Tanya Abah Hasan, tampak seperti mengungkapkan apa yang selama ini dipendamnya di hati.

“Abah ini…justru mungkin saya yang membuat abah kecewa, karena menafkahi puterinya dari jualan es cendol keliling?” Jawabku dengan nada pelan. Abah Hasan tersenyum, sembari menyeruput kopi hangatnya, lalu ia melirik Aisyah.

“Apa kamu kecewa, mendapatkan suami seperti Nak Rifan?” Tanya Abah Hasan. Tentu, Aisyah yang semula diam, ia melirik manja kepadaku. Masya Allah…membuatku bahagianya.

“Kecewa banget, Bah.” Jawabnya singkat, membuatku kaget luar biasa. Tidak menyangka jawabannya seperti itu. “Astaghfirullah…memang ada masalah apa gitu?” Abah Hasan heran karena puterinya di luar ekspetasinya, dikira rumah tangga puterinya tersebut baik-baik saja.

“Ya atuh Abah…masa gak kecewa, suami kebanggaan abah ini, jadi lelaki panggilan setiap hari. Buktinya jualannya hampir selalu habis hihi.” Jawab Aisyah tertawa renyah. Semua yang ada dibuat tertawa, begitulah cara kami mencairkan hubungan silaturahmi keluarga, berbagi bahagia bisa dengan hal-hal kecil tidak selalu dengan harta benda.

Suami dan istri adalah dua makhluk di muka bumi sebagai buah dari akad pernikahan yang sah dan berkah, ketika mampu menciptakan kebahagiaan.

Ukuran bahagia itu adalah adanya aturan halal dan haram dari Allah SWT yang ditaati. Mendapatkan jodoh terbaik adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa, terlebih jika mampu menguatkan tali agama untuk diterapkan di tengah kehidupan. Bahagia itu bersamamu, bahagia bersama syariat Islam.

Wallahu’alam bish Shawwab.

*kado untuk istriku, Y. Aliyah yang telah melahirkan M. Ahda Alfityan, M. Fathin Zaidan, Nafisa Fathia Afshah dan Najma Shafa Rahima.