Oleh: Rina Yulistina

Akhir tahun 2020 menjadi moment terpenting bagi kita semua untuk melihat bagaimana kondisi negara kita tercinta untuk itulah acara Risalah Akhir Tahun (RATU) Sabtu, 26 Desember 2020 menjadi acara yang sangat menyedot perhartian masyarakat, digital event tersebut ditonton hampir seratus ribu mata melalui kanal zoom maupun maxbuzz dari semua kalangan mulai dari Tokoh, Mubalighoh, Mahasiswa, Pelajar hingga Ibu Rumah Tangga.

Acara ini dikemas sangat apik, diawali dengan pembukaan MC oleh Ustadzah Firda dilanjut dengan video. Di dalam video tersebut kita dibuat tercengang, demokrasi yang selama ini kita nilai sebagai sistem terbaik ternyata menghasilkan dampak yang sangat buruk bagi negera kita sekaligus masyarakat, di dalam video tersebut juga memaparkan bagaimana dua guru besar Sistem Pemerintah Havard University membuka tabir kematian demokrasi dalam bukunya How Democracies Die, kematian demokrasi disebabkan kekuasaam otoriter.

Menarik saat ditanyakan apakah demokrasi bisa diselamatkan. Ustadzah Dedeh sebagai salah satu pembicara dengan tegas menyatakan tidak ada harapan. Beliau menjelaskan karena dua hal mendasar (1) Aturan dari demokrasi berasal dari manusia, bukan dari pencipta manusia. Padahal akal manusia lemah dan terbatas. Contohnya menjelang pemilu saling serang membuka keburukan, namun setelah pemilu usai berubah sesuai dengan kepentingan. (2) demokrasi berselingkuh dengan kapitalisme. Karena demokrasi butuh modal besar dari sponsor, yakni pemilik modal. Konsekuensinya, terjadilah politik balas budi, dalam bentuk membuat UU pesanan pemilik modal hingga melakukan korupsi.

Ustadzah Pratma sebagai pembicara kedua juga menjelaskan bahwa demokrasi gagal mewujudkan tujuan bernegara. Baik kesejahteraan, keadilan, kemandirian sebagai bangsa, maupun persatuan.

Beliau juga menjelaskan tidak mungkin terjadi, penerapan Islam dalam sistem demokrasi. Ini karena demokrasi batil sedangkan Islam haq. Terbukti perjuangan Islam di parlemen tak pernah berhasil. Contoh nyata seperti kasus RUU Pornografi dan Pornoaksi, yang kemudian menjadi UU Pornografi. Contoh lain seperti RUU Pelarangan Minol mendapatkan tentangan keras untuk bisa melaju ke UU. Ini semua karena demokrasi lahir dari sekulerisme.

Demokrasi yang jelang ajal perlu sistem pengganti. Khilafah salah satunya, sebagai sistem alternatif pengganti demokrasi. Namun demikian, sayangnya tidak sedikit yang menyangsikan kemampuan khilafah dalam mewujudkan tujuan bernegara. Untuk itulah, pembicara terakhir, Ustadzah Ratu Erma menjelaskan soal ini. Khilafah ajaran Islam perintah dari Allah, sudah dijalankan oleh Rasulullah. Khilafah juga sebagai jalan untuk menerapkan syariat. Ada 4 pilar dalam khilafah. (1) kedaulatan ditangan syara’, (2) ketaqwaan pemimpin, (3) birokrasi yang efesien, (4) kesatuan komando.

Persiapan yang harus dilakukan umat menuju tegaknya khilafah dijelaskan secara gamblang oleh ustadzah Dedeh.

Yakni 3 hal : (1) Pemahaman yang benar tentang kerusakan demokrasi, (2) Keyakinan yang kokoh bahwa sistem Khilafah adalah solusi dan satu-satunya sistem yang benar, (3) Aksi nyata, bukan sekedar menjadi penonton namun pemain dengan mendakwahkan Khilafah dalam tiga langkah. Yaitu. Pertama, dakwah pemikiran. Kedua, merubah pemikiran. Ketiga, mencari kelompok yang memperjuangkan Khilafah.

Untuk itulah butuh empat langkah menjemput kemenangan, yaitu: (1) Perubahan hakiki harus ada jamaah, (2) Aktivitas jamaah seperti yang termaktum dalam Al Quran Ali Imron 104 yaitu jamaah yang menyerukan amal ma’ruf nahi munkar dengan perubahan komprehensif, (3) Jamaahnya berbentuk partai politik, (4) aktivitasnya harus berideologi Islam, jelas ustadzah Pratma.

Menghadapi umat yang dinilai banyak kalangan belum siap, kita tidak bisa hanya melihat realitas. Ketika masih banyak kemaksiatan bukan bearti Khilafah tak bisa tegak. Yang kedua, kita harus menggunakan standart yang digunakan Islam, sambung ustadzah Ratu Erma.
Menilai kesiapan masyarakat bisa dilihat dari keinginan mereka untuk diterapkannya Islam, adanya opini umum untuk menerapkan Islam, dan menyerahkan kekuasaan kepada Islam.”

Peserta demikian semangat dan antusias mendengarkan penjelasan demi penjelasan yang gamblang hingga akhir acara. Berharap inilah langkah nyata yang seharusnya konsisten dilakukan, hingga akan mewujudkan pemahaman sempurna di tengah umat, demi terwujudnya kemenangan Islam. Karena demokrasi telah mati khilafah dinanti.