Oleh: Alfia Purwanti, S.M.

Umat muslim kembali tertoreh luka. Harapan yang nyata bersatu dengan khianat. Seperti kasus konflik Zionis dengan Palestina yang seolah dipelihara dan diberikan akses lebih atasnya.

Kini konflik tersebut memulai babak baru, yakni empat negara di Timur Tengah sepakat melakukan normalisasi hubungan dengan Israel dalam waktu tiga bulan terakhir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Sudan, dan Maroko.
Sejumlah pihak khawatir terobosan ini mengubah lanskap penyelesaian konflik Israel-Palestina yang belum menemukan titik terang. (cnnindonesia.com 22/12/2020).

Mengapa pemimpin muslim berbondong-bondong melakukan normalisasi? Bukankah salah satu sifat Yahudi penghianat, mengapa masih mudah untuk percaya? Padahal merekalah yang pertama menumpahkan darah kaum muslim, bahkan tidak terhitung nyawa yang telah menjadi korban kebiadaban Israel dan negara-negara penyokongnya. Amukan rudal Israel telah menewaskan masyarakat sipil yang tak berdosa. Lalu mengapa pemimpin muslim mendukung normalisasi tersebut.

Allah bahkan tegas memperingatkan kepada kita, dalam FirmanNya :

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS Al Baqarah: 120)

Kini, Zionis membidik Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat ( AS) Donald Trump menjanjikan memberikan bantuan pembangunan hingga 2 miliar dollar AS (Rp 28 triliun) jika Indonesia mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel. (kompas.com 23/12/2020).

Akankah pemerintah Indonesia terbuai oleh janjit manis penjajah? Sebagaimana yang kita tahu, bahwa persoalan dalam negeri begitu kompleks, dari msalah ekonomi Indonesia yang masuk kedalam jurang resesi, kesehatan yang mahal, hingga kasus stunting yang mengancam generasi bangsa.

Nationstate dan Hilangnya Nurani Pemimpin Muslim

Zionis sendiri tumbuh subur berkat bantuan dan dukungan total Amerika. Untuk membersihkan Zionis dari tanah Palestina, yang harus dilakukan yakni dengan memutus apa pun yang membuatnya tumbuh dan berkembang biak.

Dukungan penuh AS terhadap Zionis sejatinya telah membuka borok AS. Negara yang menyebut dirinya polisi dunia dan antiteror itu nyatanya menjadi negara pendukung utama teroris seperti Zionis.

Kebutuhan mendasar Palestina saat ini adalah bantuan militer untuk mengusir tentara Zionis dari bumi Palestina. Namun kenyataannya, pemimpin kaum muslim diam tak bergerak. Dari 50 negeri Muslim, tak ada satu pun yang mengirimkan tentaranya. Mereka hanya mampu mengecam tindakan Zionis atas Palestina, yang sama sekali tak membuat takut Zionis.

Pemimpin muslim bungkam karena mayoritas adalah antek Barat. Atas nama kepentingan nasionalnya mereka rela melihat saudaranya teraniaya.

Seharusnya tak ada alasan bagi umat muslim untuk takut kepada AS, apalagi Zionis. Meskipun saat ini industri militer dunia Islam dalam keadaan mundur, namun secara kuantitas potensi militer dunia Islam sungguh sangat besar. Satu persen saja dari semiliar penduduk dunia Islam, akan ada 10 juta tentara muslim yang siap membela kaum muslimin.

Kebutuhan akan militer tidak dapat maksimal apabila umat muslim masih tersekat dengan Nation state. Nation state telah menyekat negeri-negeri muslim dan menghilangkan ukhuwah atas nama keamanan dalam negeri.

Nationstate lahir dari rahim peradaban barat hari ini yang mengadopsi sistem kapitalis sekuler. Agenda ini telah sukses menjadikan umat terpecah belah atas nama kemerdekaan dan kedaulatan bangsanya.

Terlebih kapitalis sekuler menumbuh suburkan jalan kompromi memisahkan agama dari kehidupan. Maka inilah gambaran nyata sekalipun pemimpin muslim ditengah mayoritas umat muslim, agama bukanlah bagian dari yang dijaga bahkan minim pengamalan selain ibadah.

Jalan kompromi atau agama terpisah dari kehidupan memang menjadi cikal bakal lahirnya kapitalisme yang memimpin peradaban dunia hari ini, standarnya keuntungan atau manfaat. Bahkan selevel negara tidak lain mencari aman dan untung saja. Ironi kehidupan kaum muslim tercabik ideologi kapitalis.

Ideologi Islam dan kepemimpinannya harapan nyata pemersatu umat

Islam yang diturunkan sepaket beserta aturan, layak dijadikan pedoman hidup. Bukan aturan ibadah saja, melainkan ranah pemerintahan.

Pemerintahan dalam islampun mempunyai wewenang atas satu komando kepemimpinan, dan mempunyai rancangan aturan untuk mengatur umat dan menerapkan syariat sesuai perintah pencipta.

Prinsip utama politik umat adalah menampilkan Islam dalam sosok negara yang kuat, penerapan hukum-hukumnya secara baik, serta upaya terus menerus untuk mengemban dakwahnya ke seleuruh dunia. (Buku Peraturan Hidup Dalam Islam hal 213)

Oleh karenanya umat muslim membutuhkan kepemimpinan tunggal yakni dibawah naungan khilafah Islamiyyah.

Khalifah akan menyerukan jihad memerangi musuh-musuh Islam. Hanya jihad dan khilafah solusi fundamental untuk Palestina dan negeri muslim lainnya yang masih terjajah. Bahkan, induk yang memberinya makan saat ini (AS) akan dengan mudah terkalahkan.

Hanya Khilafahlah rumah dan tempat aman bagi kaum muslim meminta perlindungan. Dengan Khilafah kaum muslimin terjaga kehormatan, nyawa, dan hartanya. Semoga Allah segerakan untuk kita. Wallahu a’lam.