Oleh : Mu’allimah

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman.

Lagu besuan Koes Plus diatas menggambarkan betapa subur dan makmurnya hidup di hamparan nusantara ini. Namun sayangnya apa yang tersirat tidaklah seperti apa yag tersurat pada realitas kehidupan penduduknya saat ini khususnya perempuan. Seperti yang terjadi pada Elitha Tri Novianty, salah satu buruh perempuan yang bekerja pada perusahaan produsen es krim PT. Alpen Food Industry (AFI) atau Aice. Perempuan berusia 25 tahun ini sudah berusaha mengajukan pemindahan divisi kerja karena penyakit endometriosisnya kambuh. Akan tetapi perusahaan justru mengancam akan menghentikannya dari pekerjaan, sehingga dia tidak memiliki pilihan lain selain harus tetap bekerja dan akhirnya, dia pun mengalami pendarahan hebat akibat bobot pekerjaannya yang berlebihan dan terpaksa melakukan operasi kuret pada Februari lalu (The Conversation, 18 Maret 2020)


Beberapa hari yang lalu tepatnya 22 Desember di Indonesia diperingati sebagai apa yang disebut Hari Ibu. Secara internasional meski dirayakan secara berbeda-beda waktu dan tanggalnya, perayaan hari ibu ini dimaksudkan sebagai perhargaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak maupun lingkungan sosialnya. Jadi pada hari itu ibu benar-benar dibebastugaskan dari tugas domestik hariannya seperti memasak, mencuci, merawat anak dan sederet urusan rumah tangga lainnya. Sementara di Indonesia makna hari Ibu merupakan peringatan akan perjuangan perempuan dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Nah, apakah dengan apresiasi seremonial tahunan seperti ini mampu memberikan dampak positif bagi nasib perempuan. Jika iya mengapa masih terjadi begitu banyak ketidakadilan kepada perempuan, pun jika tidak, mengapa hal ini bisa terjadi.

Posisi perempuan dalam kapitalisme

Dalam perspektif kapitalisme, low budget high return adalah merupakan rumus baku dalam memperoleh manfaat atau keuntungan dalam segala hal. Dalam dunia bisnis misalnya, perempuan mendominasi pasar tenaga kerja dengan upah yang rendah dan loyal. Dengan ‘kelebihan’ seperti ini perempuan mudah mengakses pekerjaan yang kemudian secara perlahan para lelaki mengalami kesulitan kerja dan akibatnya banyak terjadi PHK.

Hal ini tidak mengherankan mengapa seiring dengan berjalannya waktu peran ibu sudah banyak mengalami pergeseran dimana kurang lebih 7,5 juta perempuan Indonesia menjadi tulang punggung keluarga karena kemiskinan dan memaksa mereka untuk turun gelanggang bersaing memperebutkan kesempatan kerja dengan para lelaki. Sementara lebih dari 2,5 juta menjadi TKW meninggalkan keluarga mereka, padahal ancaman kekerasan bahkan pembunuhan berada didepan mata. Hal ini menunjukkan betapa kemiskinan, pelecehan, penindasan dan eksploitasi menghimpit kaum perempuan dimanapun berada tak terkecuali di negeri ini. Apalagi pada situasi pandemi seperti saat ini, perempuan menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya berhenti bekerja, diisolasi atau meninggal dunia karena COVID-19

Sistem kapitalisme memandang perempuan hanya sebagai komoditas dan “mesin pencetak” uang semata. Perempuan adalah aset yang bisa menggerakkan industri yang kemudian dapat menyumbangkan pajak yang besar bagi negara. Bagi pemerintah hal ini dianggap positif karena dapat mengurangi angka pengangguran bahkan dianggap sebagai pahlawan devisa.

Meskipun ini nampak biasa dan sepele namun sungguh dibalik propaganda ini ada dampak negatif bagi perempuan, anak-anak, keluarga dan masyarakat. Perempuan akan semakin banyak meninggalkan keluarganya untuk bekerja, baik terpaksa maupun sukarela. Kalau sudah begini tentu akan banyak anak-anak yang kurang perhatian dan kasih sayang orang tua. Selanjutnya muncul masalah-masalah sosial seperti kenakalan remaja seperti tindak kriminalitas dan juga pergaulan bebas. Jika sudah demikian, pihak pertama yang akan dipersalahkan adalah ibu karena dianggap lalai dalam mendidik anak-anaknya. Sungguh dilematis menjadi perempuan dalam sistem kapitalisme ini, betapa nestapa menjadi seorang ibu di tanah yang katanya surga karena dia harus mengupayakan sendiri kesejahteraannya.

Islam memuliakan perempuan

Jika kapitalisme menempatkan perempuan sebagai objek yang mudah dieksploitasi, maka Islam sebaliknya, karena Islam menempatkannya pada posisi yang mulia. Islam tidak memerlukan perayaan hari ibu atau yang semisalnya karena perayaan semacam ini dalam kapitalisme dimaksudkan sebagai penebusan rasa bersalah kepada keluarga terutama kepada sosok ibu karena kesibukan mereka selama ini sehingga jauh dari keluarga lalu jadi kurang akrab, kurang harmonis dan seterusnya.

Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh sehingga tidak ada satupun yang terlewatkan apalagi terhadap sosok perempuan utamanya seorang ibu. Islam memberikan jaminan kesejahteraan terhadap seorang perempuan, menjaga dan menjunjung tinggi martabatnya. Dimana Ketika seorang perempuan ditinggal suaminya, maka nafkah kehidupannya dan anaknya ditanggung oleh keluarganya, dan jika keluarganya tidak mampu, maka negara yang akan menanggungnya. Islam juga tidak membiarkan seorang perempuan meninggalkan peran pentingnya sebagai ummun wa rabbatul bait, seorang ibu dan pengatur rumah tangganya sehingga bisa terfokus untuk mengurus dan mencetak generasi penerus yang berkualitas dan pengisi peradaban gemilang.

Namun demikian bukan berarti seorang perempuan tidak boleh turun ke ranah publik untuk bekerja misalnya, bukan karena dorongan nafkah akan tetapi lebih kepada sumbangsih kepada umat sehingga hasilnya berbeda. Disinilah diperlukan formalisasi aturan kehidupan yang berlandaskan syariat Islam yakni negara Khilafah sehingga semua kebaikan tersebut dapat benar-benar terwujud dan bukan utopia belaka. Wallahu A’lam Bish showaab.