Reporter: Sri Wahyuni, S.Pd


Dalam mewujudkan kehidupan yang berkah, event online akbar nasional risalah akhir tahun 2020 bertajuk “Berkah dengan Khilafah” sukses terselenggara dengan dihadiri lebih dari 27.800 peserta, dibuka langsung oleh Hj Firdaus Mutmainnah, S.Si dengan sangat antusias menyapa para peserta baik di ruang zoom maupun youtube. Acara kemudian dilanjutkan dengan dipandu oleh ustadzah Nanik Wijayanti. Sebelum berlanjut pada sesi diskusi, tayangan video yang menunjukkan betapa raelita kehidupan yang bertolakbelakang dengan jargon demokrasi oleh, dari, dan untuk rakyat menjadi pembuka diskusi, yang kemudian berlanjut pada pertanyaan “Apakah demokrasi masih bisa diselamatkan?”
Narasumber pertama Hj. Ir. Dedeh Wahidah Achmad menjawabnya dengan sangat lugas bahwa demokrasi tidak bisa diselamatkan karena ada dua faktor. Pertama, demokrasi berasal dari manusia yang lemah dan serba terbatas. Kedua, demokrasi berselingkuh dengan kapitalisme. Dimana hal ini terjadi lantaran mahalnya biaya kampanye sehingga berakibat terjalinnya hubungan diantara keduanya. Kerja sama inilah yang justru melanggengkan kepentingan pengusaha, sementara di sisi lain rakyat dihianati. Dengan dua fakta tadi, beliau menyimpulkan bahwa tak bisa lagi berharap pada demokrasi. Beliau lalu menutup dengan mengutip sebuah surat dalam Al-quran “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki, hukum siapakah yang lebih baik bagi orang yang beriman” (QS. Al-Maidah: 50). Lanjut beliau, surat ini sebenarnya adalah celaan agar tidak mengmbil hukum selain dari Allah, nah demokrasi adalah hukum yang bukan berasal dari Allah sehingga harus ditolak.
Penjelasan berikutnya dilanjutkan oleh Ustadzah Pratma Julia Sunjandari, S.P terkait pertanyaan “Bagaimana cara menyadarkan kaum muslimin bahwa demokrasi telah gagal mewujudkan tujuan bernegara?” pertama faktor kesejahteraan, di mana demokrasi tidak mensejahterakan perempuan. Perempuan harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup yang bahkan tak jarang mendapat perlakuan yang buruk. Kedua faktor keadilan, dimana hukum tumpul ke atas namun tajam kepada yang bukan siapa-siapa. Beliau mengambil contoh dari aktivitas kerumunan saat pandemi yang diberlakukan berbeda dimana yang satu ditindak tegas sementara yang lain dibiarkan. Ketiga adalah faktor kemandirian, dimana atas dasar pembangunan negara dengan mudah membuka hubungan bilateral dengan negara lain maksudnya adalah investasi namun ujungnya adalah hutang. Faktor kelima adalah persatuan, dimana munculnya keinginan untuk papua berlepas diri dari indonesia. Hal ini terjadi karena orang papua tak dapat kesejahtraan.


Masih disampaikan oleh Ustadzah Pratma Julia tatkala menjawab pertanyaan “Ketika kaum muslim menginginkan kehidupannya diatur oleh syariat Islam, kira-kira bisakah demokrasi memberi jalan pembelaan untuk penerapan syariat Islam?” Beliau kemudian menyampaikan secara jelas dengan menyebut “Mustahil”. Alasan yang pertama adalah syariah, tercantum dalam al-quran surat Al-Baqarah ayat 2. Demokrasi adalah sistem yang bathil sementara islam itu kebenaran. Sehingga jika dilihat, antara bathil dan hak tak bisa disatukan. Alasan yang kedua, secara realitas hal ini sulit diwujudkan. UU pornografi misalnya diinginkan masuk ke program legislasi nasional namun ternyata gagal, setelah berjuang lewat pansus dan hendak ketok palu namun yang terjadi UU penting yang ada didalamnya dihilangkan sehingga porno aksinya hilang tinggal pornografi saja. Kemudian terkait minol, RUU Minol mendapat pertentangan yang luar biasa. Sehingga menjadi pertanyaan siapa sesungguhnya yang menentukan hukum apakah manusia atau Allah? alasan ketiga, demokrasi lahir dari asas pemisahan agama dengan kehidupan, jadi apakah mungkin syariah dapat terwujud dalam sistem demokrasi?


Penjelasan berikutnya oleh Ustadzah Ratu Erma Rahmayanti, S.P yang menjawab pertanyaan “Apa jaminan jika sistem Khilafah akan membawa pada kesejahteraan?” Pertama, kedaulatan di tangan hukum syara’. Islam punya konsep bernegara yang kemudian dilanjutkan dengan adanya hukum atas pelanggaran syariat. Kedua, kemampuan pemimpin. Yakni punya ilmu ketatangaraan, punya skill, dan taqwa shingga terbentuk karakter yang tegas. Taqwa inilah yang tak hadir pada pemimpin masa kini sehingga mudah untuk berbuat dholim. Namun ini tak pun tak cukup sehingga seorang pemimpin juga harus punya karakter lemah lembut. Ketiga, jaminan terletak pada efisiensi birokrasi yakni ada pemimpin di pusat dan wali di daerah. Ke empat, kesatuan komando yang terikat dengan hukum syara’.
Apa yang bisa didapatkan perempuan dalam sistem khilafah? Menjawab pertanyaan tersebut Ustadzah Ratu Erma menyebut bahwa perempuan dalam khilafah bebas finansial jadi tidak dibebani nafkah diri dan keluarganya, semua sudah ada mekanismenya yakni wali, keluarga dan negara. Sehingga perempuan boleh bekerja namun bukan dalam rangka menjalankan kewajiban nafkah.

Terkait kesehatan dan pendidikan telah disediakan oleh negara dengan pos dana yang sudah disiapkan negara.
Setelah pemaparan dari ke tiga pemateri dilanjutkan tanya jawab dengan peserta, beberapa pertanyaan datang dari Ibu-Ibu dan Mahasiswa. Diantara pertanyaan menarik disampaikan oleh seseibu “Apakah demokrasi di Indonesia masih bisa diperbaiki?” menjawab pertanyaan tersebut, Ustadzah Dedeh Wahidah lantas bertanya balik apakah demokrasi ini rusaknya sedikit, ibarat tanaman itu cabangnya saja atau ini sudah rusak yang parah dan mendasar. Kalau tanaman itu yang rusak adalah akarnya bahkan boleh jadi nggak punya akar. Kalau tadi kita sepakati yang rusak adalah akarnya, kalau tanaman itu sudah busuk dan layu lalu kita pindah ke tanah manapun yang lebih subur, disirami, lama-lama juga akan tetap mati. Jadi mau diperbaiki bagaimanapun karena rusaknya sudah dari akarnya pasti akan tetap rusak. Lanjut beliau, yang kedua demokrasi bukan berasal dari Allah. Kalaupun tetap dipaksakan, dalam surat At-Toha:104, “Barangsiapa yang berpaling dari peringatanku” yakni dalam hal ini adalah demokrasi dengan tujuan baik, namun kata Allah “ Maka bagi dia tetap ada kehidupan yang sempit dan menyulitkan.” Sehingga tak boleh tetap berharap pada demokrasi.
Tak terasa jam mendekati pukul 12.00 WIB. Setelah sesi diskusi selesai. Ustadzah Nanik Wijayanti menutup acara dengan menyampaikan bahwa saat ini kesadaran umat akan rusaknya demokrasi sudah muncul serta kesadaran umat untuk menggelorakan menerapkan Islam kaffah juga telah muncul, mau menyuarakan opini tentang sistem alternatif sehingga ini menjadi indikasi kesiapan umat. Namun kapan dan dimana itu menjadi urusan Allah, yang bisa kita lakukan adalah usaha untuk mendakwahkan betapa luar biasanya sistem Islam yang dapat menyejahterakan seluruh umat manusia.