Oleh : Titi Ika Rahayu, A.Ma.Pust.

Sebentar lagi kita akan tiba dipenghujung tahun 2020. Menjelang tahun 2021 ini, telah berlangsung dengan lancar sebuah Digital Event Nasional, Risalah Akhir Tahun (RATU) 2020, pada hari Sabtu (26/12/2020). Acara yang bertepatan dengan tanggal 11 Jumadil Awal 1442 H ini resmi dibuka pukul 09.00 oleh host Hj. Muthmainnah S.Si. Forum RATU kali ini mengangkat tema : “Berkah Dengan Khilafah”.
Berbagai problematika sepanjang tahun 2020 di semua aspek kehidupan semakin carut marut. Kemudian host mengambil petikan surat Ar-Ruum:41, “Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan, akibat dari ulah tangan manusia.”
Sistem demokrasi buatan manusia begitu disakralkan sedangkan aturan Allah dicampakkan. Sehingga pantas saja jika muncul berbagai persoalan. Seperti wabah yang sedang melanda negri ini. Host mengajak para muslimah untuk mencari tau akar masalah setiap persoalan yang terjadi. Termasuk apa yang semestinya dilakukan untuk mencari solusi hal ini. Mengapa? Karena muslimah, tak ubahnya seorang muslim, memiliki tanggungjawab yang sama dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di tengah-tengah umat ini.


Sesi berikutnya adalah talkshow yang dipandu oleh Ibu Nanik Wijayanti, S. P. dan menghadirkan tiga orang nara sumber :

  1. Ibu Hj. Ir. Dedeh Wahidah Ahmad (Konsultan & Trainer Keluarga Sakinah)
  2. Ibu Pratma Julia Sujandari S.P. (Pengamat Kebijakan Publik)
  3. Ibu Ratu Erma Rahmayanti S.P. ( Pengamat Keluarga dan Generasi)
    Acara talksow diawali dengan diputarnya cuplikan tentang bagaimana rusaknya demokrasi. Selama ini kita selalu mempelajari dan meyakini bahwa demokrasi adalah sistem yang paling ideal untuk diterapkan saat ini. Padahal fakta menunjukkan sebaliknya, demokrasi tak seindah jargonnya. Akan tetapi, masih saja ada yang berharap bahwa demokrasi masih bisa diperbaiki. Apakah benar demikian? Pemandu acara melempar pertanyaan kepada Ustadzah Dedeh. Beliau menjelaskan mengapa bahwa kita tidak bisa berharap pada demokrasi, karena dua hal: Demokrasi berubah-ubah sesuai kepentingan masing-masing. Kedua: Demokrasi berkolaborasi dengan Kapitalisme.Selain itu, untuk memimpin demokrasi biayanya mahal, penyokongnya para pemodal. Penguasa tidak mandiri, tidak berdaulat karena disetir lewat Undang-undang yang sudah disesuaikan dengan kepentingan pemodal. Demokrasi sukses mengumpulkan kekuasaan terhadap orang yang menyokong kekuasaan tapi gagal dalam berikan keadilan dan kesejahteraaan masyarakat. Sehingga sikap kita sebagai muslim, haram hukumnya mengambil aturan selain dari aturan Allahﷻ sesuai QS. Al Maidah: 50. “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”
    Kemudian pemandu acara menyambung pertanyaan untuk Ustadzah Pratma Julia, bagaimana cara menyadarkan kepada orang-orang yang masih kepincut dengan demokrasi, padahal sudah jelas kegagalan sistem demokrasi dalam mewujudkan tujuan bernegara. Ustadzah Pratma dengan tegas menyatakan bahwa demokrasi gagal mewujudkan tujuan bernegara. Kesejahteraan, keadilan, kemandirian sebagai bangsa, persatuan. Semuanya tidak mungkin tercapai dalam sistem pemerintahan demokrasi.
  4. Demokrasi gagal menyejahterakan semua rakyat. Dalam setahun, jumlah rakyat miskin bertambah 2 juta orang. Demokrasi sukses menghantarkan penderitaan ekonomi rakyat, termasuk di antaranya para perempuan, yakni gagal untuk sekedar menjamin hak nafkah bagi perempuan.
    Sedangkan dalam keadilan, hukum hanya tajam bila berhadapan dengan rakyat kecil. Sementara perusahaan kakap, pejabat penting, atau elit lainnya, bebas.
    Negara ini juga hilang kemandirian sebagai bangsa, akibat mengikuti perintah negara-negara adidaya. Dengan dalih kerjasama dengan asing, pemerintah membuka investasi asing. Modal dari mereka, namun kekayaan kita dirampok, lapangan kerja rakyat pun dirampas TKA. Belum lagi utang Luar Negeri, untuk membeli vaksin negara harus berhutang ke luar negeri.
  5. Ada pula problem persatuan, ancaman disintegrasi. Yakni ancaman Papua merdeka. Demokrasi yg katanya pluralis, merangkul semua ras, suku dan agama tak ada buktinya. Sementara Khilafah, yg sering dituduh sebagai penyebab permusuhan, intoleran dsb justru berhasil menyatukan hampir 3/4 dunia, yg tentu saja memiliki ribuan perbedaan, ras, suku bangsa, agama dan bahasa mampu bersatu selama kurang lebih 13 abad.
    Lalu Pemandu Acara kembali melayangkan pertanyaan kepada Ustadzah Julia Pratma, ketika umat islam menginginkan diterapkannya syariat islam, kira-kira bisa tidak demokrasi memberikan jalan pembelaan untuk syariat Islam?
    Dengan tegas dan mantap Ustadzah Pratma menjawab, Mustahil! Pertama, karena alasan syariah seperti yang tertuang dalam surat al baqarah ayat 42. Demokrasi itu kan batil sedangkan Islam adalah Al haq atau kebenaran. Antara batil dan hak tidak bisa disatukan. Kedua, secara realitas hal ini sulit untuk diwujudkan. Ketiga, bahwa demokrasi ini justru lahir dari proses pemisahan agama dari kehidupan atau sekularisme.
    Lalu apakah ada solusi alternatif jika memang demokrasi tidak bisa menjadi jalan untuk menerapkan syariat islam? Ternyata islam mempunyai sistem alternatif untuk format bernegara, yaitu Khilafah.
    Dalam hal ini akan dipaparkan oleh Ustadzah Ratu Erma. Menurut beliau Penting bagi kita untuk menghadirkan keyakinan, menyadari kalau Khilafah Ajaran Islam, berati perintah Allah, Rabb kita semua. Perintah Allah ﷻ sudah disampaikan pada Rasulullahﷺ, junjungan kita. Artinya perintah itu menjadi amanah kita hari ini.
    Khilafah Ajaran Islam, sebagai pelaksana syariah Islam. Ada jaminan keadilan dan kesejahteraan dalam syariah Islam dengan Khilafah:
  6. Konstitusi istimewa, bersumber dari syara. Kebenarannya pasti & lengkap.
  7. Pemimpin yang syiddah, kuat dari segi akal tentang ketatanegaraan, punya skill pengelolaan negara,
    takwa, harus lemah lembut kasih sayang pada rakyat
  8. Efisiensi birokrasi baik pusat maupun daerah. Masalah yang ada cepat diselesaikan
  9. Kesatuan komando. Urusan dalam dan luar negeri semuanya terkontrol.
    Setelah ketiga nara sumber memaparkan materi, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Pemandu acara membacakan beberapa pertanyaan dari peserta yang menyaksikan melalui zoom maupun YouTube. Salah satu pertanyaan yang menarik yaitu terkait bagaimana langkah kita selanjutnya untuk menegakkan Khilafah? Karena demokrasi jelas tidak bisa menjadi jalan menegakkan Khilafah?
    Pertanyaan pun dijawab oleh Ustadzah Dedeh. Langkah praktisnya yaitu mengikuti metode dakwah Rasulullah saw. Yaitu dengan:
  10. Meningkatkan pemikiran politis kita. Emak-emak jangan ketinggalan informasi, belajar memberikan penilaian fakta yang salah.
  11. Meningkatkan kadar kajian tentang Islam. Islam bukan hanya diketahui kulitnya saja. Rutin ikut kajian keislaman, bukan hanya tentang ibadah mahdhah. Mencari partai politik yang sifatnya sama dengan kelompoknya Rasul saw, segera bergabung.
  12. Tidak ada harapan kita kecuali pada Nashrullah. Semakin mendekat pada Allah, semakin banyak beramal shalih.
    Selain sesi tanya jawab, acara ini pun diisi dengan testimoni beberapa tokoh. Yaitu dari Ustadzah Irene Handono (Pakar Kristologi) dan Hj. Dra Komariyah (Pembina 60 Majlis ta’lim).
    Tidak terasa kurang lebih tiga jam acara berlangsung, kemudian acarapun ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustadzah Hj. Murthi’ah.
    Demikianlah gambaran bagaimana sistem demokrasi yang diterapkan saat ini telah gagal membangun kesejahteraan dan keadilan untuk rakyat. Yang tentu sangat bertolak belakang dengan khilafah, dengan sistemnya yang berasal dari Allah Swt, menjamin kesempurnaan dan kelengkapan dalam aturann ya. Dengan begitu memang seyogyanya hanya sistem Islam, yaitu khilafah yang layak untuk diperjuangkan. Sementara sudah saatnya umat berpaling dan mencampakkan demokrasi jauh-jauh dari kehidupannya. Wallahu’alam bisshowab