Oleh. Ir. H. Izzah Istiqamah
(Pengamat Politik)

Ponorogo kota tercintaku, terkenal sebagai kota santri. Sudah selayaknya terlahir para pejabat negara bertaqwa yang taat aturan Illahi rabbi. Namun harapan itu sirna, karena sistem sekuler demokrasi telah mencetak para birokrat yang hobi korupsi.

Informasi di medsos viral, menyatakan anggaran proyek jembatan di Ponorogo mencapai Rp 200 juta, namun wujudnya yang ada hanya sebuah jembatan sesek atau jembatan bambu. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kabupaten Ponorogo Jamus Kunto Purnomo, Kamis (17/12/2020) menyebut faktanya bukanlah seperti itu. Dijelaskannya, jembatan sesek atau jembatan bambu itu adalah buatan warga dari dua desa, Bulak dan Pandak, Kecamatan Balong.

“Jembatan seseknya dibuat oleh warga. Posisinya di atas pondasi atau landhoop dari proyek rehab jembatan yang kita (Pemkab Ponorogo) bangun,” kata Jamus. Dalam perhitungan DPUPKP, untuk jembatan dengan panjang bentang 10–11 meter dan lebar 3 meter, dibutuhkan dana Rp 500 juta sampai Rp 600 juta. Pada 2020 ini, dana yang tersedia hanya Rp 200 juta. Dana sebesar itu bisa diwujudkan sebagai landhoop saja”.(Ponorogo.go.id)

Di dalam sistem sekuler demokrasi, sudah menjadi rahasia umum, bahwa fasilitas publik berharga mahal, maka tak heran jembatan yang kini viral di Ponorogo pun dirasa begitu mahal. Jika kita tengok lagi sebelum menjabat menjadi penguasa memang bukan harga yang murah, biaya kampanye untuk penguasa daerah membutuhkan mahar politik, sumbangan ke partai, dan yang lainnya.

Sudah menjadi hal yang biasa jika di dalam benak para penguasa yang terpilih, hanya berpikir bagaimana caranya bisa mengembalikan modal pilkada atau balas jasa kepada pengusaha yang memberi sokongan dana kampanye. Akhirnya dilupakanlah berbagai kepentingan rakyat.

Sistem sekuler demokrasi yang menjauhkan aturan agama dari kehidupan, berakibat terlahir para birokrat yang tidak takut dosa, para birokrat yang jauh dari taqwa, sehingga dalam mengelola negara sudah terbiasa hal-hal yang haram dihalalkannya. Kisah jembatan bambu hanya sebagian kecil fakta, begitu jahatnya sistem aturan sekuler demokrasi, yang menjadikan para pejabat negara begitu tega berkhianat kepada rakyat yang memilihnya.

Sistem Islam Dalam Membangun Jalan dan Jembatan. Fasilitas umum jalan maupun jembatan adalah kebutuhan rakyat yang harus segera direalisasikan. Para pejabat negara di dalam sistem islam akan menjalankan amanah jabatan dengan penuh rasa tanggung jawab, karena menyadari bahwasanya semua amanah yang diembannya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di yaumil akhir nanti.

Hal ini pernah terjadi pada masa kepemimpinan kaum muslimin oleh khalifah Umar bin Khattab. Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang terkenal tegas dan tegar dalam memimpin kaum muslimin tiba-tiba menangis, dan kelihatan sangat terpukul. Informasi salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Iraq telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlubang.

Melihat kesedihan khalifahnya, sang ajudan pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab bekata: “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’.

Rakyat di Ponorogo dan umat di seluruh dunia sangat membutuhkan sosok pemimpin yang mencintainya. Sosok penguasa yang peka akan jerit tangisnya. Sosok pemimpin yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan umat di seluruh dunia. Umat di seluruh dunia membutuhkan seorang khalifah yang akan memimpin dunia dengan sistem khilafah islamiyah, yang akan mengkader para penguasa wilayah yang meneladani sosok khalifah Abu bakar.