Oleh: Nanianti (Aktivis Dakwah Muslimah Kendari)

Kondisi perempuan indonesia saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Bagaimana bisa dikatakan sejahtera jika ternyata sebanyak 37 juta perempuan masih hidup dalam kemiskinan. Solusi yang ditawarkan pun beragam salah satunya ide kesetaraan gender.
Kaum gender memberikan solusi dengan mendorong perempuan untuk berperan aktif disektor publik. Perempuan diarahkan untuk bekerja dan tidak tergantung pada laki-laki (suami), ketika perempuan telah bekerja, maka ia akan mampu mendapatkan penghasilan bagi keluarganya, sehingga kesejahteraan akan dicapai.
Namun benarkah dengan bekerja perempuan tersebut akan sejahter? Ternyata tidak, salah satu perempuan yang bekerja pada perusahaan es krim PT.Alpen Food Industri (AFI) atau aice, Elitha Tri Novianti mengalami pendarahan hebat akibat bobot pekerjaannya yang berlebihan. Perempuan berusia 25 tahun ini sudah berusaha mengajukan pemindahan divisi kerja karena penyakit endometriosisnya kambuh tapi apa daya perusahaan justru mengancam akan menghentikan dari pekerjaannya.
Elitha hanya satu dari banyak buruh perempuan yang hak-haknya terabaikan oleh Aice.
Sarinah, Juru Bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR), yang mewakili serikat buruh Aice, menyatakan bahwa sejak tahun 2019 hingga saat ini sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa dialami oleh buruh perempuan Aice.
Pihak Aice telah membantah tuduhan tersebut. Perwakilan Aice, Simon Audry Halomoan Siagian, menyatakan bahwa pihaknya sudah melarang perempuan yang sedang hamil untuk bekerja di shift malam.
Para pengamat buruh dan gender berargumen praktik penindasan hak buruh perempuan merupakan akibat dari pelanggengan budaya patriarki di sektor ketenagakerjaan di Indonesia.

Stigma Dari Budaya Patriarki
Data Organisasi Buruh Internasional atau ILO pada 2018 menunjukkan bahwa hanya setengah dari populasi perempuan Indonesia yang memiliki pekerjaan dan jumlahnya tidak pernah bertambah.
Sedangkan pada laki-laki, tingkat ketenagakerjaan mencapai hampir 80% populasi.

Stigma yang melekat pada perempuan –- seperti perempuan itu lebih lemah sebagai pekerja ketimbang laki-laki -– menjadi satu alasan mengapa pihak perusahaan enggan memperkerjakan mereka.
Stigma itu, menurut Suci Flambonita, staf pengajar di Fakultas Hukum, Universitas Sriwijaya, muncul dari budaya patriarki yang dilanggengkan. Suci juga menjelaskan budaya patriarki ini termanifestasi dalam hubungan industrial yang timpang antara buruh dan pemberi kerja di mana buruh perempuan selalu berada pada posisi yang lemah.
Akibatnya buruh perempuan sering diperlakukan semena-mena. Banyak perusahaan juga lalai menjamin keselamatan buruh perempuan akibatnya mereka rentan mengalami pelecehan dan kekerasan seksual.

Syariah Menjamin Hak-hak dan Peran perempuan
Sistem Islam memiliki aturan komprehensif yang menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi siapapun, termasuk perempuan. Hanya sistem Islam yang memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan yang berangkat dari pandangan universal mengenai perempuan, yakni bagian dari masyarakat manusia, yang hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan laki-laki dalam kancah kehidupan ini.
Dalam hal peran, Islam telah menetapkan bahwa disamping sebagai hamba Allah SWT yang mengemban kewajiban- kewajiban individual sebagaimana laki-laki, perempuan secara khusus telah dibebani tanggung jawab kepemimpinan sebagai ibu dan pengatur rumahtangga (ummun wa rabbah al-bayt). Sebagai ibu, dia wajib merawat, mengasuh, mendidik dan memelihara anak-anaknya agar kelak orang mulia dihadapan Allah SWT.
Islam juga membuka ruang bagi perempuan untuk masuk dalam kehidupan umum, berkiprah dalam aktifitas yang dibolehkan seperti jual beli, menjadi pedagang, bahkan qadhi. Sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Umar ra. Pada waktu itu Khalifah Umar mengangkat Syifa’ sebagai qadhi hisbah.
Demikian pula terkait pelaksanaan aktifitas yang diwajibkan syariah, seperti menuntut ilmu dan berdakwah. Namun dalam kehidupan umum ini Islam mewajibkan kaum perempuan menggunakan pakaian syar’i yakni jilbab dan kerudung, melarang bertabaruj, memerintahkan laki- laki dan perempuan menjaga pandangan, melarang berkhalwat, serta memerintahkan kaum perempuan yang hendak bepergian jauh disertai mahramnya.
Dengan aturan-aturan ini, kehormatan keduanya akan selalu terjaga dan terhindar dari tindak kejahatan seksual sebagaimana yang sering terjadi dalam masyarakat kapitalistik saat ini.

Demikianlah kesempurnaan aturan lslam yang dibawa oleh Muhammad saw. untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman, tanpa memihak salah satunya seraya mengabaikan yang lainnya. Sebagai aturan yang terpadu, islam mengatur seluruh aspek kehidupan yang akan menjamin terwujudnya ketentraman umat manusia. Karena islam sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan tidak membedakan jenis kelamin manusia. Telah jelas bagaimana keadaan umat Islam ketika berada dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Seluruhnya dapat merasakan bagaimana cahaya Islam menaungi seluruh umat, tanpa kecuali. Wallahu a’lam bi ash-shawab[].