Oleh : NS. Rahayu

Pena adalah senjata bagi para penulis untuk melentikkan jemari dan pemikiran lewat aksara. Tajam tumpulnya terletak pada pemiliknya masing-masing. Hendak terus mengasahnya dalam tulisan atau membiarkannya perlahan berkarat dan tak lagi keluar tintanya?

Bagi penulis pena adalah alat perjuangan dalam kehidupan, baik untuk mendapatkan materi, sekedar hobi maupun amunisi dakwah. Artinya pena itu sekedar wasilah yang dapat digunakan untuk apapun tergantung niat bagi pemiliknya.

Sementara bagi penulis ideologis, pena tidak sekedar menjadi amunisi dakwah. Pena menjadi lahan menebarkan kebenaran untuk merubah kondisi rusak tidak islami agar kembali menjadi kehidupan yang dipenuhi rahmat yaitu kehidupan Islam. Sehingga tiap tulisan tidak sekedar memberi pesan kebaikan, namun sekaligus dibangun solusi permasalahan dengan cara Islam.

Dengan begitu masyarakat yang membaca tulisan para penulis ideologis, bisa membuka pemikirannya ketika disandingkan antara nilai kehidupan yang diterapkan oleh sistem Islam dengan selain Islam. Mengajak pemikiran pembaca agar mau membuka kesadarannya, sehingga memilih untuk bangkit dan ikut berjuang bersama dalam kebenaran.

Apalagi di era digital ini, pena menjadi amunisi ampuh dalam dakwah aksara. Ketika sebagian orang menikmati kecanggihan digital untuk urusan dunia. Maka mereka memilih kesempatan digitalisasi ini untuk mengambil urusan akhirat. Digitalisasi memudahkan para pengemban dakwah aksara melancarkan amunisi ke benak-benak para pembaca. Pena yang tepat bidikannya akan melesat melewati ruang dan waktu tanpa pernah terhenti.

Tidakkah kita ingin mengambil peran didalamnya? Pasti semua ingin memiliki amunisi (tulisan) yang bisa membawa pengaruh perubahan yang hakiki. Maka para penulis juga harus memiliki amunisi yang handal. Apa saja itu?

Pertama. Ilmu. Ilmu adalah bekal pertama yang harus dimiliki seorang penulis, tanpa ilmu penulis seperti kehilangan giginya. Sehingga penulis harus rajin ikut kajian Islam yang mengurai ajaran Islam secara mendalam, membaca buku dan tulisan orang lain yang sudah piawai. Dengan ilmu ini penulis akan mampu menyampaikan gagasannya.

Kedua. Asah ketajaman pena. Ilmu yang tidak digunakan, ibarat pisau tak terasah, perlahan berkarat, tumpul rapuh, tak bisa digunakan dan menjadi barang tak terbengkalai. Begitupun dengan ilmu, jika tak digunakan maka sia-sia, tak mampu menapakkan jejak apapun didunia. Jadi mengasah pena itu sama saja dengan mengasah ilmu, semakin sering digunakan maka akan semakin tajam analisanya. Semakin sering menulis, maka tulisannya juga semakin rapi dan baik.

Ketiga. Punya target. Menentukan target itu sangat penting. Ketika ingin memdapatkan surga, tentu amaliyah selalu diarahkan untuk mendapatkan surga dan akan menghindari bermalas-malasan dalam kebaikan, bahkan menambah dengan amaliyah ibadah sunah lainnya. Jadi menulis pun juga harus berorientasi surga, dakwah adalah kewajiban, tidak ada bedanya dakwah offline maupun online, sehingga dakwah aksara juga harus memilik target pencapaian surga. Dengan begitu, ketika belum membuat tulisan ada beban utang yang harus dibayarkan kemudian.

Sebagai seorang hamba yang beriman, setelah melakukan semua upaya maksimal, maka serahkan semua urusan pada Allah SWT karena tidak akan ada hal sia-sia disisi-Nya. Allah SWT berfirman : “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (TQS Muhammad : 7). Wallaualam bishawab