Oleh: Eka Kirti Anindita


Berbagai peristiwa yang terjadi di tahun ini telah mengusik nalar dan logika masyarakat, ada apa dengan demokrasi? Mengapa makin banyak rakyat yang kontra penguasa kini dibui, dibungkam, bahkan ditembak mati? Bukankah demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat?

Demokrasi yang melanggar hak rakyat dan menjadikan pemerintah makin otoriter membuat rakyat kian jengah dan berusaha mencari alternatif solusi demi kehidupan yang lebih baik. Apakah demokrasi masih layak dipertahankan?

Demokrasi adalah sistem gagal dan tidak ada harapan untuk memperbaiki demokrasi, sebuah pernyataan yang disampaikan oleh ustadzah Dedeh Wahidah Ahmad dalam acara digital event nasional RATU (Risalah Akhir Tahun) yang diselenggarakan pada Sabtu, 26 Desember 2020. Dalam agenda yang diikuti lebih dari dua puluh tujuh ribu muslimah se-Indonesia tersebut beliau memaparkan bahwa ada dua alasan, yang pertama aturan dalam demokrasi berasal dari manusia, bukan dari sang Khalik. “Aturan yang lahir dari makhluk lemah ini tidak menjamin kebenaran, sering berubah-ubah sesuai kepentingan, dan sering bertolak belakang,” jelasnya.

Kedua, demokrasi berselingkuh dengan kapitalisme. Untuk memimpin dalam demokrasi membutuhkan biaya yang sangat mahal. Modal besar tersebut tak sedikit yang disponsori oleh para pengusaha. Walhasil, saat menjabat akan selalu berusaha mencari cara agar menghasilkan uang sebesar-besarnya demi ‘balik modal’. Cara itu bisa melalui undang-undang dan kebijakan yang menguntungkan pengusaha, bisa pula dengan korupsi. “Sehingga kita tidak bisa berharap pada demokrasi,” tegasnya.

Bukan hanya itu, ustadzah Dedeh juga menyampaikan bahwa demokrasi ternyata juga otoriter, karena untuk mempertahankan kedudukan dalam demokrasi perlu untuk melakukan apapun asal tetap berkuasa salah satunya dengan otoriter. Sehingga menurutnya demokrasi itu sukses dalam mengumpulkan kekuasaan di lingkungan mereka tapi gagal dalam mendistribusikan membagikan keadilan dan kesejahteraan pada rakyatnya.

Lalu sebagai muslim sikap apa yang mesti kita tampakkan terhadap sistem demokrasi? Beliau menjelaskan bahwa tentu harus merujuk kepada panduan hidup seorang muslim alquran dan sunnah alquran. Alquran mengatakan bahwa kita haram hukumnya mengambil aturan yang bukan berasal dari Allah bahkan di dalam surat al maidah ayat 50 ini bentuknya pertanyaan tapi sebenarnya sindiran.

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka inginkan?.”

Demokrasi itu hukum jahiliyah karena bukan dari Islam. Sebenarnya ini kalau kita lihat dari tafsir itu celaan, kata bu dedeh. Celaan yang kuat, jazm, tidak boleh, haram mengambil hukum selain Allah bahkan berikutnya di ayat selanjutnya,

“Dan siapa yang lebih baik hukumnya dari pada Allah bagi orang-orang yang belum yakin.”

Kalau ini maknanya itu meniadakan, mengingkari hukum-hukum lain selain dari hukum Allah. Nah demokrasi ini, hukum bukan berasal dari allah sehingga kalau dalam islam yang harus ditolak, diingkari dan itu harus diwujudkan bukan hanya ada di dalam pemikiran. Kalau kita menolak demokrasi berarti perbuatannya juga jangan mengikuti demokrasi tegas beliau.