Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

Firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. Al Baqarah: 42)

Pemerintahan Jokowi telah melakukan reshuffle enam menteri, satu di antaranya adalah Menag yang saat ini dijabat oleh Gus Yaqut dari NU Ketua Umum GP Ansor. Baru sehari dilantik, Yaqut sudah membuat gebrakan kebijakan yang kontroversial. Bagaimana tidak, Yaqut berencana mengafirmasi hak beragama warga Syiah dan Ahmadiyah. Dengan alasan, tidak ingin kelompok minoritas Syiah dan Ahmadiyah terusir dari kampung mereka karena perbedaan keyakinan (tempo.co, 27/12/20).

Tak disangka, karena sebagai Menag mestinya mewakili seruan akidah kaum muslim. Dimana Ahmadiyah dan Syiah yang diyakini oleh umat Islam, suatu akidah yang terlarang. Dikatakan terlarang karena, Ahmadiyah mengakui Nabi lain selain Nabi Muhammad Saw. Bukankah dalam akidah Islam, Nabi Muhammad Saw., merupakan Nabi terakhir (khotim Al anbiya). Selain itu, Ahmadiyah memiliki kitab suci yang diberi nama ‘At Tadzkir’.

Berbeda dengan kitab suci umat Islam yaitu Al Qur’an, Allah sendiri yang menjaga Al Qur’an (QS. Al Hijr: 9). Hal yang menyakitkan bagi umat Islam, Ahmadiyah mengaku beragama Islam. Seandainya Ahmadiyah membuat agama sendiri yang berbeda dengan agama Islam ini tidak begitu menyakitkan bagi umat Islam. Lalu dengan Syi’ah, jelas menolak Abu Bakar dan Umar sebagai Khalifah yang pernah memimpin kaum muslim. Terlalu mengkultuskan sahabat Ali r.a., sehingga menafikan sahabat Rasul yang lain.

Hal ini tentu bertentangan dengan realitas sejarah, bahwa sahabat Abu Bakar adalah sahabat terdekat Rasul. Kemudian, setelah Rasul wafat, sahabat Abu Bakar yang dipilih secara mayoritas untuk menggantikan Rasul memimpin kaum Muslim. Pengangkatan Abu Bakar menjadi Khalifah, bukan berarti pengkultusan pada beliau. Hanya menggantikan posisi yang memimpin umat dalam melaksanakan syariah Allah dan penyebar luasan risalah Islam ke penjuru dunia begitupun dengan sahabat Umar r.a.

Maka, apa yang diyakini Ahamdiyah dan Syi’ah tentu bertentangan dengan akidah Islam. Tak boleh bagi seorang muslim, ikut meyakini dan membela akidah yang sesat dan menyesatkan. Karena akidah bagi seorang muslim sangat berharga, modal untuk bertemu Rabb Sang Pencipta. Kemudian ada pertanyaan, apakah dalam Islam ada pluralisme atau pluralitas?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka harus diketahui terlebih dahulu apa itu pluralisme dan pluralitas. Pluralisme adalah faham yang mengajarkan bahwa semua agama sama, oleh karenanya tiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Islam menolak pluralisme jika maksudnya demikian. Pasalnya, sudah jelas dalam firman-Nya bahwa hanya Islam agama yang diridhai Allah (QS. Ali Imran: 19).

Jika Allah saja sudah menegaskan seperti itu, maka tak ada alasan bagi hamba-Nya menolak firman-Nya karena ini menyangkut akidah mengimani firman Allah. Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan pernah mengeluarkan fatwa terkait ini, sebagaimana termuat dalam surat nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005. Di sana, MUI menilai pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama bertentangan dengan Islam.

Sedangkan pluralitas adalah kemajemukan, baik latar belakang budaya, adat, suku, agama. Ini adalah realitas yang tak dapat dipungkiri, Islam mengkui hal ini bahkan sejak zaman Rasul di Mekkah banyak kemajemukan yang ada. Baik agama, budaya, adat, suku, dan sebagainya. Karena Allah menciptakan alam ini berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (QS. Al Hujurat: 13).

Jadi ada perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pluralitas. Sebagai muslim, tetap harus meyakini akidahnya dengan benar. Tidak meyakini akidah lain apalagi melindunginya padahal bertentangan dengan akidah Islam, jika Ahmadiyah dan Syi’ah mengakui bagian dari Islam maka akidahnya haruslah benar dan lurus. Lain halnya, jika mereka membuat agama sendiri di luar agama Islam. Realitas sejarah membuktikan bahwa Islam sangat toleran, tidak pernah mengganggu agama lain.

Di Mekkah dan Madinah ada beberapa agama, Islam tetap menghormatinya sambil tetap berdakwah karena perintah Allah. Bahkan, seorang intelektual Barat mengakui toleransi dan kerukunan umat beragama sepanjang masa kekhilafahan Islam. Kisah kerukunan umat beragama direkam dengan indah oleh Will Durant dalam bukunya, The Story’ of Civilization. Dia menggambarkan keharmonisan antara pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen di Spanyol di era Khilafah Bani Umayyah. Mereka hidup aman, damai dan bahagia bersama orang Islam di sana hingga abad ke-12 M.

Firman-Nya tegas berbunyi: “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” (TQS. Al Kaafiruun: 6). Tidak pernah ada paksaan bagi siapapun untuk memeluk agama Islam. Ini bukti bahwa Islam agama yang sangat toleran. Maka tak pantas memojokkan Islam sebagai agama yang tidak toleran serta menyebarkan ide pluralisme. Tentukan posisi sebagai umat Islam yang membela agama-Nya atau pecundang dan penjilat di balik kedok toleransi beragama.

Allahu A’lam Bi Ash Shawab.