Oleh: Hasriyana, S. Pd.
(Pemerhati Sosial Asal Konawe)

“Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya” penggalan kalimat ini mungkin sudah sering didengar, namun sarat makna yang lebih dalam. Bagaimana tidak, ibu merupakan sekolah dan guru pertama bagi seorang anak untuk mendapatkan ilmu dan informasi dari sebuah proses kehidupannya. Sehingga perjuangan seorang ibulah, ia bisa belajar mengenal dunia.

Hal itu pula yang di sampaikan oleh Bupati Buton saat menghadiri perayaan hari ibu yang ke 92 tahun. Seperti yang dikutip dari Suramba.com (22/12/20). Bupati Buton, La Bakry, pada awal sambutannya mengucapkan selamat Hari Ibu ke 92. Sejak dulu hingga sekarang, perjuangan kaum ibu tidak pernah berhenti dalam keluarga. Olehnya kita yang masih punya ibu maupun sudah meninggal hendaknya terus membangun silaturahim. Terus memastikan bahwa ibu kita dalam keadaan bahagia di manapun dia berada, imbuhnya.

Dunia anak hari ini, dengan dunia ibu di masa lalu sangatlah berbeda. Hal ini akibat perkembangan teknologi, sehingga tantangan ibu hari ini sangatlah luar biasa. Bagaimana mendidik putra-putrinya dengan teknologi yang sangat modern. Tidak banyak pula ibu yang kewalahan mendidik hingga tidak mampu menghadapi tantangan zaman yang serba teknologi.

Ditambah pula dengan maraknya game online, yang mudah diakses hanya dengan smartphone yang ada di tangan anak-anak. Padahal dengan banyaknya game online justru menambah sulitnya peran ibu dalam mendidik. Karena faktanya kecenderungan anak pada game online sangatlah dominan dibanding dengan belajar ilmu pengetahuan ataupun ilmu agama. Pun, dengan sangat mudahnya anak hari ini mendapatkan berbagai macam fasilitas teknologi. Ditambah akses internet yang diberikan orang tua sehingga semua itu sangat memudahkan anak berselancar di dunia maya, dibanding di dunia nyata. Ironis!

Bukan hanya itu, beban seorang ibu pun bertambah ketika permasalahan ekonomi dalam rumah tangga tak kunjung terpenuhi. Akibatnya mau tidak mau terjunlah ibu dalam membantu ekonomi keluarga. Tidak jarang pula ibu mengambil peran itu semua, karena dipaksa keadaan yang mengharuskannya terlibat dalam memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga.

Beban hidup dan naiknya harga kebutuhan pokok juga menjadi beberapa deretan persoalan ibu dalam memenuhi kehidupan. Sehingga tidak heran banyak ibu yang stres karena tekanan hidup dan beratnya beban yang harus mereka pikul. Terlebih ketika seorang ibu hanya memiliki sedikit ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Hingga ada di antara mereka memilih untuk bunuh diri, bahkan ada yang sampai membunuh semua anak-anaknya. Miris!

Berbagai macam persoalan yang dihadapi seorang ibu, tak terlepas dari beberapa faktor yang mengakibatkan peran seorang ibu makin tertekan di antaranya, yaitu: Pertama, minimnya jaminan kebutuhan dari negara terhadap masyarakat, sehingga ketika tidak terpenuhinya kebutuhan hidup keluarga maka ibu menjadi penolong pertama untuk membantu suami memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga tidak jarang kita temukan ibu berkerja di luar rumah sebagai pekerja seks komersial (PSK) atau menjadi seorang tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri.

Kedua, dalam sistem demokrasi hari ini, tolak ukurnya selalu dengan materi, sehingga seseorang akan bisa dinilai ketika bisa menghasilkan sebuah materi. Oleh karena itu, tidak heran banyak wanita yang keluar rumah menjadi wanita karir. Karena saat ini seseorang dianggap produktif ketika menghasilkan pundi-pundi materi yang banyak. Ditambah dengan gaya hidup yang meningkat, semakin banyaklah wanita yang keluar dari fitrahnya.

Berbeda dengan aturan Islam, setiap warga negara di dalam Islam akan dijamin kebutuhan hidup mereka, sehingga tidak akan ada ibu yang banting tulang menanggung beban ekonomi, sampai kerja ke luar negri. Semua itu menjadi tanggung jawab seorang khalifah memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dengan mudah. Seperti dalam sebuah hadis “Imam/kepala negara adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusan rakyatnya. (HR al-Bukhari).

Maka ini menunjukkan bahwa sangat pentingnya pemenuhan kebutuhan pokok bagi individu dan umat itu. Sehingga sebagai seorang khalifah wajib memenuhinya dengan baik dan menjamin terpenuhinya. Bahkan Rasulullah Saw. pernah menjelaskan bahwa ketersedian kebutuhan-kebutuhan itu bagi seseorang membuat dirinya seperti memperoleh dunia secara keseluruhan. Hal ini merupakan kiasan dari pentingnya memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Islam juga telah mewajibkan terealisasinya jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok individu dan masyarakat. Islam memberikan serangkaian hukum syariah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, papan dan sandang bagi tiap individu rakyat baik laki-laki, keluarga, masyarakat dan negara. Bahkan negara akan menciptakan lapangan kerja bagi laki-laki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.

Oleh karena itu, berharap pada sistem demokrasi hari ini yang notabene aturan buatan manusia akan menuai kekecewaan. Sehingga hanya sistem Islamlah yang mampu memberikan jaminan hidup yang aman karena aturannya berasal dari Sang Pencipta, yaitu Allah Swt. Wallahu a’lam.