oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Pernahkah mendengar istilah people-pleaser? Sebenarnya ini bukan istilah yang baru dalam ilmu psikologi. Narsistik dan people-pleaser adalah dua karakter yang bertentangan tapi keduanya adalah hasil dari cara merespon kenyataan yang sama. Yakni lingkungan (orang tua lebih tepatnya) yang otoriter dan orang tua yang tak menghargai perasaan anak-anaknya. Ketika emosi seorang anak tidak pernah di validasi maka ujungnya si anak akan merasa bahwa emosinya tidak berharga. Ketika dewasa bisa berefek pada pandangan bahwa dia hanya berharga jika dia menyenangkan orang sekitarnya.
.
Orang yang cenderung people pleaser adalah orang yang selalu berusaha mengedepankan orang lain meskipun harus menyakiti diri sendiri. Kedengarannya ini adalah karakter yang bagus. Tapi sayangnya, mereka melakukannya bukan karena landasan yang benar tapi karena ingin diterima oleh orang sekitarnya. Orang seperti ini adalah orang yang merasa berharga jika orang lain menghargai usahanya, bisa melihat kebaikannya, dan memuji ringan tangannya. Semakin dia memberi, semakin dia dipuji dan semakin banyak hal yang ingin dia lakukan untuk orang disekitarnya. Sering kali, hal ini dilakukan karena dia ingin merasa diterima, ingin di diakui keberadaannya, ingin dihargai dan takut untuk dikucilkan. Untuk mendapatkan ‘penghargaan’ ini akhirnya dia harus meng-iya kan setiap permintaan orang meskipun itu tidak dia sukai, menyakiti dirinya sendiri atau bahkan merasa tertekan untuk melakukannya.
.
Beberapa ciri nyata people-pleaser dari sebuah artikel psychologytoday.com adalah berikut ini
.

  1. Dia SELALU setuju dengan siapapun.
    .
    Mampu mendengar dan berempati terhadap keluh kesan orang lain adalah sebuah keahlian yang harus kita miliki. Namun jika dia berpura-pura setuju karena tidak ingin berbeda dengan orang disekitarnya maka hal itu sangatlah berbahaya. Kenapa? Karena bisa jadi dia mengompromikan nilai dasar yang dia pegang dengan nilai orang lain yang bertentangan.
    .
  2. Dia merasa bertanggung jawab atas perasaan sedih / bahagianya orang lain.
    .
    Sangat istimewa dan cerdas memang, jika kita bisa melihat efek dari perbuatan kita terhadap perasan orang lain. Namun bahagia tidaknya seseorang bukanlah tanggung jawab kita. Hal Itu adalah tanggung jawab mereka sendiri. Sebaik apapun kita, jika orang disekitar kita tidak tahu seni hidup bahagia, tetap saja kehadiran kita tak akan membuat mereka bahagia.
    .
  3. Terlalu sering meminta maaf.
    .
    Hal ini muncul karena people-pleaser SELALU merasa bersalah (bahkan ketika orang disekitarnya tidak menyalahkannya). Sebenarnya ini pertanda dia tidak puas dengan dirinya sendiri. Selalu ada yang kurang, selalu ada yang salah ketika dia menjadi dirinya sendiri. Perlu kiranya diteliti dan dicari penyebab utama dia merasa demikian.
    .
    .
  4. Dia sering merasa terbebani dengan permintaan orang.
    .
    Setiap permintaan orang merasa menjadi tuntutan. Dia merasa harus memenuhinya namun sayangnya hal itu tidak dilandasi dengan niat yang benar, akhirnya justru menjadi beban.
    .
  5. Susah berkata TIDAK.
    .
    Ketidakberanian berkata jujurlah yang membuat people-pleaser meng-iya kan setiap permintaan. Ujung-ujungnya hatinya ‘gondhok’. Awalnya iya iya tapi Endingnya mencela.
    .
  6. Merasa tak nyaman jika ada orang marah atau tak setuju dengan pendiriannya.
    .
    Jika kita punya prinsip dan yakin akan prinsip yang kita pegang maka bersiaplah mempertahankannya. Tak perlu risau dengan orang yang tidak suka atau tidak setuju. Jika kita tak berani mengambil sikap karena takut dibenci, maka kemungkinan besar kita adalah people-pleaser.
    .
  7. People pleaser cenderung mengikuti / mencontoh sikap orang disekitarnya.
    .
    Kalau lah orang disekitarnya berbuat salah (bergunjing/ bully/ dll) dia ikut-ikutan. Tak berani menarik diri atau sekedar mendiamkan.
    .
  8. Butuh akan pujian untuk merasa berharga.
    .
    Memang setiap manusia akan selalu suka jika dipuji orang namun people-pleaser HANYA merasa berharga jika dia mendapat validasi dari orang disekitarnya.
    .
  9. Cenderung menghindari konflik apapun alasannya.
    .
    Bahkan ketika sebuah kejadian benar benar bertentangan dengan prinsip dasar kehidupannya, dia tak berani menyuarakannya. Kenapa? Karena dia tak ingin nampak berbeda. Tak ingin dikucilkan dan berharap selalu diterima.
    .
  10. Tidak berani jujur mengakui jika hatinya disakiti.
    .
    Jika seseorang tidak jujur dan tidak mau mengungkapkan kepada teman / orang yang dia sayangi bahwa dia kecewa, marah atau tersakiti maka hubungan itu hanya superfisial semata.
    .
    Jika kesepuluh ciri diatas ada dalam diri kita, apakah otomatis kita people-pleaser? Belum tentu! Karena ada people pleaser yang dibolehkan dalam koridor syara’
    .
    Tulisan berikutnya akan melihat dari kacamata Islam. Tunggu ya!
    .
    London, 3 Januari 2021
    .