Oleh: Linda Khadeeja


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.s Surat Al-Alaq:1-5)

Saudaraku yang baik, setiap hari buat kita adalah kesempatan dari Allah untuk senantiasa bersyukur dan bersabar atas semua yang Allah takdirkan dalam diri kita.

Adakalanya Allah memberikan tantangan ataupun kesulitan agar kita senantiasa bertumbuh, berkembang dan menjadi lebih baik lagi.

Adakalanya Allah memberikan musibah ataupun bencana agar kita senantiasa mengingat-Nya. Kembali pada pangkuan-Nya. Mengiba pada-Nya. Bahkan bersandar kepada-Nya.

“Dia memberimu kelapangan agar engkau tidak terus berada dalam kesempitan. Sebaliknya, Dia memberimu kesempitan agar tidak terus berada dalam kelapangan. Lalu dia mengeluarkanmu dari keduanya agar tidak bergantung kepada selain-Nya”. (Syaikh Ibnu ‘Athaillah)

Saudaraku, kenikmatan hidup yang sesungguhnya bukan terletak pada tingginya jabatan yang engkau miliki. Bukan pula segudang ilmu yang engkau kuasai. Juga bukan terletak pada melimpahnya harta yang engkau miliki. Juga berapa banyak pasangan dan keturunan yang engkau punyai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
“Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim, 2.961)

Namun, kenikmatan hidup yang sesungguhnya terletak pada sebesar rasa syukur dan keikhlasan kita dalam menikmati setiap detik waktu hidup yang telah diberikan oleh-Nya.

Kenikmatan ketika kita telah diciptakan dan diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini adalah kenikmatan yang tak terhingga dari Allah.

Akan kah kita merasakan kedaimaian dan kesejukan ketika sang surya telah terbit di ufuk timur?

Akan kah kita merasakan keindahan langit yang begitu tinggi dan sesekali Allah sengaja membuatkan pelangi untuk kita nikmati?

Akan kah kita merasakan kehadiran hujan yang sengaja Allah hadirkan untuk memberikan kesejukan untuk kita?

Semua yang ada dalam kehidupan ini adalah ayat-ayat cinta-Nya.Yang menuntun kita untuk membaca, mentafakuri dan mentadaburinya. Agar hati kita semakin menyala dan mampu merasakan akan kehadiran-Nya.

Alam diciptakan oleh Allah penuh dengan tanda-tanda kekuasaan, kebesaran, dan keagungan-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al-Alaq 1-5:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(Qs. Al-Alaq:1-5)

Sesuai ayat di atas Allah ingin setiap diri untuk memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan dan mengajari kita dengan ilmu-Nya. Dan kemudian kita di dorong oleh Allah untuk senantiasa menjadi hamba yang bersyukur atas semua pemberian-Nya dalam kehidupan ini.

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al Qhasas:4)

Allah memberikan potret Fir’aun kepada kita untuk kita pelajari. Bahwa ia adalah hamba yang tidak pandai bersyukur dan berlaku sewenang-wenang di bumi. Sehingga Allah sangat murka kepadanya. Maka, janganlah kita mengikuti jejaknya dalam kehidupan ini.

Kita harus lebih waspada menjalani apapun takdir yang telah digoreskan oleh-Nya. Jangan sampai kita protes kepada Allah atas semua yang telah di takdirkan oleh Allah. Entah itu takdir yang kita senangi ataupun takdir yang tidak kita sukai.

Kita dididik oleh Allah untuk tidak banyak mengeluh. Kita diajari oleh Allah untuk tetap tegar dalam berjuang. Dan bahkan Allah juga mengajari kita untuk senantiasa bersabar dalam kesabaran yang paling indah. Sementara sabar itu adalah susah, berat dan pahit rasanya.

Dalam keadaan yang tidak nyaman atau tidak enak sekalipun kita dituntun oleh Allah untuk tetep tersenyum. Bagaimana ceritanya ketika kita sedang berduka dan menangis, Allah masih sempat menginginkan kita untuk tersenyum atas apa yang ada?

Ustadz Budi Ashari, Lc dalam sebuah nasehatnya beliau berkata:

“Belajarlah untuk tidak hanya melihat dhzohir sebuah peristiwa, tapi berusahalah untuk menggali hikmah di balik peristiwa itu”

Sebagaimana Rasulullah juga menyampaikan dalam sebuah hadisht nya:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Semoga Allah memberkahi hari-hari kita dan mengisinya dalam bingkai penuh kesyukuran, ketaatan dan kesabaran. Selaraslah bersama alam. Karena bersama alam tersimpan ayat-ayat-Nya. Dan barang siapa yang bisa mengambil pelajarannya maka sungguh ia termasuk ke dalam orang-orang yang diberi petunjuk. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Sumber Referensi:Syaikh Sa’id Hawwa, 2002.”Mudzakiraat fi Shiddiqien wa Robbaniyiin”, Robbani Press, Jakarta.