oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Kenapa bahasan people-pleaser ini aku angkat? Karena akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuatku merenung dan berfikir. Seandainya karakter people pleaser bisa di kikis dan lingkungan sosial masyarakat mendukung maka akan banyak hal yang rumit menjadi mudah untuk dipetakan dan diselesaikan. Amar Maruf nahi
Munkar akan mudah ditegakkan. Berbagai macam konflik pernikahan, keluarga, pertemanan, bahkan konflik antar aktivis dakwah mudah untuk di atasi.
.
Menjadi people-pleaser tidak hanya draining alias melelahkan tapi juga membahayakan. Bahaya, karena banyak rumah tangga menjadi bermasalah, berakhir dengan perceraian gegara karakter ini.

Bahaya, karena banyak terjadi kasus penindasan (abuse) terhadap perempuan yang punya kecenderungan menjadi people-pleaser oleh perempuan lainnya atau oleh lelaki (baca: suami) yang tak bertanggung jawab.
.
Bahaya, karena sudah capek-capek menyenangkan orang lain tapi ternyata tidak ada nilainya di mata Allah ﷻ.
.
Kenapa draining (melelahkan)? Karena sekuat apapun kita ingin menyenangkan orang lain, tak akan pernah bisa kecuali si orang tersebut memang mau membahagiakan dirinya sendiri.
.
Melelahkan karena kita tidak bisa menjadi diri sendiri dan tidak bisa berdiri dengan identitas unik kita sendiri. Semuanya harus berporos pada pertanyaan akankah orang suka dengan apa yang kita lakukan? Akankah orang bahagia dan menerima kehadiran kita?
.
Bayangkan jika ini terus terjadi, maka bukannya kita fokus menjadi diri yang lebih baik dari hari ke hari tapi kita justru fokus supaya selalu ‘nampak’ baik di hadapan orang lain. Saat jiwa sudah lelah sekali, maka kita akan menghindar bertemu orang, berteman bahkan bersosialisasi dengan keluarga karena merasa ada beban jika kita tak bisa memenuhi harapan mereka.
.
Lalu apakah salah jika kita ingin diterima oleh orang disekitar kita? Salahkah jika kita senang dipuji? Salahkah jika kita mencari validasi? Salahkah jika kita ingin menyenangkan orang lain?
.
Sebenarnya keinginan diatas tidak sepenuhnya salah, yang harus dilihat adalah APA YANG MENDASARI keinginan itu. Karena jika standarnya hanya ingin diterima oleh orang lain maka itu yang berbahaya. Kenapa? Karena pandangan manusia akan selalu berubah seiring perubahan waktu, tempat dan standar mereka. Akankah kita berubah seperti bunglon ketika lingkungan kita juga berubah? Bagaimana jika lingkungan kita tidak setuju dengan pandangan kita? Akankah kita melepaskan prinsip dasar kita hanya demi menyenangkan dan diterima oleh orang disekitar kita? Jika seorang teman menyarankan kita untuk tidak mengkaji Islam dari ustad/ustadzah A, akankah kita menerima sarannya mentah mentah hanya karena tidak ingin dikucilkan atau dianggap membantah? Jika kolega meminta kita bercampur baur laki perempuan tanpa alasan syar’i, akankah kita setujui karena takut tak diterima dengan tangan terbuka? Jika aktivis dakwah lain memprotes aspirasi / ide kita yang sedikit berbeda (meski masih dalam koridor mubah) akankah kita menyerah hanya karena tidak diterima? Jika semua jawaban pertanyaan di atas adalah YA, maka dijamin kita tak akan bahagia.
.
Apakah boleh menjadi people-pleaser dalam Islam? Boleh dengan batasan! Islam mengajarkan kita untuk mencari ridha manusia atas perintah Allah Ta’ala. Siapa mereka? Orang tua dan suami (bagi wanita yang sudah menikah).
.
Dari Abdullah bin ’Amru radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”
.
(Hasan. at-Tirmidzi : 1899, HR. al-Hakim : 7249, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir : 14368, al-Bazzar : 2394)
.
“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab ‘Tentu saja wahai Rasulullaah.’ Nabi berkata: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata, ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabrani dalam)

Itupun ada batas dan syaratnya. Yakni, tidak ada ketaatan kepada makhluk kalau itu bermaksiyat kepada Al Khaliq. Kita diminta mencari ridha orang tua dan suami (bagi para wanita) selama mereka tidak mengajak maksiyat.
.
لاَ طَاعَةَ لِـمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْـخَالِقِ
.
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq”
.
Namun demikian bukan berarti kita harus menderita demi keridhaan mereka. Penderitaan bisa dikurangi jika harapan / keinginan / kemauan itu kita komunikasikan. Para orang tua dan suami pun TIDAK BOLEH se-enaknya memakai dalih ‘ridha’ sebagai senjata untuk menindas anak dan isterinya. Karena perlakuan itu harus mereka pertanggung jawabkan nantinya di hadapan Yang Maha Kuasa.
.
Kesimpulan
.

  1. Jadilah Allah-pleaser dan bukan people-pleaser. Kalaulah kita ingin meraih ridha manusia, landasi itu karena Allah ﷻ semata dan jadikan itu poros utama.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
‎أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
.
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani)
.

  1. Pencarian kita akan ridho manusia harus juga dilandasi karena ketaatan kita pada Allah ﷻ. Namun demikian tidak berarti kita harus mengorbankan kebahagiaan kita karena keduanya ada hubungan timbal balik yang harus saling memenuhi hak dan kewajibannya. Ingatlah bahwa kita memang berperan untuk membahagiakan mereka (ortu dan suami) namun kita BUKANLAH satu satunya penentu bahagia / sedihnya mereka. Mereka juga punya andil untuk membahagiakan diri mereka sendiri.
    .
  2. Kalaulah karena ketaatan kita kepada Allah, manusia lain menolak kita, mencibir kita, mengucilkan kita dan menjauhi kita, maka tak perlu gundah gulana. Karena itu berati Allah memudahkan kita menyaring siapa yang layak menjadi teman dan sahabat.
    .
  3. Mulailah berani berkata tidak ketika suatu hal tak cocok dengan prinsip atau pandangan kita. Pertanyakan motivasi kita sebelum mengiyakan permintaan orang. Apakah ini karena ajaran Islam dan ikhlas karena Allah semata? Atau karena sungkan dan ga enak aja?
    .
  4. Tak perlu merasa bersalah, rendah diri ataupun berkecil hati jika penilaian kita akan sebuah realita berbeda dari orang lain dan penilaian kita masih ala kadarnya. Selama hal itu masuk ranah mubah, masih ada ruang untuk berkreasi dan mencoba. Jadi jangan takut tampil beda

Semoga bermanfaat
.
London, 4 Januari 2021
.