Oleh: Nurmawilis Nasution, S.Pi


Indonesia menghadapi persoalan kenaikan utang luar negri sejak krisis ekonomi 1998 dan era reformasi bergulir. Utang luar negri yang tadinya berada pada level dibawah seribu triliun rupiah, kini sudah nyaris menyentuh Rp 6.000 triliun per Oktober 2020. Tak heran jika belum lama ini Bank Dunia memasukkan Indonesia sebagai 10 besar negara berpendapatan rendah dan menengah yang memiliki utang luar negri terbesar pada tahun lalu. (m.republika.co.id,27/12/2020).
Pemerintah menarik utang yang besar guna meredam anjoknya ekonomi akibat wabah covid-19 yang merebak dai Wuhan China akhir 2019 (www.viva.co.id,24/12/2020).
Tentu hal ini akan sangat berpengaruh dalam stabilitas perekonomian negara yang harusnya fokus mengurusi urusan rakyat kini harus memikirkan untuk pembayaran pinjaman luar negri. Rakyatlah yang akan menjadi korban sebab harus menjalani kehidupan dengan biaya hidup yang semakin tinggi ditambah realita covid-19 yang belum berakhir. Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah yang mengakibatkan masyarakat stres. Kriminalitaspun semakin tinggi terbukti dari beberapa kasus seorang ibu membunuh anaknya disebabkan ekonomi keluarga yang rendah sementara suami hanya bermain game.
Kesulitan ekonomi saat ini bisa diatasi dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan individu terutama pemerintah bagaimana seharusnya benar-benar mengurusi urusan rakyatnya. Sebab ialah yang bertanggung jawab atas urusan rakyat baik didunia terlebih pertanggung jawaban diakhirat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “ Imam [kepala negara] itu laksana pengembala, dan dialah penanggung jawab rakyat yang digembalakannya.” Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak beriman orang yang tidak bisa menjaga amanah yang dibebankan padanya. Dan tidak beragama orang yang tidak bisa menepati janjinya.” (HR.Ahmad)
Kembali pada ajaran yang dibawa oleh rasul juga aturan yang Allah SWT berikan merupakan solusi dari segala permasalahan hidup saat ini. Sebab hanya dengan hukum Allah SWT lah kerberkahan hidup dapat dirasakan sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Terjemahan Qur’an Surah Al-Maidah [5]: 50 “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Terjemahan Qur’an Surah Al-A’raf [7]:96 “Jikalau sekiranya penduduk negri-negri tersebut beriman dan taqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.


Kerberkahan hidup tersebut sudah pernah dipraktekkan oleh para Khalifah selama 13 abad dalam mengelola perekonomian negara dengan menggunakan sistem baitul mal yang merupakan suatu lembaga atau pihak yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara.
Adapun sumber dana Baitul Mal menurut Imam Al-Mawardi memiliki dua sumber yang pasti yaitu fai’ dan zakat. Selain itu juga ada sumber-sumber lain seperti 1) Harta warisan orang yang tidak memiliki ahli waris, 2) Harta berupa benda-benda alam berupa tambang, sumber air, sumber mineral dan lain-lain, 3) Harta suf’ah, 4) Waqaf dan 5) Harta yang diwasiatkan lebih dari sepertiga. Selain itu, masih terdapat tiga sumber harta yang masuk ke Baitu Mal yaitu harta yang tidak ada pemiliknya, harta dari orang murtad dan tanah atau perkebunan yang pemiliknya telah meninggal serta tidak ada orang yang akan mewarisinya.
Sumber dana Baitul Mal tersebut akan dikelola negara dengan baik juga amanah oleh pemimpin yang beriman dan bertakwa. Serta digunakan untuk pembangunan, pemberian gaji bagi yang memberi khidmat pada negara seperti guru, tentara dan lain-lain, menyediakan lapangan pekerjaan dan pembagian zakat yang sesuai syari’at untuk 8 asnaf yaitu orang-orang fakir, miskin, amil zakat, mualaf, hamba sahaya, orang yang berhutang dan orang yang jihad fisabillah.
Maka hal tersebut telah terbukti pada sejarah fenomenal Khalifah Umar Abdul Azis dimana dimasa kepemimpinannya beliau kesulitan untuk membagikan harta baitul mal yang surplus disebabkan sudah terpenuhinya semua kebutuhan negara juga rakyat. Kembali pada sistem islam merupakan solusi tuntas dalam permasalahan hidup saat ini.