Oleh : Ummu Aqeela

Pertarungan alam semesta VS corona belum berakhir. Semakin lama, pertarungan dalam pandemi ini justru semakin memengaruhi kehidupan manusia. Banyak orang yang khawatir bagaimana dapat bertahan hidup selama pandemi ini. Setiap orang berusaha yang terbaik untuk mencegah penularan, termasuk kita sebagai orang muslim. Saat ini Kurva kasus Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan penurunan, malah cenderung terus meningkat. Kasus positif Covid-19 harian di Indonesia dalam dua minggu terakhir bahkan sudah mencapai 5.000-an orang. Bukan hanya itu, kini setiap hari setidaknya ada lebih dari 100 orang di Indonesia meninggal dunia akibat Covid-19. Mirisnya ditengah kondisi tersebut, perilaku sosial masyarakat masih kurang memperlihatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan. Hal ini menyebabkan penyebaran virus semakin luas. Beberapa momen seperti libur panjang saat ini pun juga menjad salah satu penyebab peningkatan drastis kasus Covid-19 di tanah air. 

Menelisik sisi lain strategi pemerintah juga tampak belum kunjung mampu menekan atau mengendalikan penyebaran dan penularan virus corona. Upaya penanganan juga masih setengah-setengah. Itu terbukti dari testing dan tracing yang ada kurang memadai dan bahkan belum sepenuhnya memenuhi syarat WHO. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, positive rate Covid-19 di Indonesia hingga November 2020 rata-rata mencapai 14 persen. Positivity rate adalah perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan. Dan ini bisa terjadi kemungkinan terbesar adalah karena faktor biaya mahal yang harus dikeluarkan untuk mendeteksi seseorang terinfeksi virus atau tidak. Karena bagi sebagian besar masyarakat dengan kondisi pandemi yang mengikat ini kebutuhan pokok sehari-hari jauh lebih diutamakan dibandingkan menjalani tes deteksi, sehingga saat ini resiko penularan Covid-19 makin meninggi.

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, risiko penularan Covid-19 saat ini berada di titik tertinggi. Dia menyebut rasio positif Covid-19 saat ini berada di angka 29,4 persen.
“Kami mengimbau agar masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat karena risiko penularan saat ini berada pada titik tertinggi di mana rasio positif Covid-19 berada di angka 29,4 persen,” ujar Adib dikutip dari siaran pers PB IDI, Sabtu (2/1/2020).
“Situasi akan bisa menjadi semakin tidak terkendali jika masyarakat tidak membantu dengan meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan 3M,” lanjutnya menegaskan.
( https://amp.kompas.com/nasional/read/2021/01/02/18375371/idi-risiko-penularan-covid-19-saat-ini-berada-di-titik-tertinggi )

Dalam perang semesta melawan Corona atau Covid-19 ini masyarakat dianjurkan menutup semua celah agar tak memberi ruang penyebaran virus secara signifikan. Dan strategi tersebut akan mampu diwujudkan jika Pemerintah sebagai garda terdepan memberikan ketegasan dan contoh yang nyata, tidak terkesan plin plan dengan aturan yang tidak merata. Kerjasama yang solid antara masyarakat dan pemerintahan menjadi benteng kuat terdepan untuk menghalau penyebaran. Sedangkan tenaga medis adalah benteng terakhir yang menampung pasien yang memang terkondisikan butuh perawatan. Namun jauh api dari panggangan, saat ini justru terbalik keadaannya. Tenaga medis yang seharusnya menjadi benteng terakhir justru diposisikan paling depan karena kesadaran masyarakat serta ketegasan pemerintah tidak mampu diwujudkan. Sehingga banyak korban bertumbangan justru dari tenaga medis itu sendiri.

Memang jika kita berpegang kepada Qodo’ dan Qodar Allah semua muslim tahu bahwa hanya Allah SWT yang dapat memutuskan hidup dan mati hambaNya. Mereka tidak salah tentang ini, Namun setidaknya kita mencoba yang terbaik untuk bertahan hidup, dan Allah SWT mencintai mereka yang berjuang dalam sesuatu.
Dari Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 78, membuktikan bahwa Allah SWT memiliki satu-satunya kekuatan atas kematian dan kehidupan.


وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ


“Dan Allah menarikmu keluar dari rahim ibumu tanpa mengetahui apa-apa, dan Dia membuatkan untukmu pendengaran, penglihatan, dan kecerdasan yang mungkin kau syukuri.”


Dari ayat tersebut, umat Islam harus tahu bahwa sebagai manusia mereka diberikan pendengaran, penglihatan, dan kecerdasan. Artinya, untuk menghadapi pandemi ini, setiap muslim harus menggunakan ilmunya dengan bijak.

Dalam riwayat, di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi juga sebuah wabah yaitu kusta. Wabah ini begitu menular dan mematikan dan belum diketahui obatnya saat itu. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan kepada umat untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.


Dalam sebuah hadist, Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ


Artinya: “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)


Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.
Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:


إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا


Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Dengan riwayat diatas dapat kita tarik pelajaran yang besar, bagaimana Rasulullah dalam menanggulangi wabah yang ada, dan bisa dijadikan acuan untuk umat dan Pemerintah saat ini untuk berbenah, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mewabahnya virus Corona semestinya menjadi wasilah atau bahan untuk kita bermuhasabah. Yakni untuk tunduk dan lebih mendekatkan diri kepada Allah yang menciptakan kita. Tunduk dalam segala aspek kehidupuan, dalam segala aturan secara kaffah atau sempurna. Kejadian luar biasa inipun seharusnya membuat kita sadar, bahwa amat mudah bagi Allah untuk menegur hambanya. Tidak perlu dengan sesuatu yang besar, bahkan hanya dengan sesuatu yang kecil dan tidak terlihatpun Allah mampu melakukannya jika DIA berkehendak. DIA-lah Sang Pemilik Skenario kehidupan, lantas apa yang membuat kita masih meragukan Syari’atNYA? Jangan sampai jika Allah benar-benar murka, maka mau berlindung kemana lagi kita kelak? Sekali lagi Allah menunjukkan kuasaNYA, bahwa tidak ada satupun kekuatan dibumi ini yang mampu menandingiNYA, untuk itu kembali ke syari’at adalah jalan untuk hidup selamat di dunia maupun akhirat.

Wallahu’alam bishowab