Oleh: Linda Khadeeja

Saudara-saudariku yang baik, apa kabar imanmu di siang hari ini? Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dan kebaikan untukmu dimanapun engkau berada saat ini.

Ohh ya, sahabat-sahabat yang baik hari ini kita akan coba belajar tentang adab seorang yang berilmu. Atau adab seorang guru.

Kenapa kita perlu belajar tentang adab seorang guru ini wahai sahabatku, karena meskipun kita bukan seorang guru di sekolah, kita adalah guru buat anak-anak kita. Guru buat tetangga atau pun masyarakat di sekeliling kita.

Guru adalah pewaris para Nabi dan Rasul. Orang yang paling tahu tentang akhlaqnya Nabi.

” Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Qs. Al Qolam:4)

Atinya seorang nabi, rasul dan seorang guru yang merupakan pewaris nabi adalah orang yang memiliki akhlaq yang tinggi dan berbudi pekerti yang agung dan dari mereka mendapatkan pahala yang terbesar di sisi Allah dan derajat yang tinggi di sisi-Nya karena ilmu dan adabnya.

Rasulullah menegaskan,

“Aku diutus bukan sebagai tukang laknat, tapi diutus untuk kerahmatan” (HR: Muslim).

Cara mempelajari adab guru yaitu dengan melihat langsung dan bisa dengan membaca kitab/ buku-buku yang berkaitan dengan adab.

Allah menyuruh kita mengikuti orang yang berilmu atau ahli ilmu bukan ahli dunia.

Adapun adab seorang guru kepada dirinya antra lain:

1. Selalu merasa diawasi oleh Allah saat sendiri maupun saat bersama orang lain.

Karena ia telah diberi ilmu oleh Allah. Sehingga ia tenang, berwibawa dan tidak berlaku bodoh.

Sehingga dia senantiasa berusaha menjalankan apapun yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebagaimana dalam Qs Al Anfal ayat 27,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

2. Menjaga Ilmu.

Karena hakikatnya ilmu adalah mulia. Maka, kita berkewajiban untuk menjaganya.

Sungguh Allah akan meninggikan orang yang beriman dan berilmu diantara kalian beberapa derajat.

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs. Al Mujadilah ayat 11)

Menjaga ilmu artinya tidak menghinakan ilmu. Kita tidak datang kepada orang-orang yang ahli dunia. Dalam hal ini penguasa atau pejabat kecuali benar-benar ada hajat atau kepentingan darurat.

Islam memiliki konsep yang mulia dalam belajar ilmu. Yaitu seorang murid yang datang kepada seorang guru.

Karena hakikat ilmu itu adalah didatangi, bukan mendatangi. Jadi sudah kewajiban kita sebagai seorang murid untuk mendatangi guru. Bukan justru datang kepada murid. Karena itu akan menjatuhkan ilmu itu sendiri dan kewibawaan seorang guru.

3. Memiliki Sifat Zuhud Pada Dunia.

Orang yang ahli ilmu adalah orang yang paling tahu tentang hakikat dunia. Sehingga ia tidak terpedaya oleh dunia.

Orang zuhud adalah orang yang mampu memperlakukan harta dengan tepat.
Ada sebuah pepatah lama mengatakan,

”Seandainya dunia itu adalah emas, sedang akhirat itu adalah tembikar, maka orang yang berakal itu lebih mengutamakan tembikar”

4. Harus mensucikan ilmu dari tujuan menjadikan ilmu sebagai anak tangga dalam meraih dunia.

Orientasi dan obsesi dunia yang berlebihan maka akan membuat Allah mencabut ilmu itu darinya.

Maka, perlunya kita berhati-hati. Jangan sampai kita mempelajari ilmu tujuannya agar kita mendapatkan harta, kedudukan ataupun perhiasan yang sifatnya duniawi semata.

5. Menjaga syiar-syiar Islam

Misalnya: dengan pergi ke masjid, memberi salam, sabar dan syiar-syiar Islam lainnya.

Sehingga seorang guru tidak terkesan kaku dan bersikap dingin.

Sekaligus untuk memudahkan bagi muridnya mendapat sentuhan dari sang guru.

6. Menjaga amal-amal Sunnah.

Kita selain ahli ilmu juga harus ahli ibadah. Jangan meninggalkan wirid dan zikir. Serta amal-amal sunnah yang lainnya.

7. Bergaul dengan manusia dengan akhlaqul karimah.

Diantaranya:wajah berseri, menyampaikan salam, menahan amarah, menanggung rasa sakit di masyarakat, mendahulukan orang lain dalam urusan dunia, berbuat adil, berterima kasih jika ada yang memberikan kebaikan bagi dirinya.

Ikut menyelesaikan hajat dimasyarakat. Bersikap ramah terhadap orang lain. Penuh rasa cinta dan kasih sayang pada kawan, tetangga dan kerabat. Bersikap dermawan dan lemah lembut. Suka menolong orang lain.

8. Membersihkan lahir dan batin dari akhlaq yang buruk.

Diantaranya: berkhianat dan hasad, melakukan kedholiman, marah yang bukan karena Allah.

Sombong, riya, pelit. Rakus terhadap dunia. Berbangga diri. Takut dan harap bukan karena Allah. Kotor dalam ucapan dan menghina orang lain. Merendahkan manusia dibawahnya baik secara ilmu, umur ataupun kedudukan.

Obat untuk penyakit hati diatas yaitu dengan akhlaq yang di redhoi oleh Allah. Diantaranya ikhlas, sabar, syukur, tawakkal, lemah lembut dan juga ridho.

Semuanya terangkum dalam kata mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian,” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Qs. Ali Imran 30-31)

9. Harus senantiasa mengupgrade ilmu dan bersemangat terus dalam menuntut ilmu.

Jadi tidak merasa malu untuk belajar pada siapapun. Kepada orang yang lebih tinggi ilmunya ataupun yang lebih rendah ilmunya. Bahkan pada yang lebih rendah usianya.

Tiada hari baginya tanpa menambah dan mencari ilmu.

10. Menyibukkan diri dengan menulis ilmu.

Menulis ilmu itu akan menguatkan hafalan, mencerdaskan hati, mengasah naluri, memperbagus dan mempermudah penjelasan.

Mendapatkan kenangan yang indah. Dan sekaligus besarnya pahala yang terus mengalir.

Demikianlah adab seorang guru terhadap dirinya. Semoga kita bisa bersama-sama melaksanakan adab seorang guru dan ahli ilmu ini.

Karena bagaimanapun kita saat ini kita adalah guru buat anak-anak.Guru buat orang-orang di sekeliling kita. Tetangga, kerabat dan masyarakat sekitar kita.

Sebagaimana pepatah lama guru adalah pelita. Penerang dalam gulita. Jasamu tiada tara.

Maka … ketika kita sebagai seorang guru tidak beradab yang baik. Maka kita tidak akan pernah menjadi lentera. Dan tak akan pernah menerangi dunia. Karena adab adalah cahaya yang menembus hati-hati manusia.

Tanpa adab yang baik maka setinggi apapun ilmu maka tak ada nilainya.

Dan ingatlah wahai saudaraku, keikhlasan hati seorang guru akan berpengaruh pada keberhasilan murid kita. Kejernihan hati seorang guru akan berpengaruh pada kebesaran anak didik kita. Begitulah kekuatan hati sang guru sangat menentukan baik buruk akhlaq muridnya.

Semoga Allah membimbing dan menganugrahi kita adab yang baik sebagai seorang guru dan kemudian Allah membantu kita dalam belajar dan mengajarkan ilmu buat anak didik kita. Hari ini, esok dan akan datang.

Aamiin … Allahuma … Aamiin …

Wallahu’alam bish-showab.***

Sumber Referensi:

Imam Badrudin Ibnu Jama’ah Al Kinani Asy Syafi’I, “Tadzkirotussami’fi Adabil ‘Alim Wal Muta’allim.