Pada kisah sebelumnya saya berbagi mengenai bagaimana ketika kita mendapatkan giliran menerima takdir terpapar covid19, apa saja gejala yang saya dan keluarga alami. Kali ini saya akan berbagi pengalaman berapa lama saya dan keluarga isolasi di Lido, pengobatan apa yang saya jalani, dan apakah di Lido diswab sebelum pulang? Beberapa point yang saya bahas ini berdasarkan banyaknya pertanyaan yang masuk pasca saya berbagi dikisah sebelumnya.

Tidak terbuka, penyebaran semakin meluas.

Alhamdulillah, sejak saya berbagi pengalaman tersebut banyak orang-orang terdekat bahkan yang belum saya kenal menghubungi saya untuk berbagi pengalaman. Dari situ saya benar-benar percaya bahwa pandemi ini nyata dan semakin meningkat. Hal yang membuat saya tercengang banyak sekali orang-orang yang tidak berani terbuka telah terpapar covid19 dan hal ini merupakan salah satu faktor menyebarkan virus semakin meluas. Namun disisi lain saya bersyukur dari pengalaman saya tersebut satu persatu mulai terbuka untuk menceritakan kondisinya walaupun hanya pada orang-orang yang dipercaya saja. Dari informasi-informasi tersebut saya juga melihat banyak faktor yang menyebabkan banyak orang belum siap menerima takdir ini diantaranya:

  1. Ada rasa ketakutan yang berlebihan maka edukasi sangat diperlukan dalam hal menganali sifat baru dari virus ini. Jangan terlalu percaya informasi-informasi yang menakutkan. Berbicaralah pada orang-orang yang sudah mengalami. Jangan takut ketika diwawancara saat tracing, ini sangat dibutuhkan agar penyebaran virus tidak semakin meluas dan bisa segera tertangani dengan cepat, tepat, dan segera tertolong. Jangan percaya omongan bahwa jika dicek lab akan dibuat-buat menjadi positif, padahal jika tidak ada virus tentu saja hasil akan negatif. Hal ini terjadi pada sepupu saya yang melakukan kontak dengan saya alhamdulillah hasil swab nya negatif. Begitupun dengan pengalaman saudara dan keluarga teman-teman saya di tempat isolasi meski kontak erat dengan mereka tapi alhamdulillah hasil swab nya negatif. Bahkan ada yang mengatakan jika diswab dengan biaya gratis maka akan dibuat positif agar dana bisa turun, jangan mudah percaya karena saya sekeluarga swab mandiri tetap saja positif begitu juga pengalaman teman-teman yang mengeluarkan biaya sendiri.
  2. Khawatir dikucilkan lingkungan terdekat. Edukasi bukan hanya dibutuhkan bagi mereka yang terpapar tapi juga untuk semua orang. Agar bukan hanya pasien saja yang dituntut untuk tidak stress menghadapi virus ini namun juga keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika di lingkungan terdekat kita ada yang terpapar covid19 maka keluarga dan lingkungan terdekatlah yang pertama kali harus membantu. Pasien dituntut untuk tidak boleh keluar rumah lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhannya jika bukan keluarga dan lingkungan terdekat? Jangan mendiskriminasi mereka yang terpapar karena mereka butuh dukungan agar keadaan tidak semakin memburuk. Hal yang paling penting untuk diketahui adalah covid19 bukanlah aib. Tidak ada seorang pun yang ingin terpapar virus ini dan pasti sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menghindarinya. Siapapun harus menyadari cepat atau lambat virus ini semakin dekat, semua harus bersiap menerima takdir untuk mendapatkan giliran karena pandemi ini semakin tidak bisa dihindari. Aktifitas di luar rumah sudah kembali menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Jika memang keadaan sulit untuk kondisikan, lingkungan sangat tidak kondusif, hubungi orang-orang yang bisa dipercaya dan bisa membantu selama isolasi mandiri. Karena dari pengalaman beberapa orang yang bercerita kepada saya, di lingkungan sekitar benar-benar sulit untuk difahamkan dan untuk memahami tentang virus ini. Namun saya tegaskan jika memang kondisinya demikian jangan ke luar walaupun hanya sekedar membeli kebutuhan pokok dan berinteraksi sangat dekat dan berlama-lama mengobrol minimal selama 3 minggu atau setidaknya sampai gejala hilang dan tubuh benar-benar sudah terasa fit tidak ada lagi rasa-rasa yang menggangggu pada tubuh. Hal lain yang penting untuk diketahui, jangan membayangkan jika terkena covid19 maka akan masuk ICU dengan kondisi mengerikan seperti yang beredar diberita-berita medso. Padahal tidak selalu seperti itu. Banyak yang sembuh dan bergejala ringan hanya seperti flu biasa.
  3. Tidak ada biaya untuk swab PCR. Swab paling akurat untuk mendeteksi DNA jenis virus covid19 ini adalah swab PCR. Harganya memang cukup mahal, minimal bajet yang dibutuhkan Rp. 900.000,- untuk hasil sekitar 4-5 hari. Jika ingin hasil yang lebih cepat membutuhkan bajet diatas 1 juta rupiah. Sehingga inilah yang menyebabkan banyak masyarakat enggan diswab. Namun jika melapor ke puskesmas setempat bisa dibantu untuk pelayanan gratis. Saya sendiri melakukan swab PCR mandiri karena membutuhkan informasi yang cepat tentang kondisi kesehatan saya dan keluarga. Jika memang benar-benar tidak bisa mendapatkan pelayanan secara gratis saya sarankan isolasi mandiri yang saya jelaskan dipoin 2.

Faktor-faktor diatas hanya analisa pribadi saya saja dari informasi orang-orang yang berbagi pengalaman kepada saya. Namun setidaknya bisa dijadikan pengalaman berharga agar lebih siap menghadapi pandemi ini.

Pengobatan covid 19
Selama saya dan keluarga dibawah pengawasan dokter tidak ada obat husus untuk virusnya sendiri karena virus tidak ada obatnya. Dokter hanya memberikan vitamin c untuk meningkatkan imun. Obat-obatan tergantung gejala yang dialami. Jika ada gejala batuk dokter akan memberikan obat batuk, paracetamol untuk demam dan pusing-pusing, obat pilek jika ada gejala hidung meler, dan obat lainnya sesuai gejala. Ketika ada virus dalam tubuh daya tahan tubuh harus ditingkatkan agar virus semakin melemah. Makan makanan yang bergizi dan seimbang juga banyak minum. Jika kurang makan dan minum maka virus akan semakin reaktif. Obat-obatan lain yang saya konsumsi untuk meningkatkan imun adalah obat herbal. Saya mengkonsumsi habbatusauda sebelum tidur, propolis setelah bangun tidur saat perut kosong, minum cairan probiotik (fermentasi air kelapa) yang dicampur kedalam air minum setelah setiap selesai waktu makan dicampur dengan madu kadang juga tidak dicampur madu.

Antara makan siang dan sore saya menghirup uap minyak kayu putih murni yang diteteskan secukupnya kedalam air mendidih juga meminumnya dengan meneteskan 1-2 tetes kedalam air hangat. Setelah mandi dibalurkan ke seluruh tubuh biar hangat. Namun terapi minyak kayu putih ini tidak terlalu saya rekomendasikan karena belum ada penelitiannya untuk dikonsumsi sehingga kurang dapat dipertanggung jawabkan. Hanya bentuk ikhtiar saja. Siplemen-suplemen selain minyak kayu putih InsyaAllah bisa membantu pemulihan juga atas izin Allah. Banyak pengalaman mereka yang sudah sembuh hanya dengan minum propolis saja atau probiotik saja. Sampai saat ini saya masih terus mengkonsumi probiotik untuk pencegahan karena dari info yang say abaca tentang probiotik manfaatnya sangat bagus untuk detox dan mengeluarkan virus.

Home sweet home

Selama isolasi di Lido saya dan keluarga sudah mempersiapkan segala sesuatunya untu selama kurang lebih 14 hari kami di sana. Banyak info masuk yang mengatakan di sana minimal 12 hari baru boleh pulang. Suami berangkat lebih dulu ke Lido tanggal 1 Desember 2020 lalu saya menyusul esok harinya. Alhamdulillah diluar dugaan ternyata tanggal 8 Desember 2020 kami sudah boleh pulang oleh dokter, hanya 6 hari di sana. Apakah sengaja dipulangkan karena pasien setiap hari terus bertambah banyak? Tidak juga, banyak pasien yang lebih dulu datang sebelum kami justru pulang beberapa hari setelah kami pulang. Dokter mengizinkan pulang memang saya sekeluarga sudah tidak lagi mengalami gejala apapun. Kondisi sudah membaik dan saya memberikan keterangan kepada dokter apa adanya.

Saya juga tidak ada keinginan untuk buru-buru pulang. Saya hanya pasrah dan ikhlas saja menjalani isolasi ini saya serahkan pada Allah Maha Pengatur dan dokter lebih tahu kondisi kesehatan saya dan keluarga sudah boleh pulang atau belum. Lalu apakah sebelum pulang kami diswab untuk mengecek virus sudah negative atau belum? Tidak, dokter hanya memberikan surat sehat. Menurut dokter setelah 14 hari virus sudah tidak menularkan lagi sementara saya dan keluarga jika dihitung dengan isolasi di rumah sudah melakukan isolasi mandiri selama 3 minggu.

Namun demikian kami tetap waspada, sepulang dari Lido saya dan keluarga tetap melanjutakn isolasi selama 1 minggu jadi total isolasi yang kami lakukan selama 1 bulan. Tes selanjutnya bisa dilakukan mandiri atau dipuskesmas setempat dengan membawa surat rujukan dari dokter di Lido.

Semoga dari pengalaman saya dan keluarga dikisah pertama dan kedua ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Bisa membangun kesadaran bahwa dimasa pandemic ini bukan hanya imun yang harus ditingkatkan namun iman juga harus ditingkatkan agar bukan hanya fisik yang siap namun juga mental siap menghadapi takdir ini.