Marilna Noorbayanti, S.Si

Kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia terus mengalami peningkatan. Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar mengatakan, sejak Januari hingga 31 Juli 2020 tercatat ada 4.116 kasus kekerasan pada anak di Indonesia. (Kompas.com – 24/08/2020). Sementara itu Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Valentina Gintings juga menyoroti maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi selama pandemi yaitu sebanyak 1.848 kasus. (Data SIMFONI PPA, pada 1 Januari – 19 Juni 2020).

Untuk mengatasi meningkatnya kekerasan seksual terhadap anak, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Kebiri untuk Predator Seksual. PP Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dam Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak ditandatangani Jokowi pada 7 Desember 2020. (Detiknews, Minggu 3/1/2021). Dengan ditandatanganinya PP Nomor 17 Tahun 2020 ini diharapkan bisa mengatasi kekerasan seksual terhadap anak, memberi efek jera terhadap pelaku dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Persoalan kekerasan seksual pada anak membuat gelisah semua pihak. Anak yang harusnya mendapat perlindungan penuh dari keluarga, masyarakat dan negara ternyata kehidupannya terancam. Penerapan hukuman kebiri dianggap pemerintah sebagai solusi untuk menekan kasus kekerasan ini. Namun, benarkah hukuman kebiri mampu memberikan efek jera bagi predator seksual ? Apakah hukuman kebiri mampu menekan kekerasan seksual pada anak ? Bagaimana Islam memberikan solusi untuk masalah ini ?

Potret Masyarakat Sakit

Fenomena kekerasan seksual anak adalah potret dari kondisi masyarakat yang sakit. Anak yang seharusnya memiliki posisi istimewa dan harus dilindungi dalam masyarakat ternyata dipandang sebagai alat pemuas nafsu bejat para predator seksual.

Banyak faktor yang terjadi kenapa para predator seksual tega merusak masa depan anak-anak negeri. Salah satunya adalah maraknya pornografi dan pornoaksi. Tayangan pornografi dan pornoaksi menjadi faktor pendorong bergejolaknya naluri seksual yang tak terkendali. Akibatnya anak-anak yang lemah menjadi korban kebengisan predator seksual.

Perlindungan keluarga terhadap anak juga menjadi faktor meningkatnya kekerasan seksual pada anak. Kerap kali anak dibiarkan bermain tanpa pantauan orang tua. Bahkan, tidak sedikit anggota keluarga sendiri yang menjadi predator seksual terhadap anak-anak di rumah. Rumah sudah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk berlindung.

Sistem kehidupan yang liberal kapitalistik merupakan sumber utama terjadinya kekerasan seksual pada anak. Sistem ini membiarkan nafsu manusia diumbar tanpa kendali. Tayangan berbau porno marak terjadi atas nama kebebasan berekspresi. Goyangan erotis tumbuh subur atas nama seni. Kerusakan moral pun tidak menjadi pertimbangan selama mendapat keuntungan materi. Inilah corak masyarakat yang sakit akibat mengadopsi nilai-nilai liberal kapitalistik yang melemahkan iman masyarakat di negeri ini.

Maka, Kebiri tidak akan mampu mencegah kasus kekerasan seksual apalagi memberi efek jera. Jika faktor-faktor penyebabnya tidak diselesaikan oleh negara, kekerasan seksual akan terus terjadi. Selama sistem liberal kapitalis masih bercokol di negeri ini, upaya apapun yang dilakukan untuk mencegah kekerasan seksual akan sia-sia.

Sistem Islam Solusi Kekerasan Seksual Anak

Islam memberikan posisi istimewa pada setiap anak. Anak merupakan cahaya mata keluarga dan pelestari pahala bagi kedua orang tuanya. Anak juga menjadi penerus garis keturunan bagi sebuah keluarga. Anak adalah generasi penerus masa depan dan pembangun peradaban bagi sebuah negara.

Maraknya kekerasan seksual bisa menghancurkan masa depan generasi dan masa depan negeri. Sistem Islam mampu menghapus kekerasan seksual sampai ke akar-akarnya. Untuk mencegah dan menghilangkan kekerasan seksual, Islam mewajibkan negara untuk melakukan langkah-langkah berikut : Pertama, mengokohkan banguan aqidah ditengah-tengah masyarakat. Negara wajib menjaga aqidah masyarakat melalui sistem pendidikan dan pembinaan secara intensif baik melalui lembaga-lembaga pendidikan, media maupun pengajian-pengajian di masyarakat. Negara wajib menghapus semua hal yang bisa merusak aqidah dan moral masyarakat. Dengan Aqidah yang kuat maka individu-individu masyarakat akan mensandarkan perbuatannya pada aqidahnya bukan pada hawa nafsunya.

Kedua, memperbaiki bangunan keluarga. Keluarga sebagai tempat berlindung bagi anggota-anggota yang ada di dalamnya. Orang tua wajib memberikan pendidikan dan keteladanan yang baik di dalam rumah. Orang tua juga tidak boleh abai dalam menjaga anak-anaknya baik ketika di dalam rumah maupun di luar rumah. Negara wajib memberikan edukasi kepada kepala keluarga supaya bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Ketiga, memberikan jaminan ekonomi. Nagara wajib menjamin ekonomi masyarakat dengan memberikan fasilitas pelayanan kesehatan, pendidikan dan keamanan secara gratis dan berkualitas. Negara juga wajib menyediakan lapangan pekerjaan yang halal sehingga tidak ada rakyat yang mencari nafkah dengan cara-cara yang bisa merusak moral. Dengan jaminan ekonomi ini, para ibu bisa menjalankan fungsi optimalnya sebagai pendidik tanpa harus keluar rumah meninggalkan anak-anak mereka.

Keempat, memberikan jaminan interaksi sosial. Di dalam Islam, interaksi yang dibangun antara anggota masyarakat adalah kerja sama dan tolong menolong. Dalam islam laki-laki dan perempuan adalah saudara, maka harus saling melindungi. Penyaluran naluri seksual hanya dibolehkan melalui lembaga pernikahan yang sah. Larangan saling capur baur dan berdua-duaan laki-laki perempuan yang bukan mahram dilarang didalam Islam. Islam juga mewajibkan laki-laki dan permpuan untuk menutup auratnya dan menundukan pandangannya. Maka negara wajib mengontrol supaya sistem interaksi sosial ini berjalan sesuai aturan Islam.

Kelima, Negara wajib memberikan sangsi yang tegas bagi para pelaku perusak moral dan predator seksual. Islam mewajibkan negara memberika sangsi tegas bagi para pelaku bisnis hiburan yang melanggar nilai-nilai Islam dan merusak moral masyarakat. Negara juga memberikan sangsi tegas bagi pelaku predator seksual seperti rajam, cambuk atau hukuman mati sesuai kadar kejahatan yang dilakukan.

Demikianlah solusi Islam terhadap kekrasan seksual pada anak. Semua ini hanya akan terwujud jika negara mau mengganti sistem liberal kapitalis dengan sistem Islam. Dengan sistem Islam generasi bisa terlindungi. Negara sebagai perisai harus mampu melindungi semua generasi. Dengan sistem islam pula akan terwujud kepemimpinan negara yang amanah dan bertanggung jawab. Pertanggung jawaban ini tidak bisa dianggap main-main karena akan berhadapan dengan Allah SWT, Yang Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Mengawasi.