Oleh: Agu Dian Sofiyani, S.S

Dunia Islam kembali dirundung derita. Rezim Srilangka telah mengkremasi paksa jenazah 15 muslim termasuk bayi yang berusia 20 hari, yang menjadi korban covid 19. Bahkan tanpa rasa bersalah pemerintah Sri Lanka meminta pihak keluarga untuk membayar sekitar US$ 300 untuk menutupi biaya kremasi. Otoritas kesehatan Sri Lanka beralasan tubuh korban Covid-19 akan mencemari air tanah jika dikubur. Padahal menurut panduan yang dikeluarkan WHO, penanganan jenazah pasien Covid-19 yang terpenting adalah memastikan jenazah terlapisi dengan baik, sehingga bisa dikuburkan seperti jenazah pada umumnya (tempo.co, 18 Desember 2020).

Rezim Srilangka tentunya mengetahui bahwa dalam ajaran Islam, seseorang yang meninggal dunia harus dikuburkan. Namun rezim tetap memaksakan kebijakan kejinya kepada umat Islam. Ketua Aliansi Persatuan Nasional (NUA) dan mantan gubernur Provinsi Barat, Azath Salley mengatakan bahwa pemerintah ingin melukai perasaan warga minoritas. Mereka melanggar pedoman WHO dan hak asasi manusia (tempo.co, 18 Desember 2020).

Kezaliman Rezim Srilangka tentu tidak boleh dibiarkan. Memaksakan kremasi kepada Muslim sama saja menyerang syariat Islam dan menodai kehormatan syariat dan umatnya. Umat Islam di seluruh dunia seharusnya tidak boleh diam menghadapi kejahatan rezim komunal Srilangka. Jika mereka tidak bergeming dengan protes dan kecaman, maka harus dilakukan tindakan yang akan memaksa mereka mencabut kebijakannya, yakni mobilisasi seluruh umat Islam untuk berjihad.

Namun siapa yang mampu memobilisasi umat untuk berjihad?dialah yang disebut Khalifah dan sistem pemerintahan yang dipimpinnya dinamakan khilafah. Khalifah lah yang nanti akan memobilisasi tentara umat Islam melawan kezaliman dan penodaan terhadap kehormatan syariat Islam dan umatnya. Di tangan Khalifah lah amanah menjaga umat Islam berada. Sesuai sabda Nabi Muhammad Saw. “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Sebagaimana dulu Khalifah Al Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang muslimah yang perempuan menjerit di Negeri Amuria karena dilecehkan dan dianiaya. Dia memanggil-manggil nama Al-Mu’tashim. Jeritannya didengar dan diperhatikan oleh sang khalifah. Serta-merta khalifah al-Mu’tashim mengirim surat untuk Raja Amuria, “Dari Al-Mu’tashim Billah kepada Raja Amuria. Lepaskan wanita itu atau kamu akan berhadapan dengan pasukan yang kepalanya sudah di tempatmu, sedangkan ekornya masih di negeriku. Mereka mencintai mati syahid seperti kalian menyukai khamar!”

Singgasana Raja Amuria pun bergetar ketika sang Raja membaca surat itu. Lalu wanita itu pun segera dibebaskan. Kemudian Amuria ditaklukan oleh tentara kaum muslim.

Begitulah penjagaan dan perlindungan Khalifah kepada umat Islam. Sayang, saat ini umat Islam telah kehilangan institusi penjaga mereka, setelah diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Attaturk tahun 1924. Sejak saat itu sampai sekarang umat Islam seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Umat Islam menjadi sangat lemah, terpecah belah dan menjadi sasaran empuk kekejaman orang-orang kafir yang membencinya.

Maka sudah saatnya umat Islam seluruhnya bersegera mewujudkan kembali institusi penjaga mereka yakni khilafah. Sungguh keberadaan khilafah bagi umat Islam bukan hanya sebuah kewajiban namun juga sebuah kebutuhan. Tanpa khilafah, penodaan terhadap syariat dan umatnya, akan terus berlangsung seperti yang dilakukan oleh rezim Srilangka. Wallahu’alam.