Oleh: Lutfia Annisa (Mahasiswi dan aktivis dakwah)

Indonesia sedang tidak baik-baik saja, semakin bertambahnya hutang membuat keadaan ekonomi Indonesia semakin terpuruk. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani secara terbuka menyatakan bahwa hutang negara semakin membengkak di masa pandemi ini (CNBC Indonesia 4/1/2021). Sejak mengalami krisis di tahun 1998 dilanjutkan dengan reformasi, hutang luar negeri Indonesia kian mulai tinggi. Menurut laporan WE Online (27/12/2020) hutang Indonesia mencapai Rp 6.000 triliun yang sebelumnya masih berada di level di bawah Rp 1.000 triliun. Lebih parahnya, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla pada suatu webinar menjelaskan bahwa kemungkinan besar 40% dana APBN hanya mampu digunakan untuk membayar bunga dan cicilan hutang (WWE Online 29/12/2020). Bahkan setiap bayi yang lahir di Indonesia sudah dikenai beban hutang Pemerintah sebesar puluhan juta rupiah.

Pengelolaan keuangan di sistem demokrasi ini menunjukkan bahwa tidak mampu bertahan di kala adanya pandemi atau isu-isu global lainnya. Negara tidak memiliki ketahanan ekonomi politik dan politik ekonomi yang baik sehingga mudah bergantung pada negara lain. Sedangkan, kita memahami bahwa pertolongan negara lain kepada Indonesia bukan cuma-cuma melainkan menantikan imbalan yang menguntungkan pihak pemberi hutang. Melihat kekayaan alam Indonesia yang melimpah membuat banyak negara lain iri dan ingin selalu menguasai. Lemahnya ketahanan ekonomi di sistem demokrasi diakibatkan karena prioritas kapitalis adalah keuntungan bukan lagi kesejahteraan rakyat. Sistem riba dalam hutang piutang antar negara kapitalis akan membunuh secara perlahan negara-negara yang masih berkembang. Maka, rakyat saat ini sangat butuh sistem yang benar-benar mampu melindungi keutuhan negara dan mampu menyelesaikan masalah perekonomian negara.

Solusi yang kini tidak kunjung ditemukan dari sistem demokrasi menandakan adanya kerusakan dalam akar sistemnya. Asas sistem demokrasi yang bertumpu pada aturan manusia akan menghasilkan kesulitan hidup, sesuai dengan Firman Allah swt QS. Ta Ha:24, yaitu:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Maka, solusinya adalah kita harus menggunakan sistem yang berlandaskan pada aturan Allah swt semata sebagai pencipta dan pengatur manusia, alam semesta dan seisinya. Pada firman Allah swt pada QS. At-Talaq:4 menjelaskan:

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

Sistem Islam mampu terbebas dari hutang dikarenakan sistem ini memiliki politik ekonomi Islam yang sangat jelas dan kuat. Politik ekonomi Islam mampu memberikan kesejahteraaan pada setiap rakyatnya karena pemenuhan kebutuhan pokok individu dipenuhi negara melalui pengelolaan hasil sumber daya kepemilikian negara. Semua rakyat memiliki hak yang sama tanpa harus menerapkan kriteria tertentu untuk menerimanya. Penetapan hukum syariat Allah swt pada sistem Islam secara jelas akan mempermudah terwujudnya kesejahteraan rakyat. Beberapa hukum syariat yang ada dalam sistem Islam untuk mencapai kesejahteraan yaitu: Islam mewajibkan laki-laki untuk bekerja (QS. Al-Mulk: 15), Islam mewajibkan pula kepada para Ayah dan wali menanggung nafkah ahli waris yang tidak mampu bekerja (QS. Al-Baqarah:23), dan apabila tidak ada yang menanggung nafkah mereka maka baitul mal bertanggungjawab untuk memenuhinya. Sistem Islam yang sangat sistemik dan kompleks selalu mudah dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan rakyat. Selain itu, Islam juga berpandangan bahwa harta memiliki tiga tujuan, harta sebagai tabungan, belanja, dan sirkulasi. Pengaturan atas ketiga tujuan harta diatur secara jelas dalam syariat. Maka, sesungguhnya sistem Islam adalah satu-satunya sistem terbaik yang Allah swt anugerahkan dan memuliakan manusia. Sistem Islam mampu mensejahterakan baik itu rakyat muslim maupun non-muslim. Sehingga tidak heran lagi banyak sekali rakyat yang merindukan kembali ditegakkannya sistem Islam ini. Maha benar Allah swt atas segala firmanNya.