Oleh: Nunik Umma Fayha

Ada yang sedang viral di jagad sinetron Al alias Aldebaran. Hebatnya Al ini sampai membuat seorang Mama baru harus berdebat dengan suami karena pengen bayinya dinamai Aldebaran. Saya tidak yakin apakah sang Mama tahu arti namanya. Paling kalau ditanya, karena namanya terdengar keren, atau karena ‘cool’.

Jadi ingat juga tulisan teman tentang prediksi nama murid TK 5 tahun ke depan. Nama ter-fenomenal saat ini, digandrungi para Emak pemirsa sinetron. Hehe, begitulah tipikal sebagian penonton di Indonesia. Menonton dengan khusyu sampai kadang tidak bisa membedakan mana cerita rekaan, mana fakta di baliknya, bahkan sampai membayangkan menjadi bagian cerita. Gubrak!

Sering terjadi di sekitar kita, tontonan hiburan dianggap kenyataan. Kisah yang diangkat dirasa mewakili apa yang mereka alami sehingga larut dengan cerita bahkan kadang menginspirasi. Laman merdeka.com pernah menurunkan artikel tentang penonton televisi. Menurut artikel itu, saat ini mayoritas penonton di Indonesia adalah kelas B dan C, alias kelas menengah ke bawah. Tipikal kelas ini senang menonton program-program yang disiarkan di stasiun televisi swasta meskipun program tersebut kurang mendidik. Hal itu dikarenakan televisi swasta adalah hiburan satu-satunya bagi mereka, demikian disampaikan koordinator komunitas jaringan siaran, Bayu Wardhana.

Penonton yang tidak memiliki alternatif akan menonton apa pun yang ditayangkan media. Televisi bahkan sering dijadikan rujukan utama informasi dan dianggap benar. Padahal tontonan seperti sinetron di tv ikan terbang yang seragam alurnya, juga sisi berita senada yang disampaikan media, bila dilihat terus akan membuat bias antara tontonan dengan kenyataan.

Hal ini bisa diamati dari perilaku para fans sinetron bahkan drama K-Pop. Mereka sering sampai merasa menjadi bagian dari drama atau kehidupan artisnya. Seperti sekilas muncul di infotainment, pemeran mamanya Al ditanya fans, kok bisa anaknya ganteng-ganteng. Wah… Dianggapnya sinetron itu dunia nyata dan semua cerita itu adalah fakta.

Penonton dan Jebakan Post Truth

Dalam esainya Lying in Politics (1972), Hannah Arendt menyatakan, selalu ada titik di mana kebohongan menjadi kontraproduktif. Titik ini tercapai ketika penonton yang dituju oleh kebohongan, dipaksa untuk mengabaikan sama sekali garis pembeda antara kebenaran dan kepalsuan agar dapat bertahan. Dalam kasus Mas Al ini terbukti dengan rating drama yang selalu di atas. Peran Infotainment dan youtube buzzer yang terus menerus mengulik apa dan siapa di balik produksi drama/sinetron terus menarik publik agar senantiasa terhubung dengan ‘kebenaran.’

Tidak beda jauh penonton drama dengan penonton berita. Penonton televisi di Indonesia khususnya kelas B dan C, karena kurang mempunyai alternatif tentu saja mempengaruhi wawasan dan opini mereka. Opini yang didapat dari televisi sering tidak tersaring. Akan tetapi seringkali pemirsa merasa sudah cukup dan meyakini informasi yang didapat tanpa ada proses verifikasi. Padahal seperti sudah jamak kita pahami, televisi sebagai media mainstream saat ini sudah tidak lagi berada pada posisi netral. Sajian informasi berita sangat kentara menunjukkan pemihakan.

Republika 19/05/06 dalam sebuah kolom memuat bahwa yang paling repot adalah ketika kebenaran opini dari suatu kelompok diyakini tanpa melakukan verifikasi opini atau berita tersebut. Informasi diterima mentah-mentah secara emosional. Akhirnya, kebohongan di zaman ini menjadi suatu yang lazim dan wajar. Sebagai seorang Muslim sikap kita adalah meyakini bahwa kebenaran harus disebarkan. Sebaliknya, kebohongan harus ditinggalkan dengan menjadikan akal dan hati nurani yang selalu terkoneksi dengan wahyu sebagai pemandunya.

Ibnu Taimiyah dalam Majumu’ Fatawa mengatakan seorang yang menggunakan akalnya adalah yang tahu itu baik, lalu mencarinya, dan jika mengetahui hal buruk sehingga meninggalkannya (Juz 7: 24). Ia menambahkan bahwa akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Akal baru bisa berfungsi jika memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan Alquran barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari.

Media Sebagai Sarana Perang Informasi

Saat ini perang fisik sudah sangat dihindari karena besarnya biaya dan kerusakan yang diakibatkannya. Perang sekarang tak kasat mata tapi hasilnya jauh lebih merusak dari perang fisik. Dengan ekonomi, negara-negara maju menjajah negara lain yang sedang terlilit hutang untuk kemudian menguasai sumber dayanya.

Dengan media massa mereka membentuk mindset bahwa hanya mereka, negara maju lah, yang mampu membawa perbaikan dunia. Sistem merekalah yang paling baik. Mereka menanamkan perasaan ‘inferior’ khususnya di kalangan negeri dan umat muslim sehingga menganggap perbaikan kehidupan hanya bisa dilakukan dengan sistem yang diasong Barat. Mereka dibuat skeptis dan menganggap utopis apa pun di luar Barat.

Pun bahwa syariat Islam tidak mereka yakini akan mampu membawa perbaikan kehidupan. Umat dininabobokkan dengan pemahaman bahwa aturan Islam hanya cukup untuk mengatur ibadah mahdhah. Mereka merasa sudah cukup dan bangga menggunakan sistem Barat dan berharap kemajuan darinya.

Cak Nun dalam Maiyah-an 25 Desember 2020 menuturkan bahwa Zaman ini adalah zaman yang paling sulit, berat dan dilematis bagi setiap manusia yang hidupnya menomorsatukan Tuhan. Zaman Supra-Jahilyah. Teknologi, budaya dan sistem kemunafikan sudah sampai ke puncak kecanggihannya. Keburukan sangat bisa dihadirkan sebagai kebaikan, kekufuran ditampilkan sebagai kesetiaan, kehinaan diumumkan sebagai kemuliaan. Bahkan kemunduran, kebobrokan dan kehancuran bisa diumumkan sebagai kemajuan, kebangkitan dan kejayaan. Juga sebaliknya bagi semua itu.

Media saat ini telah menjadi sarana penjajahan pemikiran. Fenomena post truth membuat sasaran mereka merasa apa yang disampaikan adalah kebenaran, karena kebohongan yang disampaikan terus-menerus berpotensi dipercaya sebagai kebenaran. Masih menurut Cak Nun, level pertama dan kedua penetrasi kebohongan membuat mereka kuat dan stabil bertahan. Sementara kondisi ketiga justru membuat mereka sangat luwes dan tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri. Tentu saja penyesuaian diri terhadap situasi pembohongan, atau bahkan memposisikan diri menjadi partisipatoris dalam mekanisme pembenaran atas kebohongan itu.

Media saat ini menumpulkan etika jurnalistik dengan menuruti ego kekuasaan. Tampak kentara pada kasus ‘syahidnya’ 6 laskar eFpiaI, media mana yang menjaga identitas jurnalisme dan mana yang sekedar ‘copy paste’. Jurnalis-jurnalis senior yang tergabung dalam FNN, Forum News Network, yang berusaha menyampaikan fakta malah dipersekusi. Edi Mulyadi dipanggil Bareskrim Polri. Akun Hersubeno Arief di’banned’ hingga perlu ‘effort’ lebih untuk mengaksesnya. Belum lagi masalah pencitraan. Publik terus menerus disuguhi citra baik, citra indah padahal rasanya pahit. Tak henti-hentinya. Dengan menggunakan teori Post Truth, semua pencitraan ini pastilah diharapkan akan mempengaruhi opini publik terutama pada kalangan yang memilik keterbatasan akses informasi.

Bagaimana Umat Mensikapi Bias Informasi

Sebagai mukmin kita dibekali aturan dalam mengelola informasi. Di dalam aturan itu ada yang namanya ghibah dan namimah yang harus dihindari karena bisa menjatuhkan diri pada posisi ‘memakan bangkai saudara’. Dan kini saat informasi melaju dengan sangat kencang, membutuhkan kemampuan membaca, menelaah, menyimpulkan dan memilah kebenaran. Jangan sampai kita terjebak dalam kebohongan yang ditampilkan media karena ketidakpahaman kita atas informasi yang beredar. Salah menanggapi berita, mana yang benar dan mana yang justru menjadi sebab ditahannya Rahmat Allah.

Berita-berita yang berseliweran di media, mungkin pada esensinya sangat menentukan nasib rakyat. Namun karena keterbatasan intelektual, mayoritas rakyat menganggap itu sebagai isu saja, sebagai opini angin lalu yang akan hilang berganti dengan isu lain yang akan muncul silih berganti (@Salman Khan @bima_kaffah). Kita perlu meningkatkan keimanan dan menumbuhkan akal pikiran yang sehat dengan nutrisi yang bersumber dari Alquran dan Sunnah. Hindari hawa nafsu atau emosi semata terhadap berita yang baru saja kita terima, karena ia cenderung menyeru kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku, QS. Yusuf : 53 (republika.co.id).

Umat harus pandai memilah dan memilih fakta yang ditampilkan media dan menyikapi dengan tepat. Jangan sampai karena kebodohan dan kejumudan, kita justru jadi penghalang kebenaran. Dan karena keterbatasan kita, maka dibutuhkan jamaah yang menjadi acuan kita dalam memahami suatu fakta. Jamaah untuk melindungi kita dari kesalahan menyikapi informasi yang didistorsi untuk menyudutkan umat terus menerus. Umat butuh jamaah yang paham syariat. Butuh jamaah yang mampu mengolah, menyebar berita yang benar dan menanggapi sesuai aturan Allah. Yang tidak menjatuhkan diri pada posisi pemakan bangkai saudara. Yang tidak menggunakan media sekedar untuk pencitraan karena yang dibutuhkan umat adalah kerja nyata buka hanya kerja rekayasa.

Jika saat ini umat terpuruk karena setiap geraknya menuju pemahaman dan pelaksanaan Islam kaffah selalu diberikan cap ‘radikal’ maka selain secara nyata kita tunjukkan kesalahan premis tersebut, di dunia maya juga kita lawan kebohongan yang ditudingkan pada umat dengan narasi kebenaran. Fitnah itu dibuat oleh orang yang kejam, disebarkan oleh orang jahat, didengarkan oleh orang dzalim dan dipercaya oleh orang bodoh. Jangan sampai kita jatuh dalam kubangan kebodohan.

*gerimisdilerenglawu080121