Oleh: Dedeh Jubaedah
Aktivis Muslimah Karawang

Ekshibisionisme dalam ilmu medis adalah penyakit kesehatan mental yang berpusat mengekspos alat kelamin seseorang untuk mendapatkan kepuasaan. Pelaku pada umumnya adalah laki-laki, penyakit tersebut banyak kita jumpai di setiap kota dan daerah salah satunya yang terbaru ada di wilayah Karawang Jawa Barat.

Si pelaku melancarkan aksinya di depan seorang ibu muda dan sempat viral di media sosial, karena aksinya tersebut pelaku kini sudah diamankan di polres karawang. Dari hasil pemeriksaan terakhir pelaku melakukan perbuatannya atas dasar iseng. (Detik.com 06/01/21)

Masih dari sumber yang sama kasus pamer kelamin yang meneror perempuan di Karawang bukan hal baru. Direntang tahun 2016 hingga 2019 sudah mencapai puluhan kasus dan yang menjadi korbannya adalah dari kalangan ibu rumah tangga sampai remaja. Kepolisian pun melakukan penangkapan kasus ekshibisionisme tersebut, lantas apakah lingkungan di sekitar kita sudah aman?

Penangkapan kasus tersebut tidak lantas lingkungnan kita aman, karena tidak menutup kemungkinan bahwa pelaku-pelaku ekshibisionisme tersebut masih ada bahkan banyak di sekitar kita. Lalu bagaimana cara kita menghindarinya?

Dari sebuah artikel kesehatan pada umumnya pelaku ekshibisionisme menginginkan suatu reaksi yang menunjukan si korban memberikan atensi terhadap apa yang dilakukannya. Seperti takut atau panik oleh karenanya alangkah lebih baiknya ketika kita berhadapan dengan pelaku tersebut tidak memperlihatkan reaksi apapun terhadapnya. Cuek saja alihkan perhatian kita kepada yang lain. Jika kita takut atau panik berarti pelaku merasakan kepuasan karena aksinya telah berhasil.

Untuk masyarakat terutama perempuan dihimbau untuk tidak berada di tempat-tempat atau jalanan yang sepi karena pada dasarnya kejahatan terjadi bukan karena niat tetapi karena ada kesempatan. Lalu sanksi apa yang tepat untuk para pelaku tersebut? Negara harus bisa memberikan sanksi yang bisa membuat para pelaku ekshibisionisme ini jera dan tidak melakukan perbuatannya lagi.

Namun dalam sistem kapitalis-sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sudah membuat masyarat bertindak bebas tanpa batas apalagi aturan dalam sistem tersebut buatan manusia. Maka wajar akan lahir manusia-manusia yang tidak takut akan dosa. Bentuk kemaksiatan dianggap hanya iseng belaka. Sanksi yang diberikan pun tidak memberikan efek jera.

Berbeda dalam sistem Islam aturannya yang lahir dari Sang Pencipta akan mengkondisikan lingkungan dengan aman dan nyaman. Segala bentuk kemaksiatan yang meresahkan rakyat akan ditindak sesuai syariat Islam. Begitu juga menetapkan hukuman untuk predator sesuai perincian fakta perbuatannya. Tidak boleh melaksanakan jenis hukuman di luar ketentuan syariat itu sendiri.

Segala jenis kemaksiatan apapun seperti perbuatan zina dilakukan oleh orang yang sudah nikah atau belum nikah akan dihukum sesuai syariat Islam. hukumannya adalah dirajam jika sudah muhshan (menikah) atau di cambuk seratus kali jika bukan muhshan. Begitu juga yang dilakukan adalah pelecehan seksual (termasuk di dalamnya pelaku ekshibisionisme) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual hukumannya ta’zir.

Ta’zīr adalah yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh hakim. Bentuk sanksinya bisa mulai dari yang paling ringan, seperti sekadar nasihat atau teguran dari hakim, bisa berupa penjara, denda, pengumuman pelaku di hadapan publik atau media massa. Seperti itulah sanksi yang ditetapkan dalam sistem Islam akan memberikan efek jera bagi para pelaku dan pencegah agar kemaksiatan itu tidak ditiru oleh orang lain.

Maka hanya dengan sistem Islam negara akan mampu memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh rakyat dari segala bentuk kejahatan apapun termasuk pelecehan seksual. Wallahu A’lam Bishawab.